Connect with us

Lifestyle

Ini Ciri-Ciri Orang yang Punya IQ Tinggi, Bisa Dilihat dari Kebiasaannya

Penelitian internasional mengungkap ciri orang dengan IQ tinggi, mulai dari kebiasaan membaca hingga pola tidur dan kreativitas.

Logompn

Published

on

Ini Ciri Ciri Orang yang Punya IQ Tinggi, Bisa Dilihat dari Kebiasaannya
Ini Ciri-Ciri Orang yang Punya IQ Tinggi, Bisa Dilihat dari Kebiasaannya. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 12 Februari 2026 - Intelligence quotient atau IQ menjadi ukuran yang digunakan untuk menilai tingkat kecerdasan seseorang, baik dalam aspek verbal, nonverbal, maupun kognitif.

Sejumlah penelitian dan kajian yang dipublikasikan dalam berbagai jurnal internasional menjelaskan bahwa IQ tidak selalu tercermin dari prestasi akademik semata, melainkan juga tampak dari kebiasaan, pola pikir, serta perilaku sehari-hari.

Berbagai studi yang dilakukan di Inggris, Amerika Serikat, Belanda, Swiss, Norwegia, dan sejumlah institusi pendidikan tinggi seperti Universitas Cornell, Universitas Minnesota, Universitas Groningen, Universitas North Carolina Chapel Hill, Goldsmiths University of London, serta Universitas Vanderbilt mengungkap karakteristik individu dengan IQ tinggi.

Penelitian-penelitian tersebut dilakukan dalam rentang tahun 1995 hingga 2021 dan melibatkan ribuan responden, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal seperti Personality and Individual Differences, Psychological Science, Developmental Psychology, Intelligence, Frontiers in Neuroscience, hingga Scandinavian Journal of Public Health menunjukkan bahwa IQ berkaitan dengan kebiasaan membaca sejak dini, rasa ingin tahu tinggi, pola tidur, kecemasan, kreativitas, hingga preferensi lingkungan kerja.

Berikut rangkuman ciri-ciri tersebut berdasarkan data dari beberapa penelitian.

Kebiasaan Bertanya dan Tidak Menerima Sesuatu Begitu Saja

Orang dengan IQ tinggi cenderung tidak langsung menerima informasi tanpa pemahaman mendalam. Mereka kerap mempertanyakan norma sosial, aturan, maupun tradisi.

Mereka juga merasa terganggu ketika sesuatu dianggap tidak masuk akal. Kebiasaan ini berkaitan dengan dorongan untuk memahami konsep baru dan memperluas wawasan.

Baca Juga:  10 Negara dengan IQ Tertinggi di Dunia, Ada Indonesia?

Selain itu, mereka tidak puas dengan obrolan ringan dan lebih tertarik pada diskusi kompleks yang menstimulasi pemikiran.

Dalam pengambilan keputusan, mereka cenderung berpikir panjang dan mengumpulkan informasi sebelum menyimpulkan sesuatu.

Kesadaran Diri dan Efek Dunning-Kruger

Fenomena psikologis yang dikenal sebagai efek Dunning-Kruger, berdasarkan studi Universitas Cornell oleh David Dunning dan Justin Kruger, menunjukkan bahwa individu dengan kemampuan rendah cenderung melebih-lebihkan kompetensinya, sedangkan individu dengan kemampuan tinggi justru menyadari keterbatasannya.

Sama halnya dengan yang dituliskan Shakespeare dalam karyanya.

“Orang bodoh mengira dirinya bijak, tetapi orang bijak tahu bahwa dirinya bodoh,” tulis Shakespeare, dikutip MPN Indonesia dari buku As You Like It pada Kamis, (12/2).

Studi tersebut menjelaskan bahwa keraguan terhadap kemampuan diri dapat mencerminkan kesadaran diri yang tinggi.

Membaca Sejak Dini

Studi tahun 2014 terhadap hampir 2.000 pasang kembar identik di Inggris menemukan bahwa anak yang belajar membaca lebih awal memperoleh skor lebih tinggi pada tes kemampuan kognitif.

Peneliti menyebutkan bahwa membaca sejak usia dini meningkatkan kemampuan verbal dan nonverbal.

Namun, makalah tahun 2017 menyebutkan bahwa faktor lingkungan dan genetik juga perlu diperhitungkan dalam menilai perbedaan kecerdasan tersebut.

