Connect with us

Ekonomi

Saham BBCA Sentuh Level Terendah dalam 5 Tahun

Saham BBCA menyentuh level terendah dalam lima tahun terakhir di tengah pelemahan IHSG dan tekanan pada saham perbankan besar.

Logompn

Published

on

Saham BBCA Sentuh Level Terendah dalam 5 Tahun
Saham BBCA Sentuh Level Terendah dalam 5 Tahun. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 9 Juni 2026 - Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyentuh level terendah dalam lima tahun terakhir pada perdagangan Senin (8/6), di tengah tekanan yang juga melanda saham perbankan besar lainnya dan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pada perdagangan intraday pukul 09.10 WIB, saham BBCA melemah 4,04% ke Rp4.870, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) di Rp10.950 pada 23 September 2024.

Tekanan terhadap saham sektor perbankan terjadi seiring derasnya aksi jual dan arus keluar dana asing dari pasar modal Indonesia.

Pada hari yang sama, IHSG dibuka melemah di level 5.486 dan terus bergerak turun.

Hingga pukul 09.10 WIB, IHSG terperosok 4,38% atau 245,15 poin ke level 5.349.

Data Perdagangan dan Kapitalisasi Pasar

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), volume perdagangan mencapai 5,97 miliar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 380,91 ribu kali dan nilai transaksi Rp3,88 triliun, sementara kapitalisasi pasar tercatat Rp9.524 triliun.

Pelemahan ini terjadi terutama pada saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan dan konglomerasi.

Analis pasar modal Hendra Wardana menilai tekanan di pasar keuangan Indonesia mencerminkan proses penyesuaian risiko oleh investor global terhadap prospek investasi di dalam negeri.

“Pasar tidak hanya melihat prospek pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menilai tingkat risiko yang harus ditanggung investor. Saat ini perhatian utama tertuju pada kepastian arah kebijakan, keberlanjutan fiskal, stabilitas nilai tukar, dan kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar,” kata Hendra dalam keterangannya, dikutip MPN Indonesia melalui Katadata pada Selasa (9/6).

Baca Juga:  Harga Emas Antam Hari Ini 6 Desember 2025 Merosot Dikit!

Menurutnya, fenomena yang dikenal sebagai “Sell Indonesia” mencerminkan menurunnya keyakinan sebagian investor terhadap aset Indonesia dalam jangka pendek.

Pergerakan Saham BBCA dan Perbankan Besar

Selain BBCA, sejumlah saham perbankan besar lainnya juga mengalami pelemahan pada perdagangan pagi tersebut. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menyentuh level Rp2.620 atau merosot 4,38% pada pukul 09.14 WIB.

Sebelumnya, saham BBRI sempat berada di level tertinggi Rp6.400 pada 13 Maret 2024.

Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sempat menyentuh Rp3.060 atau anjlok 4,67%, sedangkan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 2,86% ke Rp3.730.

Berdasarkan data perdagangan BEI yang dirilis melalui RTI pada Senin (8/6), saham BBCA bahkan sempat menyentuh level Rp4.850 per saham sebelum bergerak di kisaran Rp5.075.

Hingga pukul 09.49 WIB, saham BBCA tercatat bergerak pada rentang Rp4.850 hingga Rp5.075 dengan harga terakhir Rp5.075 per saham.

Volume perdagangan mencapai 278,1 juta saham dengan nilai transaksi Rp1,37 triliun.

Jika melihat pergerakan dalam beberapa pekan terakhir, tekanan terhadap saham BBCA terlihat signifikan.

Pada 20 Mei 2026, saham BBCA berada di level Rp5.975 per saham. Selanjutnya, pergerakan penutupan tercatat:

  • Rp5.950 pada 21 Mei 2026
  • Rp5.900 pada 22 Mei 2026
  • Rp6.100 pada 25 Mei 2026
  • Rp5.975 pada 26 Mei 2026
  • Rp5.700 pada 29 Mei 2026
  • Rp5.825 pada 2 Juni 2026
  • Rp5.525 pada 3 Juni 2026
  • Rp5.425 pada 4 Juni 2026
  • Rp5.075 pada 5 Juni 2026

Penurunan dalam waktu relatif singkat tersebut membuat saham BBCA kembali ke kisaran harga yang pernah tercatat sekitar lima tahun lalu.

Arus Keluar Dana Asing dan Faktor Suku Bunga

Derasnya aksi jual investor asing menjadi salah satu faktor yang membebani saham BBCA dan saham perbankan lainnya.

Baca Juga:  Harga Emas Antam Hari Ini 29 September 2026 Makin Anjlok

Data menunjukkan nilai jual bersih atau net sell investor asing pada saham BBCA mencapai Rp31,34 triliun sepanjang 2026.

Sementara pada saham BBRI, net sell asing tercatat sebesar Rp9,57 triliun.

Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat kepemilikan investor asing di BBCA hingga akhir Mei 2026 turun 10,07% dibandingkan posisi akhir Desember 2025.

Saat ini, investor asing menguasai sekitar 36,91 miliar lembar saham BBCA.

Di sisi lain, kepemilikan asing di BBRI juga turun sekitar 6% menjadi 41,6 miliar lembar saham.

Fenomena keluarnya dana asing tersebut turut menekan saham perbankan yang selama ini menjadi pilihan utama dalam investasi global.

Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebut terdapat dua faktor utama yang membebani saham sektor perbankan, yakni kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia dan pelemahan nilai tukar rupiah.

“Sektor perbankan itu punya korelasi yang erat dengan makro ekonomi domestik. Pelemahan kurs rupiah akan memicu outflow investor asing,” kata Nafan, dikutip MPN Indonesia melalui Kontan.

Keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25% pada Mei 2026 disebut memunculkan kekhawatiran terhadap prospek industri perbankan sehingga memicu aksi jual di pasar.

Selain itu, pelemahan rupiah dinilai berpotensi mendorong arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia.

“Investor sebenarnya dapat menerima berbagai kebijakan baru selama arah, tujuan, dan tata kelolanya jelas. Namun pasar cenderung merespons negatif ketika muncul ketidakjelasan terkait implikasi fiskal jangka panjang, tata kelola aset negara, atau perubahan regulasi yang dianggap terlalu cepat,” ujar Hendra.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending