Connect with us

Politik

Prabowo Telepon Pangeran Arab Saudi, Serukan Penghentian Konflik Timur Tengah

Presiden Prabowo Subianto berbicara dengan Pangeran Mohammed bin Salman mengenai eskalasi konflik Timur Tengah dan menyerukan penghentian aksi militer.

Logompn

Published

on

Prabowo Telepon Pangerang Arab Saudi, Serukan Penghentian Konflik Timur Tengah
Prabowo Telepon Pangerang Arab Saudi, Serukan Penghentian Konflik Timur Tengah. Gambar: X/@KSAmofaEN

MPN Indonesia 13 Maret 2026 - Presiden Indonesia Prabowo Subianto melakukan percakapan telepon dengan Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Kerajaan Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), pada Rabu (11/3).

Komunikasi ini membahas perkembangan terbaru konflik internasional di kawasan Timur Tengah, khususnya eskalasi militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

“Yang Mulia Putra Mahkota berdiskusi melalui telepon dengan Presiden Indonesia mengenai perkembangan eskalasi militer di kawasan tersebut dan dampaknya yang serius terhadap keamanan dan stabilitas regional dan internasional,” tulis akun X resmi @KSAmofaEN, dikutip MPN Indonesia pada Jumat, (13/3).

Dalam percakapan tersebut, Prabowo Subianto menyerukan penghentian segera terhadap aksi militer yang terjadi di wilayah tersebut.

Pernyataan ini disampaikan menyusul meningkatnya kekhawatiran atas dampak serius konflik terhadap stabilitas regional dan internasional.

“Presiden Indonesia menekankan perlunya penghentian segera aksi militer di kawasan tersebut, dan memperingatkan bahwa tindakan tersebut akan merusak keamanan dan stabilitas kawasan,” demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, Kamis (12/3).

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi juga mencatat bahwa Pangeran Mohammed bin Salman dan Presiden Prabowo Subianto secara bersama-sama meninjau situasi eskalasi militer di Asia Barat dan dampaknya terhadap keamanan global.

Tanggapan Indonesia terhadap Konflik di Timur Tengah

Langkah diplomatik Prabowo Subianto ini merupakan bagian dari respons Indonesia terhadap meningkatnya ketegangan di Timur Tengah akibat konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.

Iran dilaporkan telah melancarkan sejumlah serangan ke kawasan Teluk, termasuk serangan terhadap dua kapal tanker minyak di perairan Irak pada Rabu (11/3) malam.

Dikutip MPN Indonesia melalui laporan CNN International, serangan tersebut menewaskan satu awak kapal, sementara puluhan awak lainnya berhasil diselamatkan.

Baca Juga:  Prabowo Tiba di Paris, Disambut oleh Kehormatan Militer Prancis

Direktur Jenderal Perusahaan Pelabuhan Irak, Farhan al-Fartousi, menyatakan bahwa seluruh korban selamat merupakan warga negara asing.

Kepala media Komando Operasi Gabungan Irak, Letnan Jenderal Saad Maan, mengutuk kejadian ini sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negaranya.

Iran melalui stasiun penyiaran IRIB mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, yang dilakukan dengan menggunakan drone bawah laut yang meledakkan dua kapal di Teluk Persia.

Sumber keamanan Irak juga menduga serangan berasal dari kapal Iran yang dipasangi bahan peledak.

Upaya Diplomasi Tambahan oleh Pemerintah Indonesia

Sebelum komunikasi antara Prabowo Subianto dan Mohammed bin Salman, Indonesia telah mengambil langkah diplomasi melalui pertemuan antara Menteri Luar Negeri RI dengan para duta besar negara-negara Teluk (GCC) dan Yordania di Jakarta pada Senin (9/3).

Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan dari:

  • Bahrain
  • Arab Saudi
  • Oman
  • Yordania
  • Perserikatan Emirat Arab
  • Kuwait
  • Qatar

Pertemuan yang diprakarsai oleh Duta Besar Bahrain selaku pemegang presidensi GCC itu membahas eskalasi keamanan di kawasan serta kesiapan Indonesia berkontribusi secara konstruktif terhadap perdamaian.

Dalam pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri RI menyampaikan keprihatinan Indonesia terhadap ketegangan yang meningkat dan menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri serta mengutamakan dialog.

“Dalam pertemuan tersebut, Indonesia juga menegaskan kesiapan untuk berkontribusi secara konstruktif dalam upaya perdamaian, termasuk sebagai honest broker, untuk memfasilitasi dialog apabila disepakati oleh pihak-pihak terkait,” jelas keterangan resmi Kemlu RI.

Selain itu, pemerintah Indonesia memberikan perhatian khusus terhadap keselamatan sekitar 495.000 WNI yang berada di negara-negara GCC dan Yordania.

Indonesia juga berharap pemerintah-pemerintah setempat dapat memberikan dukungan dalam upaya perlindungan terhadap warga negara Indonesia di wilayah tersebut.

(AKM/NID/RAD)

Trending