Lifestyle
Apakah Selingkuh Itu Penyakit? Ini Penjelasan Medisnya
Selingkuh tidak otomatis berarti gangguan kepribadian. Simak penjelasan medis tentang faktor perselingkuhan, gangguan kepribadian, dan dampaknya.
MPN Indonesia 20 September 2026 - Selingkuh bukan secara otomatis dikategorikan sebagai penyakit.
Namun, beberapa penelitian dan penjelasan medis menyebutkan bahwa perselingkuhan pada sebagian orang dapat berkaitan dengan gangguan kepribadian tertentu.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi cara seseorang membangun dan mempertahankan komitmen dalam hubungan.
Pembahasan ini berkaitan dengan hubungan antara selingkuh, gangguan kepribadian, serta dampaknya terhadap kesehatan mental berdasarkan penjelasan medis.
“Seseorang yang melakukan perselingkuhan bisa saja karena memiliki gangguan kepribadian seperti narsistik, ambang, atau histrionik, di mana perilaku-perilaku gangguan kepribadian tersebut bisa mengarah kepada perselingkuhan,” ujar Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Rumah Sakit Sari Asih Cipondoh, dr. Andrian Pratomo, SpKJ.
Gangguan kepribadian disebut dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang.
Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam membangun dan mempertahankan komitmen pada sebuah hubungan.
Selingkuh dan Gangguan Kepribadian
Selingkuh dijelaskan sebagai ketidakmampuan seseorang mempertahankan komitmen dalam hubungan, baik pernikahan maupun pacaran.
Terlepas dari berbagai persoalan yang terjadi dalam hubungan, gangguan kepribadian disebut dapat memengaruhi cara seseorang menjaga kesetiaan.
Beberapa gangguan kepribadian yang disebut dapat berkaitan dengan perselingkuhan meliputi:
- Gangguan kepribadian ambang (Borderline Personality Disorder/BPD).
- Emosi tidak stabil.
- Sulit menjalin hubungan dekat.
- Perubahan suasana hati dapat terjadi dalam hitungan jam hingga hari.
- Dapat mengalami ketakutan ditinggalkan sehingga memengaruhi komitmen dalam hubungan.
- Gangguan kepribadian narsisistik (Narcissistic Personality Disorder/NPD).
- Merasa hubungan yang dijalani selalu kurang.
- Membutuhkan perhatian dari orang lain.
- Cenderung memanfaatkan orang lain.
- Kurang mempertimbangkan perasaan pasangan.
- Gangguan kepribadian histrionik (Histrionic Personality Disorder/HPD).
- Senang menjadi pusat perhatian.
- Memiliki perilaku dramatis.
- Sulit membangun hubungan yang erat.
- Cenderung menggoda secara seksual kepada orang lain.
Selain gangguan kepribadian, riwayat pengalaman traumatis, keluarga broken home akibat perselingkuhan, pelecehan, serta pengabaian fisik maupun emosional juga disebut dapat menjadi faktor yang berkaitan dengan kondisi tersebut.
Faktor yang Dapat Memicu Perselingkuhan
Selain kondisi kepribadian, beberapa faktor lain disebut dapat meningkatkan kemungkinan seseorang melakukan perselingkuhan.
Faktor tersebut meliputi:
- Konflik dalam hubungan, baik secara seksual, moral, maupun materi.
- Adanya peluang, misalnya sering bersama karena pekerjaan.
- Pelarian karena pasangan tidak memenuhi keinginan.
- Balas dendam.
- Perasaan cinta yang memudar.
- Perbedaan komitmen.
- Keinginan mencari variasi dalam hubungan.
Selain itu, ketidakpuasan emosional, kebutuhan akan variasi, masalah harga diri, dan rendahnya komitmen juga disebut sebagai faktor psikologis yang dapat memengaruhi seseorang untuk tidak setia.
Bentuk Perselingkuhan
Perselingkuhan tidak hanya terjadi dalam bentuk hubungan fisik. Perkembangan teknologi juga menghadirkan bentuk lain dari pelanggaran komitmen dalam hubungan.
Jenis-jenis perselingkuhan yang dijelaskan meliputi:
- Perselingkuhan fisik, yaitu hubungan intim dengan orang lain di luar hubungan resmi.
- Perselingkuhan emosional, yaitu membangun kedekatan emosional yang kuat dengan orang lain.
- Cyber infidelity, yaitu perselingkuhan melalui pesan, panggilan video, media sosial, atau aplikasi kencan.
Dalam penjelasan tersebut disebutkan bahwa selingkuh dapat berawal dari kebutuhan emosional atau fisik yang dianggap tidak terpenuhi dalam hubungan utama.
Dampak Perselingkuhan Terhadap Kesehatan Mental
Perselingkuhan disebut tidak hanya memengaruhi hubungan pasangan, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan mental serta kondisi fisik.
Beberapa dampak yang dijelaskan meliputi:
- Anxiety atau kecemasan.
- Depresi.
- Post-Infidelity Stress Disorder (PISD) dengan gejala seperti kilas balik, mimpi buruk, dan kewaspadaan berlebih.
- Gangguan tidur.
- Penurunan sistem imun akibat peningkatan hormon stres.
Journal of Marital and Family Therapy juga disebut menjelaskan bahwa perselingkuhan menjadi salah satu penyebab utama perceraian serta tekanan psikologis yang signifikan pada pasangan yang dikhianati.
Penelitian tersebut juga menyebut terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy/CBT) efektif membantu individu mengatasi gejala trauma setelah mengalami perselingkuhan.
Sementara itu, penelitian Elanor Lawrence turut menekankan pentingnya dukungan sosial dalam proses pemulihan kepercayaan diri korban.
Penanganan Menurut Penjelasan Medis
Diagnosis gangguan kepribadian memerlukan evaluasi terhadap pola fungsi jangka panjang.
Evaluasi dilakukan secara menyeluruh pada berbagai aspek kehidupan seseorang, termasuk perkembangan sejak masa kanak-kanak.
Gangguan kepribadian juga dijelaskan kerap ditemukan bersamaan dengan gangguan kejiwaan lain, seperti gangguan suasana perasaan maupun penggunaan zat.
“Hal ini dilakukan untuk mengetahui akar masalah atau motivasi seseorang melakukan perselingkuhan untuk kemudian ditemukan jalan keluarnya,” ujar dr. Andrian.
Penanganan gangguan kepribadian disebut belum memiliki standar baku, baik secara farmakologis maupun nonfarmakologis.
Penanganan dilakukan terhadap gejala atau gangguan yang menyertai.
Terapi jangka panjang, terapi psikoanalitik, terapi perilaku kognitif, serta terapi komprehensif yang melibatkan pasangan disebut menjadi pendekatan yang digunakan apabila perselingkuhan berkaitan dengan gangguan kepribadian.
“Gangguan mental, salah satunya gangguan kepribadian dapat diturunkan secara genetik, namun tidak 100% sudah pasti keturunannya mengalami gangguan mental yang sama atau gangguan kepribadian. Banyak faktor lain yang memengaruhi sehingga seseorang mengalami gangguan mental atau gangguan kepribadian, sehingga konsultasi perlu dilakukan untuk mengetahui penyebabnya secara benar,” tutup dr. Andrian.
Penjelasan medis juga menyebut evaluasi gangguan kepribadian dilakukan secara menyeluruh dan memerlukan kehati-hatian.
Konsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi bagian dari proses untuk mengetahui penyebab yang mendasari kondisi tersebut.
(RAD/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