Cenderung Banyak Khawatir

Penelitian tahun 2015 dalam jurnal Personality and Individual Differences terhadap 126 mahasiswa menunjukkan bahwa individu yang sering khawatir dan merenung memperoleh skor lebih tinggi pada pengukuran kecerdasan verbal.

Sementara itu, mereka yang tidak banyak khawatir cenderung lebih tinggi dalam kecerdasan nonverbal.

Studi tahun 2018 dalam jurnal Intelligence juga menemukan bahwa anggota Mensa lebih mungkin didiagnosis dengan gangguan suasana hati, ADHD, atau autisme dibandingkan rata-rata nasional.

Rasa Ingin Tahu Tinggi (Curiosity Quotient)

Tomas Chamorro-Premuzic, profesor psikologi bisnis di Universitas London, menjelaskan bahwa orang dengan rasa ingin tahu tinggi lebih toleran terhadap ambiguitas dan memiliki tingkat investasi intelektual lebih besar, yang berkontribusi terhadap pertumbuhan kognitif.

Baca Juga:  10 Negara dengan IQ Tertinggi di Dunia, Ada Indonesia?

“Curiosity Quotient (CQ) belum dipelajari sedalam EQ dan IQ, tetapi ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa CQ sama pentingnya dalam mengelola kompleksitas dalam dua cara utama,” tulisnya dalam Harvard Business Review.

Lingkungan Berantakan dan Kreativitas

Studi dalam jurnal Psychological Science oleh Kathleen Vohs dari Universitas Minnesota melibatkan 48 peserta yang diminta mencari kegunaan tidak biasa dari bola pingpong.

Sebanyak 24 peserta di ruangan berantakan menghasilkan respons lebih kreatif dibandingkan peserta di ruangan rapi.

Studi tahun 2015 dari Universitas Groningen juga menemukan bahwa lingkungan tidak teratur mendorong orientasi tujuan yang lebih jelas.

Pola Tidur dan Kebiasaan Begadang

Penelitian tahun 2009 oleh Satoshi Kanazawa dalam jurnal Personality and Individual Differences menemukan bahwa remaja dengan IQ lebih tinggi cenderung tidur lebih larut dan bangun lebih siang pada hari kerja maupun akhir pekan.

Studi tahun 2006 dari Universitas Katolik Milan juga menemukan bahwa individu yang bangun siang lebih cenderung menghasilkan solusi orisinal dan kreatif.

Aktivitas Musik dan Peningkatan Kognitif

Studi tahun 2018 di jurnal Frontiers in Neuroscience menunjukkan anak yang mendapat pelajaran musik terstruktur memiliki kinerja lebih baik dalam tes kecerdasan verbal, perencanaan, dan pengendalian diri.

Penelitian tahun 2011 di Psychological Science menemukan bahwa anak usia 4–6 tahun mengalami peningkatan kecerdasan verbal setelah kurang dari sebulan mengikuti pelajaran musik.

Studi tahun 2004 juga mencatat peningkatan IQ pada anak usia 6 tahun yang mengikuti les piano selama sembilan bulan.

Urutan Kelahiran

Penelitian dalam Journal of Human Resources menyebutkan anak sulung cenderung memiliki performa lebih baik dalam tes kognitif dibandingkan adiknya.

Makalah tahun 2017 dari National Bureau of Economic Research juga menemukan anak yang lebih tua 30% lebih mungkin menjadi CEO atau politisi.

Baca Juga:  10 Negara dengan IQ Tertinggi di Dunia, Ada Indonesia?

Kidal dan Pemikiran Divergen

Makalah tahun 1995 menemukan pria kidal memiliki skor lebih tinggi dalam berpikir divergen. Pemikiran divergen merupakan kemampuan menghasilkan ide baru dari satu pemicu, yang dikaitkan dengan kreativitas.

Humor dan Kecerdasan

Studi tahun 2011 dalam jurnal Intelligence terhadap 400 mahasiswa psikologi menemukan bahwa peserta dengan skor penalaran abstrak dan kecerdasan verbal lebih tinggi dinilai lebih lucu saat membuat keterangan kartun New Yorker oleh penilai independen.

Seluruh temuan tersebut menunjukkan bahwa IQ berkaitan dengan kebiasaan, preferensi, serta karakter tertentu dalam kehidupan sehari-hari.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending