Connect with us

Olahraga

Eks Gelandang Real Madrid Lassana Diarra Gugat FIFA Rp1,2 Triliun

Mantan gelandang timnas Prancis, Lassana Diarra, resmi menggugat FIFA dan Federasi Sepak Bola Belgia.

Logompn

Published

on

Eks gelandang real madrid lassana diarra gugat fifa rp 1,2 triliun
Eks Gelandang Real Madrid Lassana Diarra Gugat FIFA Rp 1,2 Triliun | Gambar: AFP

MPN Indonesia 21 Agustus 2025 - Mantan gelandang timnas Prancis sekaligus eks pemain klub Real Madrid dan Chelsea, Lassana Diarra, resmi menggugat FIFA dan Federasi Sepak Bola Belgia.

Gugatan ini diajukan sebagai tuntutan kompensasi atas kerugian yang ia alami, dengan nilai sebesar €65 juta atau sekitar Rp1,2 triliun, berdasarkan laporan Arab News.

Pengajuan gugatan ini merupakan kelanjutan dari konflik kontrak yang melibatkan Diarra sejak tahun 2014, yang berdampak besar pada karier profesionalnya di dunia sepak bola.

Duduk Perkara

Permasalahan bermula saat Diarra berselisih dengan klub Rusia, Lokomotiv Moscow, yang kemudian memutus kontraknya setelah sang pemain menolak pemotongan gaji.

FIFA memutuskan Diarra bersalah dan mewajibkan dia membayar kompensasi €10 juta kepada klub tersebut.

Selain itu, ia juga dikenai sanksi berupa skorsing selama 15 bulan dan tidak diizinkan bermain untuk klub lain sampai konflik selesai.

Sanksi ini menyebabkan Diarra kehilangan kesempatan bermain secara profesional selama 11 bulan, bahkan klub Belgia, Charleroi, yang sempat berminat merekrutnya, membatalkan rencana tersebut.

Pasalnya, aturan FIFA mewajibkan pembayaran kompensasi kepada Lokomotiv terlebih dahulu.

Dalam pernyataan resmi dari firma hukum Dupont Hissel yang mewakili Diarra, disebutkan bahwa ia menuntut kompensasi sebesar €65 juta bruto (€35 juta bersih) dari FIFA dan Federasi Sepak Bola Belgia.

Diarra mengajukan tuntutan ini dengan dasar hukum ketenagakerjaan Uni Eropa, yang menjamin kebebasan individu untuk bekerja di seluruh negara anggota tanpa batasan.

Ia menyatakan bahwa perjuangan hukum ini dilakukan untuk dirinya sendiri dan para pemain lain yang tidak memiliki sarana untuk menuntut keadilan terhadap regulasi FIFA.

Baca Juga:  Peringkat Tim Piala AFF 2026 di FIFA, Siapa Paling Unggul?

“Tapi saya juga melakukannya untuk semua pemain yang sudah datang dan lebih dulu, yang tidak memiliki sarana keuangan dan psikologis, untuk menantang FIFA di hadapan hakim sesungguhnya,” tegas Diarra.

Putusan CJEU

Tuntutan hukum yang diajukan oleh Diarra mengacu pada putusan Pengadilan Kehakiman Uni Eropa (Court of Justice of the European Union/CJEU) pada Oktober 2024.

Dalam putusan tersebut, CJEU menyatakan bahwa aturan FIFA telah menghambat kebebasan bergerak pemain secara tidak proporsional, khususnya dalam kasus penolakan penerbitan Sertifikat Transfer Internasional (ITC) yang dialami Diarra saat hendak bergabung dengan Charleroi.

CJEU menilai bahwa regulasi transfer FIFA bertentangan dengan hukum persaingan dan ketenagakerjaan Uni Eropa karena membatasi kompetisi dan mobilitas pemain di dalam pasar tenaga kerja Eropa.

Setelah upaya penyelesaian damai dengan FIFA gagal, Diarra kembali menempuh jalur hukum di pengadilan Belgia untuk menuntut ganti rugi secara formal.

Diarra Didukung Serikat Pemain Internasional

FIFPRO, serikat pemain internasional, menyatakan dukungan penuh terhadap Diarra.

Organisasi ini menilai kasus Diarra menyentuh kepentingan lebih luas bagi para pemain profesional, terutama mereka yang tidak memiliki akses terhadap bantuan hukum atau dukungan keuangan dalam menghadapi federasi sepak bola besar seperti FIFA.

FIFA sendiri menyatakan bahwa mereka telah merevisi sebagian peraturan transfer pemain pada Desember 2024 menyusul putusan CJEU.

Namun, Diarra menyatakan bahwa perubahan tersebut masih belum menjawab masalah mendasar yang ia gugat.

Kelompok pemain asal Belanda, Justice for Players (JfP), juga mengajukan class action yang mewakili 100 ribu pemain, menuntut kompensasi atas hilangnya pendapatan akibat peraturan transfer yang dianggap terlalu menekan.

(AKM/NID/RAD)

Trending