Teknologi
Ilmuwan Temukan Planet LHS 1140b, Mirip Bumi dan Layak Huni
Ilmuwan melaporkan deteksi atmosfer pada LHS 1140b, planet berbatu di zona layak huni sekitar 48 tahun cahaya dari Bumi.
MPN Indonesia 20 Juli 2026 - Ilmuwan dari Harvard University bersama tim peneliti internasional melaporkan penemuan atmosfer pada planet berbatu bernama LHS 1140b yang berada di luar tata surya, sekitar 48–50 tahun cahaya dari Bumi di konstelasi Cetus.
Penelitian ini dilakukan melalui pengamatan menggunakan teleskop seperti James Webb Space Telescope (JWST) dan instrumen lain, serta dipublikasikan dalam jurnal Science.
Penemuan ini menjadi penting karena untuk pertama kalinya atmosfer terdeteksi secara langsung pada planet berbatu yang berada di zona layak huni, yaitu wilayah di sekitar bintang tempat air cair berpotensi ada di permukaan.
Planet LHS 1140b diketahui mengorbit bintang katai merah dengan kondisi suhu yang memungkinkan keberadaan air cair, menjadikannya salah satu kandidat utama dalam studi kelayakhunian planet di luar tata surya.
Penulis utama penelitian, Dr. Collin Cherubim, yang baru-baru ini meraih gelar Ph.D. dari Universitas Harvard, menyampaikan bahwa deteksi atmosfer ini merupakan pencapaian penting dalam studi eksoplanet.
“Kami sebenarnya telah mendeteksi langsung keberadaan helium di atmosfer itu sendiri, dan itu adalah deteksi langsung pertama untuk planet ekstrasolar berbatu mana pun, yang sangat menarik dan kemudian ada bonus tambahan bahwa planet ini berada di zona layak huni, yang sangat menarik bagi astrobiologi, kelayakan huni, dan pencarian kehidupan,” ujarnya, dikutip MPN Indonesia melalui Space.com pada Senin (20/7).
“Penemuan ini adalah hal besar karena menunjukkan bahwa setidaknya planet berbatu yang satu ini mempertahankan atmosfernya selama miliaran tahun,” tambahnya.
Eksoplanet ini pertama kali ditemukan pada 2017 oleh tim yang dipimpin astronom Jason Dittmann. Menurut Dittmann, konfirmasi atmosfer membutuhkan waktu panjang sejak penemuan awal.
“Planet ini ditemukan sekitar 10 tahun yang lalu, dan baru sekarang kita bisa mengatakan, ‘oke, itu adalah sebuah atmosfer’,” katanya.
Data terbaru yang dikumpulkan pada 2024 menunjukkan adanya helium yang keluar dari atmosfer planet tersebut, meskipun pada pengamatan 2025 sinyal tersebut tidak kembali terdeteksi, sehingga tim melakukan verifikasi ulang terhadap seluruh data yang diperoleh.
Karakteristik Planet dan Atmosfer
Planet LHS 1140b dikategorikan sebagai super-Earth dengan massa sekitar 5,6 kali massa Bumi dan ukuran sekitar 1,7 kali diameter Bumi atau sekitar 70 persen lebih besar dari Bumi.
Planet ini memiliki komposisi berbatu dengan kemungkinan inti besi serta atmosfer yang cukup tebal.
Selain itu, planet ini berada di zona Goldilocks, yaitu jarak ideal dari bintang induknya sehingga suhu memungkinkan air berada dalam bentuk cair.
Atmosfer yang terdeteksi mengandung helium, meskipun gas tersebut tidak mendukung kehidupan secara langsung.
Para ilmuwan menyatakan kemungkinan adanya gas lain di lapisan atmosfer yang lebih dalam.
Planet ini juga diduga terkunci secara pasang surut, di mana satu sisi selalu menghadap bintang induknya. Kondisi ini dapat memengaruhi distribusi suhu di permukaan planet.
Pengamatan dilakukan menggunakan spektrometer inframerah pada Teleskop Magellan Clay di Observatorium Las Campanas, Chili, saat planet melintas di depan bintang induknya.
Tim peneliti memastikan bahwa sinyal helium yang terdeteksi bukan berasal dari atmosfer Bumi atau gangguan lain.
“Namun, kami telah menyingkirkan setiap kemungkinan penyebab sinyal positif palsu yang dapat kami pikirkan,” kata Cherubim, dikutip MPN Indonesia melalui Vietnam.vn.
Tantangan Pengamatan di Bintang Katai Merah
Planet ini mengorbit bintang katai merah, jenis bintang paling umum di galaksi. Ukurannya sekitar sepertiga Matahari.
Bintang jenis ini diketahui aktif dan sering memancarkan radiasi ekstrem seperti jilatan api matahari dan lontaran massa korona. Kondisi tersebut biasanya dapat mengikis atmosfer planet yang mengorbitnya.
Namun, planet LHS 1140b menunjukkan kemampuan mempertahankan atmosfernya dalam jangka waktu panjang.
Hal ini menjadi perhatian dalam penelitian karena sebelumnya banyak ilmuwan meragukan planet di sekitar bintang katai merah dapat mempertahankan atmosfer.
Profesor Jayne Birkby menyatakan bahwa temuan ini membantu memahami kemungkinan planet berbatu bertahan di lingkungan tersebut.
Selain itu, perubahan sinyal atmosfer yang diamati menunjukkan bahwa atmosfer planet dapat bereaksi terhadap radiasi ultraviolet dari bintang induknya.
Hal ini memberikan informasi tambahan mengenai kondisi lingkungan permukaan planet.
Posisi dalam Penelitian Eksoplanet
Sejak lebih dari 30 tahun lalu, lebih dari 6.000 planet di luar tata surya telah ditemukan. Namun, hanya sebagian kecil yang berbatu dan berada di zona layak huni.
Sebelumnya, atmosfer hanya terdeteksi pada planet raksasa gas atau planet mini-Neptune, sementara planet berbatu di zona layak huni belum pernah dikonfirmasi memiliki atmosfer secara langsung.
Penemuan planet LHS 1140b menjadi tonggak dalam penelitian ini.
“Orang-orang umumnya tertarik pada pertanyaan-pertanyaan besar: Apakah kita sendirian? Apakah ada kehidupan di luar Bumi atau di luar tata surya kita? Untuk itu, penelitian ini mengungkapkan atmosfer pertama yang ditemukan di planet berbatu di zona layak huni sebuah bintang di luar tata surya kita,” ujar Dr. David Charbonneau, dikutip MPN Indonesia melalui BBC.
Meskipun demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa belum ada bukti keberadaan kehidupan di planet ini.
Penelitian saat ini masih berfokus pada identifikasi komposisi atmosfer dan kemungkinan keberadaan air.
Observasi lanjutan diperlukan untuk memastikan apakah kondisi di planet tersebut benar-benar mendukung kehidupan.
Dengan karakteristik berbatu, keberadaan atmosfer, serta posisi di zona layak huni, planet ini menjadi salah satu target utama dalam penelitian lanjutan untuk memahami evolusi planet di luar tata surya dan potensi kelayakhunian di lingkungan bintang katai merah.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
