Lifestyle
Mengenal ADHD pada Anak: Gejala, Penanganan, dan Peran Orang Tua
Kenali gejala ADHD pada anak sejak dini, mulai dari inatensi hingga impulsif, serta cara penanganan yang tepat agar tumbuh kembang anak tetap optimal.
MPN Indonesia 24 Juni 2025 - Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan kesehatan mental yang sering terjadi pada anak-anak.
Kondisi ini ditandai oleh kesulitan memusatkan perhatian, perilaku hiperaktif, dan tindakan impulsif yang biasanya muncul sebelum usia 7 hingga 12 tahun.
Anak-anak dengan ADHD kerap menunjukkan perilaku yang mengganggu rutinitas sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah.
Terdapat tiga karakteristik utama ADHD, yaitu inatensi (sulit mempertahankan fokus), hiperaktif (tidak bisa diam), dan impulsif (bertindak tanpa berpikir panjang).
Gejala inatensi meliputi kesulitan mengikuti instruksi, sering kehilangan barang, serta tampak tidak mendengarkan.
Gejala hiperaktif antara lain ketidakmampuan duduk diam, sering berlari tanpa kendali, dan berbicara berlebihan.
Sementara gejala impulsif ditandai dengan menjawab sebelum pertanyaan selesai, memotong pembicaraan, serta sulit menunggu giliran.
Gejala dan Ciri-Ciri ADHD pada Anak
Dikutip MPN Indonesia melalui laman resmi Kemenkes, ADHD dapat dikenali melalui tiga kategori gejala utama, sebagai berikut:
- Inatensi: sulit fokus, tidak memperhatikan detail, sering kehilangan barang, dan tampak tidak mendengarkan.
- Hiperaktif: tidak bisa diam, tampak gelisah, sering memanjat atau berlari, serta berbicara berlebihan.
- Impulsif: menjawab sebelum selesai ditanya, memotong pembicaraan, dan kesulitan menunggu giliran.
Anak dengan ADHD bisa menunjukkan satu atau lebih dari gejala tersebut.
Deteksi dini penting agar penanganan bisa dilakukan secepatnya dan mencegah dampak yang lebih serius di masa mendatang.
Metode Penanganan ADHD
Penanganan ADHD dapat dilakukan melalui dua pendekatan utama, yaitu terapi farmakologi dan non farmakologi.
- Terapi farmakologi menggunakan obat-obatan seperti methylphenidate dan amphetamine sulphate, serta obat non-stimulan seperti atomoxetine, untuk membantu mengurangi gejala hiperaktif, impulsif, dan kesulitan fokus.
- Terapi non farmakologi mencakup metode seperti neurofeedback dan terapi kognitif perilaku, yang bertujuan melatih kemampuan otak anak dalam mengatur perilaku dan meningkatkan konsentrasi.
Beragam pilihan terapi ini memungkinkan penanganan yang lebih tepat sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing anak.
Pendekatan yang tepat sering kali melibatkan kombinasi dari kedua metode tersebut, disertai dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar.
Strategi Penanganan ADHD di Rumah
Beberapa langkah yang bisa diterapkan orang tua untuk mendukung anak dengan ADHD antara lain:
- Memberikan instruksi yang jelas, singkat, dan spesifik.
- Menggunakan panduan visual atau daftar tugas yang mudah dipahami.
- Menjaga jadwal olahraga dan kegiatan fisik secara rutin.
- Menerapkan pola makan sehat dan waktu tidur yang teratur.
- Menjalin komunikasi terbuka dan memberikan apresiasi atas pencapaian anak.
- Menggunakan strategi belajar sesuai gaya belajar anak, seperti visual, auditori, atau kinestetik.
Langkah awal yang penting adalah melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala agar penanganan dapat diberikan oleh tenaga medis yang kompeten.
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
