Connect with us

Politik

MUI Sampaikan Keberatan atas Rencana Prabowo Evakuasi 1000 Warga Gaza ke Indonesia

MUI menyatakan keberatan atas rencana Prabowo evakuasi warga Gaza ke Indonesia.

Logompn

Published

on

Mui sampaikan keberatan atas rencana prabowo evakuasi 1000 warga gaza ke indonesia
Ketua MUI KH Cholil Nafis menilai rencana evakuasi warga Gaza oleh Prabowo berisiko. Gambar : Instagram/@cholilnafis

MPN Indonesia 13 April 2025 - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan keberatan terhadap rencana Presiden terpilih Prabowo Subianto untuk mengevakuasi 1.000 warga Gaza ke Indonesia sebagai bagian dari program bantuan kemanusiaan. 

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis, melalui akun Instagram pribadinya pada Jumat (11/4).

KH Cholil Nafis menegaskan bahwa MUI tidak sepakat dengan langkah evakuasi tersebut. Menurutnya, fokus utama bantuan kemanusiaan seharusnya bukan dengan memindahkan warga Gaza dari tanah mereka, melainkan dengan mendorong penghentian agresi militer oleh Israel terhadap Palestina.

“Saya tidak setuju evakuasi (1000) warga Gaza ke Indonesia karena masalahnya bukan warga Gaza, tapi karena Israel yang menyerang dan tak patuh perjanjian,” ujar KH Cholil Nafis, dikutip MPN Indonesia dari Instagram Stories pribadinya pada Minggu (13/4).

Pertanyakan Jaminan Kepulangan Warga Gaza

Lebih lanjut, KH Cholil Nafis mempertanyakan apakah ada jaminan bagi warga Gaza yang dievakuasi ke Indonesia untuk dapat kembali ke tanah air mereka. Ia menilai bahwa pemindahan tersebut dapat berisiko memperkuat dominasi Israel di wilayah Palestina.

“Apa ada jaminan mereka warga Gaza yang keluar bisa balik lagi? Bukankah mereka sengaja dikeluarkan untuk memasukkan Israel ke Palestina,” tegasnya.

KH Cholil Nafis  juga mengungkapkan bahwa banyak warga yang tinggal di sekitar Palestina saat ini mengalami kesulitan untuk kembali ke rumah mereka. Hal ini, menurutnya, menunjukkan bahwa pemindahan warga Palestina keluar dari wilayah konflik bukanlah solusi ideal.

Usulan Alternatif Bantuan Kemanusiaan

Sebagai alternatif dari evakuasi, KH Cholil Nafis menyarankan agar bantuan kemanusiaan lebih difokuskan pada penyediaan pengobatan di wilayah terdekat dari Gaza. Ia menyebut bahwa anak-anak dan lansia yang menjadi korban konflik lebih baik dirawat di lokasi yang berdekatan dibandingkan dipindahkan ke negara yang jauh seperti Indonesia.

Baca Juga:  Baru Terserap Rp5 Triliun, Prabowo Siapkan Perpres Percepatan MBG

“Kalau itu yang akan dievakuasi anak-anak dan orang tua, bukankah diobati di tempat terdekat itu lebih baik. Sebagai Muslim dan manusia tentu kita simpati dan empati kepada warga Palestina, tapi caranya bukan mereka dijauhkan dan dikeluarkan dari negaranya,” ungkap KH Cholil Nafis.

KH Cholil Nafis juga mengajak pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk lebih aktif dalam upaya perdamaian serta memberikan bantuan medis di lokasi konflik.

Kekhawatiran terhadap Dampak Evakuasi

Dalam pernyataannya, KH Cholil menegaskan bahwa pemindahan warga Gaza ke negara lain, termasuk ke Indonesia, justru dapat mempercepat proses invasi Israel terhadap Palestina. Ia mengkhawatirkan bahwa evakuasi tersebut akan dijadikan dalih untuk memperluas pendudukan Israel di tanah Palestina.

“Mengeluarkan mereka dari negerinya apalagi ke tempat yang jauh dengan dalih apa pun malah akan memuluskan invasi Israel ke Palestina. Terbukti Tanah Palestina makin hari terus mengecil karena dijajah dan dirampas oleh Israel,” tambahnya.

Rencana evakuasi warga Gaza ke Indonesia merupakan bagian dari upaya bantuan kemanusiaan yang dicanangkan Prabowo Subianto di tengah konflik berkepanjangan di wilayah Gaza. 

Namun, Majelis Ulama Indonesia, melalui pernyataan KH Cholil Nafis, menekankan bahwa bentuk bantuan yang paling tepat adalah dengan menjaga keberadaan warga Palestina di tanah mereka sendiri serta mendesak Israel untuk menghentikan agresi.

Dalam perdebatan mengenai bantuan kemanusiaan untuk Gaza, kata kunci seperti prabowo subianto, majelis ulama indonesia, mui, gaza, dan bantuan kemanusiaan menjadi pusat perhatian seiring meningkatnya eskalasi konflik dan keprihatinan terhadap nasib warga sipil Palestina.

(ADN/NID/RAD)

Trending