Connect with us

Ekonomi

IHSG Hari Ini 20 Juli 2026 Menguat 0,86% ke Level 6.228 pada Penutupan Sesi I

IHSG menguat 0,86% ke level 6.228 pada sesi I perdagangan 20 Juli 2026. Simak sektor pendorong, top gainers, top losers, dan sentimen pasar.

Logompn

Published

on

IHSG Hari Ini 20 Juli 2026 Naik ke 6.228 pada Penutupan Sesi I
Ilustrasi IHSG. Gambar: Ilustrasi Canva

Indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat pada penutupan sesi I perdagangan Senin (20/7) di Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG naik 53,38 poin atau 0,86% ke level 6.228,91.

MPN Indonesia 20 Juli 2026 - Pergerakan IHSG sepanjang sesi I berada di kisaran 6.191 hingga 6.249, didorong oleh dominasi saham yang menguat serta sentimen positif dari kawasan Asia.

Aktivitas pasar saham juga tercatat tinggi dengan volume perdagangan mencapai 20,09 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp8,27 triliun dari total 1.399.915 kali transaksi.

Penguatan indeks harga saham gabungan pada sesi I turut tercermin dari dominasi saham yang bergerak di zona hijau.

Tercatat sebanyak 398 saham menguat, sementara 188 saham melemah dan 205 saham stagnan.

Indeks LQ45 yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar juga menguat sebesar 1,3%, menunjukkan kinerja positif saham unggulan di pasar saham domestik.

Sektor yang Mendorong Penguatan IHSG

Hampir seluruh sektor dalam pasar saham mencatatkan kinerja positif pada sesi I perdagangan Senin (20/7).

Sektor perindustrian memimpin penguatan dengan kenaikan 2,16%, diikuti sektor energi sebesar 1,77%, sektor properti 1,45%, sektor barang konsumsi primer 1,35%, serta sektor barang baku yang naik 0,85%.

Sementara itu, dua sektor masih mengalami koreksi, yakni sektor teknologi yang turun 0,24% dan sektor kesehatan yang melemah 0,17%.

Pergerakan Saham dan Sentimen Regional

Penguatan IHSG juga didukung oleh sentimen positif dari bursa regional Asia.

Indeks Shanghai Composite tercatat naik 0,96%, Hang Seng melonjak 2,17%, dan Straits Times menguat tipis 0,01%.

Di sisi lain, bursa Jepang tidak beroperasi sehingga indeks Nikkei tidak diperdagangkan pada hari tersebut.

Baca Juga:  IHSG Hari Ini 13 Juli 2026 Menguat ke 5.930

Dari sisi saham individu, sejumlah emiten mencatatkan kenaikan signifikan. PT Indonesia Prima Property Tbk (OMRE) memimpin daftar top gainers setelah melonjak 24,07% ke level Rp1.304 dan mencapai batas auto rejection atas (ARA).

Selain itu, PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) naik 17,19% ke Rp1.125, PT Wijaya Cahaya Timber Tbk (FWCT) menguat 16,87% ke Rp97, PT Wilton Makmur Indonesia Tbk (SQMI) bertambah 16,42% ke Rp78, serta PT Koka Indonesia Tbk (KOKA) naik 14,68% ke Rp250.

Di sisi lain, tekanan jual masih terjadi pada sejumlah saham yang masuk dalam daftar top losers.

PT Niramas Utama Tbk (JELI) mencatat penurunan terdalam sebesar 10,61% ke Rp800.

Penurunan juga terjadi pada PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) sebesar 10,36% ke Rp346, PT Ristia Bintang Mahkotasejati Tbk (RBMS) turun 9,33% ke Rp68, PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) melemah 8,24% ke Rp312, serta PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) turun 7,61% ke Rp27.000.

Faktor yang Memengaruhi Pergerakan IHSG

Di tengah penguatan IHSG pada sesi I, terdapat sejumlah faktor yang sebelumnya menjadi perhatian dalam pergerakan indeks harga saham gabungan.

Pergerakan IHSG dipengaruhi oleh berbagai faktor domestik dan eksternal, termasuk kondisi politik dan ekonomi, daya beli masyarakat, serta target pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, defisit anggaran dan beban utang negara yang jatuh tempo juga menjadi perhatian pelaku pasar.

Dari sisi eksternal, perubahan metodologi perhitungan free float oleh MSCI menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan investor terhadap bobot saham Indonesia di indeks global. Di samping itu, kondisi ekonomi global dan dinamika geopolitik turut memengaruhi aliran dana ke berbagai aset, termasuk dolar AS dan emas.

Baca Juga:  IHSG Tembus 8.434 di Sesi I, Pasar Fokus ke RDG BI dan Sentimen Global

Secara makroekonomi, inflasi berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa serta konsumsi rumah tangga yang berpotensi memengaruhi kinerja perusahaan.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga dapat meningkatkan beban utang perusahaan yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing.

Berbagai faktor tersebut turut memengaruhi dinamika pasar saham, termasuk aktivitas jual beli investor di Bursa Efek Indonesia.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending