Connect with us

Selebriti

Curhat saat Awal Tahu Putrinya Berkebutuhan Khusus, Shireen Sungkar: Aku Nyalahin Diri Aku Banyak Banget

Shireen Sungkar mengungkap perjalanan emosional saat putri bungsunya didiagnosis autisme setelah melalui serangkaian pemeriksaan.

Logompn

Published

on

Curhat saat Awal Tahu Putrinya Berkebutuhan Khusus, Shireen Sungkar: Aku Nyalahin Diri Aku Banyak Banget
Curhat saat Awal Tahu Putrinya Berkebutuhan Khusus, Shireen Sungkar: Aku Nyalahin Diri Aku Banyak Banget. Gambar: Instagram/@shireensungkar

MPN Indonesia 6 Juli 2026 - Shireen Sungkar mengungkapkan pengalaman awal saat mengetahui putri bungsunya, Cut Shafiyyah Mecca Al Fatih, didiagnosis autisme setelah melalui serangkaian pemeriksaan.

Hal ini disampaikan Shireen bersama suaminya, Teuku Wisnu, melalui podcast Ruang Bertumbuh with Shireen yang diunggah pada Minggu (28/6).

Dalam pengakuannya, Shireen menyebut dirinya sempat mengalami kebingungan dan tekanan emosional setelah menerima hasil diagnosis tersebut.

Ia juga mengungkapkan perasaan menyalahkan diri sendiri atas kondisi yang dialami anaknya.

“Sebagai orang tua juga, ‘Kenapa, ya?’. Aku nyalahin diriku banyak banget, ‘Apa aku salah makan pas hamil? Apa aku stres pas hamil? Apa aku salah ngedidiknya?’ Aku nyalahin akunya banyak banget,” ujarnya, dikutip MPN Indonesia melalui kanal YouTube The Sungkars pada Senin (6/7).

Proses Mengetahui Kondisi Anak

Dalam perjalanan awal, Shireen Sungkar dan Teuku Wisnu menyebut perkembangan Shafiyyah terlihat normal sejak usia 0 hingga 2 tahun.

Namun, terdapat keterlambatan bicara yang mulai terlihat.

“Jadi, Shafiyyah itu dari 0 sampai 2 tahun menurut kita fine. Memang speech delay aja, kosakatanya ada. Usia 0 sampai 2 tahun tuh light banget kelihatannya,” kata Shireen.

Seiring waktu, perubahan perilaku mulai terlihat ketika anak tersebut lebih sering menyendiri dan tidak tertarik bermain bersama anak lain.

“Tapi memang ada momen yang akhirnya Shafiyyah itu lama-lama enggak mau main bareng ya. Kalau aku ajari dia menghindar, lebih suka melakukan apa-apa sendiri gitu,” ungkapnya.

Kondisi tersebut semakin terlihat saat masa pandemi COVID-19 ketika aktivitas anak terbatas di rumah.

“Paling parah waktu itu COVID-19. Waktu itu dia (Shafiyyah) enggak beraktivitas di luar. Kelas-kelasnya berhenti, terus enggak ada main di playground, enggak ada kegiatan apa-apa, main di rumah, dan dia tuh anaknya enggak gadget,” ujarnya.

Baca Juga:  Ayah Jerome Polin Meninggal Dunia, Diduga karena Penyumbatan Usus dan Paru-paru

Selain itu, Teuku Wisnu juga mulai menyadari adanya perbedaan perilaku, terutama dalam interaksi sosial.

“Sampai di fase umur berapa aku ngerasa agak ngeganjel ya. Ini kayak ada yang janggal deh nih dari Dek Sya. Kenapa ya kalau kita bercandain atau ngobrol gitu kayak enggak mau lihat mata kita,” jelasnya.

“Kayak hidup dalam bubble-nya sendiri,” imbuh Shireen.

Diagnosis dan Reaksi Awal

Teuku Wisnu mengaku sempat menganggap perilaku anaknya masih dalam batas wajar dan tidak langsung mencurigai adanya kondisi khusus.

“Sebenernya Shireen udah sempat bilang sama aku, ‘Yang, kenapa ya, Dek Sya itu enggak mau tempat-tempat yang ramai? Terus dia seperti menghindar kalau di tempat ramai?’ Aku awalnya jawab simpel, ya mungkin dia pemalu. Dia kan cewek nih, anak cewek ya. Bagus dong anak cewek punya rasa malu yang besar,” kata Teuku Wisnu.

“Nah, yang membuat aku tambah yakin dia enggak kenapa-kenapa adalah ketika kita cek beberapa dokter bilang enggak autis lo,” tambahnya.

Setelah melalui pemeriksaan lebih lanjut ke psikolog, pasangan ini akhirnya mendapatkan diagnosis autisme pada anak mereka.

“Aku ingat banget 2 tahun 8 bulan itu diagnosisnya belum keluar. Akhirnya umur 3 tahun barulah ada diagnosis (autisme) gitu,” ujar Shireen.

Mendengar hasil tersebut, Shireen mengaku kesulitan memahami kondisi yang dihadapi.

“Waktu itu kayak bingung mencernanya, autis itu apa, harus ngapain, terapinya seperti apa?” ujarnya.

Proses Penerimaan dan Dukungan

Dalam proses menerima kondisi anak, Shireen Sungkar menyebut dukungan lingkungan dan orang sekitar menjadi faktor penting.

“Aku merasa di situ pentingnya dukungan lingkungan dan guru. Karena untuk menerima takdir itu enggak mudah ya,” ujarnya.

Ia juga sempat berdiskusi dengan seorang ustaz untuk mencari pandangan.

Baca Juga:  Sempat Nyerah Cari Jodoh, Luna Maya: Mungkin Pernikahan Bukan untuk Diriku

“Aku bicara sama ustaz, ‘Gimana ya, ustaz, supaya saya tuh nerima, saya mau berjuang gitu. Terus enggak sedih melihat anak-anak seumuran Shafiyyah sudah bisa bicara, seumurannya bisa main’,” katanya.

Dari percakapan tersebut, ia mendapatkan pandangan lain.

“Tapi MasyaAllah ustaz waktu itu bilang, ‘Kita manusia itu cuma bisa berencana. Allah yang kasih takdir. Kamu dikasih surga di depan mata, kenapa kamu harus pusing sama masa depan anak ketika Allah itu sudah menakdirkan anaknya?'” ujar Shireen.

Dalam perjalanan tersebut, ia mengaku mengalami berbagai fase emosi.

“Aku tuh hatinya naik turun ngurusin Shafiyyah. Banyaklah fase-fase yang aku bersyukur, tapi banyak juga fase-fase aku sedih,” tuturnya.

Iya pun kemudian memilih untuk mengambil hikmah dari situasi yang ia alami.

“Allah tuh baik banget. Allah ngasih pintu surga depan mata. Orang tua kita masih hidup dua-duanya. Mama stroke udah lama banget gitu. Terus Allah nambah lagi nih kotak apa pintu surga depan mata dikasih anak spesial,” ujar Shireen.

(ELG/NID/RAD)

Trending