Olahraga
FIFA Bakal Bikin Perusahaan Baru untuk Kelola Bisnis Piala Dunia
FIFA berencana membentuk FIFA Forward Enterprise senilai US$20 miliar untuk mengelola aspek komersial Piala Dunia dan kompetisi FIFA lainnya.
MPN Indonesia 30 Juli 2026 - FIFA berencana membentuk perusahaan baru bernilai sekitar US$20 miliar untuk mengelola aspek komersial Piala Dunia dan kompetisi lainnya.
Pada Selasa (28/7), Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan rencananya untuk membentuk entitas bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) yang akan mengelola operasi komersial dan acara.
Langkah ini dilakukan untuk menghimpun dana hingga US$4,2 miliar pada tahun ini.
Melalui rencana tersebut, FIFA akan tetap memegang kendali penuh atas perusahaan baru itu, termasuk tata kelola sepak bola, kalender pertandingan, regulasi, serta penyelenggaraan kompetisi seperti Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub.
“Sepak bola adalah olahraga paling populer di dunia dan penggerak luar biasa bagi perkembangan manusia dan sosial,” kata Gianni dalam pernyataannya, dikutip MPN Indonesia melalui laman FIFA pada Kamis (30/7).
“Beberapa bagian dari permainan ini telah mengubah popularitas tersebut menjadi nilai komersial yang luar biasa dan kami merayakan kesuksesan itu dan ingin hal itu terus berlanjut, karena hal itu meningkatkan keseluruhan permainan,” tambahnya.
Rencana Pembentukan FIFA Forward Enterprise
FIFA menjelaskan bahwa FIFA Forward Enterprise (FFE) akan bertanggung jawab atas seluruh operasi komersial dan penyelenggaraan turnamen, termasuk Piala Dunia.
Perusahaan ini dirancang sebagai anak usaha yang terpisah, dengan FIFA tetap sebagai pemegang kendali utama.
Dalam skema tersebut, investor eksternal hanya akan memiliki saham minoritas dan tidak memiliki peran operasional.
FIFA juga bekerja sama dengan JP Morgan untuk menarik investor jangka panjang.
Salah satu calon investor yang disebut adalah Thrive Eternal, perusahaan investasi yang didirikan oleh Joshua Kushner.
Selain itu, Greg Maffei, mantan CEO Liberty Media, disebut terlibat sebagai penasihat komersial dalam proses ini.
Rencana tersebut muncul setelah FIFA memperkirakan pendapatan siklus 2023–2026 mencapai sekitar US$12 miliar, sebagian besar berasal dari Piala Dunia 2026.
Turnamen tersebut menjadi edisi terbesar dalam sejarah dengan 48 tim peserta, yang turut mendorong peningkatan nilai komersial sepak bola secara global.
Skema Pendanaan dan Distribusi Dana
Melalui penjualan saham hingga sekitar 20 persen, FIFA menargetkan penggalangan dana hingga US$4,2 miliar.
Dana tersebut akan digunakan untuk memperluas program pengembangan sepak bola di seluruh dunia melalui skema FIFA Forward dan FIFA Fast-Forward hingga 2038.
Setiap asosiasi anggota FIFA berpeluang memperoleh pendanaan khusus hingga US$20 juta untuk proyek tertentu melalui FIFA Fast Forward Programme, apabila proposal tersebut disetujui.
Nilai tersebut meningkat dibandingkan siklus sebelumnya yang berada di angka US$8 juta pada periode 2027–2030.
Dalam siklus berikutnya, jumlah tersebut akan naik menjadi US$22 juta dan kemudian US$24 juta pada periode 2035–2038.
FIFA menyatakan seluruh keuntungan bersih dari FFE akan diinvestasikan kembali ke dalam sepak bola global.
“Tugas kami adalah memastikan bahwa seluruh dunia sepak bola tumbuh bersamanya: FIFA hadir untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif di setiap sudut dunia,” tegas Gianni.
Kritik dan Penolakan dari UEFA
Rencana FIFA mendapat penolakan dari UEFA serta sejumlah pihak lainnya.
UEFA menilai bahwa langkah tersebut telah melanggar prinsip dasar sepak bola.
“Ini melanggar batasan yang seharusnya tidak pernah dilanggar oleh lembaga pengatur sepak bola,” ujar UEFA dalam pernyataannya, dikutip MPN Indonesia melalui Reuters.
UEFA juga menyoroti kurangnya transparansi terkait pihak yang akan memperoleh keuntungan dari investasi tersebut.
“Jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset untuk diperdagangkan — terutama dengan tidak adanya transparansi mengenai siapa yang diuntungkan secara finansial. Tak satu pun dari kita adalah pemilik sepak bola. Sepak bola bukanlah milik FIFA untuk dijual,” lanjut UEFA.
Selain UEFA, kritik juga datang dari sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan.
“Piala Dunia bukanlah sebuah produk. Ini adalah kompetisi terbesar dalam olahraga dunia, dan bukan milik siapa pun untuk dijual,” ujar Perdana Menteri Inggris Andy Burnham di X.
Latar Belakang dan Upaya Sebelumnya
Ini bukan kali pertama Gianni Infantino mencoba menggandeng investor swasta untuk mengembangkan bisnis sepak bola.
Pada 2018, ia pernah mengusulkan kerja sama senilai US$25 miliar dengan SoftBank untuk mengembangkan kompetisi baru, termasuk format baru Piala Dunia Antarklub.
Namun, rencana tersebut gagal setelah mendapat penolakan dari UEFA.
Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara FIFA dan UEFA terus memburuk akibat perbedaan pandangan terkait tata kelola dan arah pengembangan sepak bola global.
Proposal pembentukan FFE semakin memperlebar perbedaan tersebut, terutama terkait peran investasi swasta dalam pengelolaan kompetisi seperti Piala Dunia.
FIFA menegaskan bahwa meskipun membuka peluang investasi, kendali penuh atas sepak bola tetap berada di tangan organisasi.
Rencana ini akan dipresentasikan kepada 211 asosiasi anggota FIFA yang memiliki hak untuk menyetujui atau menolak proposal tersebut.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
