Connect with us

Lifestyle

Hati-Hati! Ini Tanda Pasanganmu Punya Emosi Tak Stabil

Bingung bagaimana mengetahui ciri-ciri pasangan yang memiliki emosi tak stabil? Simak ulasannya berikut ini.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 06 19t113013.844
Hati-Hati! Ini Tanda Pasanganmu Punya Emosi Tak Stabil | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 19 Juni 2025 - Di awal hubungan, semua terasa menyenangkan. Saling mengerti, saling melengkapi. Namun seiring waktu, ada kalanya muncul gesekan kecil yang tak kunjung reda.

Bahkan, tak sedikit pasangan yang mulai menunjukkan perubahan sikap, termasuk gejala emosi yang tidak stabil.

Tanpa disadari, hal ini bisa menjadi awal dari hubungan yang toksik, bahkan kekerasan dalam hubungan.

Psikolog Prof. Dr. Sri Lestari, S.Psi., M.Si., mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan dalam hubungan bisa menciptakan ketegangan emosional serius.

Dalam situasi ini, kemampuan berpikir logis seseorang terganggu. Akibatnya, tindakan-tindakan negatif lebih mudah muncul.

“Kemampuan melakukan kontrol diri pun menurun, yang memudahkan munculnya perilaku agresif atau kekerasan,” jelas Sri kepada MPN Indonesia, Senin (16/6).

Ketika komunikasi dalam hubungan berubah menjadi saling menyalahkan, mengungkit masa lalu, atau bahkan saling menyerang secara verbal, situasi menjadi semakin rumit.

Tidak lagi ada ruang untuk saling memahami. Yang tertinggal hanyalah frustrasi dan perasaan tertekan.

Dalam kondisi ini, pihak yang merasa lebih kuat bisa cenderung menunjukkan dominasi atau bahkan kekerasan terhadap pasangan.

Kenali Tanda-Tanda Emosi Tak Stabil

Menjaga kesehatan mental dalam hubungan bukan hanya tentang menghindari pertengkaran, tetapi juga mengenali tanda-tanda awal ketidakstabilan emosi.

Prof. Sri menyebutkan beberapa ciri seseorang memiliki emosi yang tak stabil, di antaranya yaitu:

  • Emosi fluktuatif: mudah marah meski dipicu hal sepele, emosinya berubah-ubah dalam situasi sehari-hari
  • Mudah meluapkan amarah pada siapa saja
  • Sikap defensif berlebihan: tidak mau mengakui kesalahan dan cenderung menyalahkan orang lain.
  • Kurang empati: menuntut dimengerti tetapi enggan memahami kondisi pasangannya.
  • Tidak punya pendirian: mudah terpengaruh oleh komentar orang lain dan tidak konsisten
  • Ingin menang sendiri: selalu memaksakan kehendak orang lain dan tidak mau berdiskusi.
  • Menutup diri: enggan menceritakan apa yang sedang dirasakan atau dipikirkan.
Baca Juga:  Kepala Sekolah SMPN 18 Kota Malang Dicopot usai Diduga Tampar Siswa

Libatkan Lingkungan Sekitar untuk Keluar dari Hubungan Toxic

Sayangnya, banyak korban yang memiliki pasangan toksik dan memilih diam, menanggung konflik sendirian.

Padahal, menurut Sri, orang-orang di sekitar korban dapat memainkan peran penting dalam mencegah konflik memburuk.

Keluarga bisa mulai dengan bersikap peduli, menjadi pendengar yang baik, hingga membantu mempertemukan pasangan untuk mencari solusi bersama.

Yang terpenting, bukan soal mencari siapa yang salah, tapi bagaimana mengembalikan keharmonisan.

Tetangga dan teman terdekat pun bisa berkontribusi, misalnya dengan tetap menyapa, mengajak berbicara, dan tidak menjadikan konflik orang lain sebagai gosip.

Waspadai Sejak Dini

Hubungan yang sehat bukan hanya soal cinta dan kebersamaan, tapi juga tentang keseimbangan emosi, saling pengertian, dan keberanian mencari bantuan saat dibutuhkan.

Bila pasangan Anda menunjukkan gejala emosi tak stabil seperti di atas, jangan abaikan.

Bicara, minta bantuan, dan cari jalan keluar. Karena cinta yang sehat tidak menyakiti—secara fisik maupun batin.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending