Connect with us

Viral

Dituduh Buang Sampah, Siswa SMP di Lumajang Diduga Dibully-Dianiaya hingga Tewas

Siswa SMP di Lumajang meninggal diduga akibat bullying di sekolah. Polisi menetapkan satu teman sekelas sebagai tersangka dan masih menyelidiki pelaku lain.

Logompn

Published

on

Dituduh Buang Sampah, Siswa SMP di Lumajang Diduga Dibully Dianiaya hingga Tewas
Ilustrasi siswa SMP. Gambar: Ilustrasi Canva

Jawa Timur, MPN Indonesia 2 Juli 2026 - Seorang siswa SMP PGRI Sukodono, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, berinisial MI atau IL (16), meninggal dunia setelah diduga menjadi korban bullying dan penganiayaan oleh teman sekelasnya.

Korban meninggal dunia di RSUD dr. Haryoto Lumajang pada Rabu (24/6), sekitar satu bulan setelah kejadian.

Polres Lumajang telah menetapkan satu anak berinisial S atau D sebagai tersangka atau Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) dalam kasus tersebut.

Kronologi Dugaan Bullying di Ruang Kelas

Berdasarkan keterangan polisi, kejadian terjadi pada 18 Mei 2026 sekitar pukul 10.00 WIB di ruang kelas SMP PGRI Sukodono.

Dugaan bullying bermula ketika ada sampah di sekitar loker meja korban, lalu korban diminta membersihkannya.

Korban menolak karena merasa bukan dirinya yang membuang sampah tersebut.

“Adik saya waktu itu di kelas sendirian. Dua pelaku mendatangi adik saya, menegur soal sampah di bawah meja, lalu langsung dipukuli,” ujar kakak korban, Ahmad Dani, dikutip MPN Indonesia melalui Kompas.com pada Kamis (2/7).

Setelah itu, korban diduga diminta duduk di kursi dekat dinding kelas sebelum dipukul oleh teman sekelasnya.

Kasubsi Humas Polres Lumajang Ipda Suprapto menjelaskan bahwa salah satu terlapor memukul korban menggunakan tangan kanan.

“Terlapor memukuli korban menggunakan tangan kanannya dengan kondisi mengepal sebanyak tiga kali,” kata Ipda Suprapto, Selasa (30/6).

“Pukulan pertama mengarah ke bagian dada, pukulan kedua mengarah ke bagian lengan, dan yang terakhir mengarah ke bibir hingga kepala korban terdorong ke belakang dan membentur dinding kelas,” ungkapnya.

Baca Juga:  Curhat Lukisannya Raib Dijarah Massa, Sri Mulyani: Lenyap seperti Rasa Aman

Setelah kejadian, korban mengalami luka di bagian bibir dan mengeluhkan pusing.

Korban Sempat Melapor ke Guru

Usai kejadian, korban mendatangi ruang guru sambil menangis untuk melaporkan dugaan penganiayaan yang dialaminya.

Kepala SMP PGRI Sukodono Yunita Wahyuningsih mengatakan pihak sekolah memanggil terduga pelaku dan memberikan teguran.

Keesokan harinya, pihak sekolah mempertemukan keluarga korban dan keluarga terduga pelaku untuk mediasi.

“Korban datang ke kantor sambil menangis mengadu, langsung kita tegur, dan besoknya kita panggil orang tuanya dilakukan mediasi,” kata Yunita.

Kondisi Korban Memburuk

Korban sempat tetap menyelesaikan ujian setelah kejadian, tetapi beberapa waktu kemudian mengeluhkan sakit di kepala bagian belakang dan pembengkakan pada bibir.

Kondisinya kemudian menurun hingga mengalami pendarahan pada gigi. Korban dilarikan ke RSUD dr. Haryoto Lumajang pada Senin (22/6).

Setelah menjalani perawatan, korban dinyatakan meninggal dunia pada Rabu (24/6).

Berdasarkan keterangan keluarga, hasil otopsi dan visum menunjukkan adanya luka benturan di kepala.

“Kalau hasil otopsi dan visum itu penyebabnya ada luka benturan di kepala dan itu keterangan dokternya sudah lama terjadi pada korban,” kata Ahmad Dani.

Polisi Tetapkan Satu Anak sebagai Tersangka

Keluarga korban melaporkan perkara tersebut ke Mapolres Lumajang pada Rabu (24/6), hari yang sama saat korban meninggal dunia.

Setelah laporan diterima, Unit PPA Satreskrim Polres Lumajang mengamankan satu anak yang merupakan teman sekelas korban.

“Terduga pelaku sementara satu orang diamankan oleh PPA Polres Lumajang, statusnya sudah tersangka,” jelas Ipda Suprapto.

Polisi menyebut motif sementara dalam perkara ini berkaitan dengan bullying di lingkungan sekolah.

“Motifnya saat ini yang kita ketahui bullying di lingkungan sekolah,” katanya.

“Untuk kemungkinan pelaku lain masih dalam penyelidikan unit PPA,” pungkasnya.

Baca Juga:  Jasad Pria 35 Tahun Ditemukan di Hotel Pontianak, Sabu dan Ekstasi Disita Polisi

Respons Pemerintah Setempat

Bupati Lumajang Indah Amperawati menyampaikan bahwa pemerintah daerah akan mengevaluasi pihak sekolah, yayasan, dan guru yang bertugas saat kejadian.

“Pertama kami prihatin atas musibah yang dialami korban, ini akan segera kita evaluasi nanti kita panggil kepala sekolah dan karena ini swasta, yayasan dan guru juga kita panggil,” tegas Indah, Selasa (30/6).

“Ini ranahnya Polres untuk menangani kasusnya, tapi saya sampaikan akan mengawal kasus hukumnya hingga tuntas,” kata Indah.

Pemerintah Kabupaten Lumajang melalui Dinas Sosial juga akan memaksimalkan fungsi perlindungan anak untuk pendampingan kepada keluarga korban dan terduga pelaku.

“Pemkab ada fungsi perlindungan anak yang ini akan kita fungsikan dengan maksimal, kami harap ini yang terakhir dan tidak ada lagi kasus bullying di Lumajang,” ujarnya.

(AKM/NID/RAD)

Trending