Connect with us

Lifestyle

Apa Itu Mandok Hata? Tradisi Malam Tahun Baru ala Suku Batak

Di tanah Batak, ada satu tradisi khas yang masih dijaga hingga kini, yaitu Mandok Hata. Yuk, kenali tradisi Mandok Hata yang biasanya dijalankan saat malam tahun baru!

Logompn

Published

on

Mengenal mandok hata, tradisi malam tahun baru ala suku batak
Mengenal Mandok Hata, Tradisi Malam Tahun Baru ala Suku Batak | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 28 Desember 2025 - Malam tahun baru biasanya identik dirayakan dengan pesta kembang api, hitung mundur, atau kumpul bareng teman.

Namun di tanah Batak, pergantian tahun punya nuansa yang berbeda dan jauh lebih hangat. Ada satu tradisi khas yang masih dijaga hingga kini, yaitu Mandok Hata.

Bukan sekadar kumpul keluarga, Mandok Hata adalah momen untuk saling berbicara dari hati ke hati, menyampaikan pesan, nasihat, harapan, bahkan evaluasi diri menjelang tahun yang baru.

Tradisi ini jadi cara orang Batak menutup tahun dengan refleksi dan membuka lembaran baru dengan niat yang lebih baik, bersama keluarga dan orang-orang terdekat.

Yuk, kenali lebih jauh soal tradisi ini!

Apa Itu Tradisi Mandok Hata?

Mengutip informasi dari laman resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, istilah “Mandok Hata” berasal dari bahasa Batak, dengan kata “mandok” yang berarti “mengucapkan” dan “hata” berarti “kata”.

Tradisi ini banyak dijalankan oleh Suku Batak beragama Kristen, khususnya di wilayah Sumatra Utara yang dalam praktiknya, menjadi sarana menyampaikan ucapan syukur, permintaan maaf, refleksi diri, dan harapan memasuki tahun yang baru.

Pelaksanaan tradisi ini berlangsung setelah ibadah gereja malam tahun baru. Usai pulang dari gereja, keluarga berkumpul di rumah, mengadakan makan malam bersama, bernyanyi, kemudian menunggu pergantian tahun.

Saat pukul 12 malam tiba, acara dilanjutkan dengan pesta kembang api, lalu dilanjutkan dengan ibadah malam tahun baru di rumah.

Setelah ibadah selesai, barulah acara Mandok Hata dimulai. Tradisi ini biasanya diawali oleh anggota keluarga paling muda dan ditutup oleh kepala keluarga.

Baca Juga:  Acara IPEMI jadi Momen Silaturahmi Pengusaha Muslimah se-Indonesia

Rangkaian Tradisi Mandok Hata

Tradisi Mandok Hata dilaksanakan dalam suasana kekeluargaan. Setiap anggota keluarga mendapatkan kesempatan berbicara secara berurutan, dimulai dari yang termuda hingga kepala keluarga.

Mandok Hata diisi dengan kegiatan seperti ucapan terima kasih, permintaan maaf, introspeksi diri, puji syukur, serta harapan atau resolusi di tahun baru. Dalam kesempatan ini, anggota keluarga yang lebih tua juga bisa memberikan nasihat kepada yang lebih muda.

Tradisi ini tidak hanya berlangsung dalam keluarga inti, tetapi juga bisa dilakukan dalam lingkup keluarga besar dari pihak ayah maupun ibu.

Setelah seluruh anggota keluarga menyampaikan Mandok Hata, acara diakhiri dengan bersalaman dan mengucapkan selamat tahun baru.

Mandok Hata menjadi momen penting, terutama bagi anggota keluarga yang sedang merantau. Tradisi ini sering dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk pulang kampung dan berkumpul dengan keluarga besar.

Dalam pelaksanaannya, Mandok Hata juga bisa menjadi ajang untuk menyampaikan unek-unek dan permintaan maaf secara terbuka di hadapan keluarga, bahkan tak jarang disertai suasana haru.

Contoh Kata-kata untuk Mandok Hata

Sebelum melaksanakan tradisi ini, biasanya anggota keluarga yang lebih muda menyiapkan kata-kata yang ingin disampaikan ke anggota keluarga lebih dulu.

Berikut adalah salah satu contoh kata-kata Mandok Hata dalam bahasa Batak:

“Di ujung taon on, hita dohot marsingkola roha. Adong dope angka sala naung tarbahen, adong dope angka hata na so maradophon. Alai di bagasan roha on, au mangido maaf tu amang, inang, dohot angka dongan sude. Sai jadi taon naung salpu on pelajaran na denggan tu hita saluhutna.

Di taon na baru on, au mangido pasu-pasu ni Debata tu hita saluhutna. Sai dilehon ma hamoraon di roha, pangalaho na denggan, dohot hahipason tu jabu on. Sai lam jala tangkas hita marsitangiangan, marsiurupan, jala marsiolongan di saluhutna angka parjuangan.

Sai dang tarputus ma holong ni roha di tongatonga ni hita. Sai jadi ma taon on taon na marhite kasih, dang marhite amarah. Jala molo adong parmasalahan na ro di ari na tu jolo, sai tarbahen ma hita marsada roha jala marsada pikir.”

Baca Juga:  Jelang Nataru 2024/2025, Sebanyak 11 Rute Mudik Gratis untuk 38 Ribu Penumpang Akan Disiapkan

Terjemahannya dalam bahasa Indonesia:

“Di akhir tahun ini, kita semua merenungkan hati. Masih ada kesalahan yang pernah dibuat, masih ada kata-kata yang mungkin menyakiti. Dari lubuk hati terdalam, aku meminta maaf kepada ayah, ibu, dan seluruh keluarga. Kiranya tahun yang berlalu ini menjadi pelajaran baik bagi kita semua.

Di tahun yang baru ini, aku memohon berkat Tuhan untuk kita semua. Semoga diberikan kekayaan hati, perilaku yang baik, dan kesehatan bagi keluarga ini. Kiranya kita selalu kuat dalam doa, saling menguatkan, dan saling menolong dalam setiap perjuangan hidup.

Semoga kasih di antara kita tidak pernah terputus. Biarlah tahun ini menjadi tahun yang dijalani dengan kasih, bukan dengan amarah. Dan jika kelak ada masalah yang datang, semoga kita bisa menghadapinya dengan satu hati dan satu pikiran.”

(ADN/NID/RAD)

Trending