Berita
7 Jenderal Korban G30S PKI Siapa Saja? Ini Daftar Lengkapnya
Kenali 7 jenderal dan perwira korban G30S PKI 1965 yang kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi beserta riwayat singkatnya.
MPN Indonesia 30 September 2026 - Tujuh perwira TNI Angkatan Darat menjadi korban dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 yang berlangsung pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965 di Jakarta.
Sebagian perwira diculik dari kediamannya, sedangkan sejumlah korban lainnya dibunuh terlebih dahulu sebelum jenazah mereka dibawa ke kawasan Lubang Buaya.
Tujuh jenazah tersebut ditemukan di sebuah sumur di Lubang Buaya, Jakarta Timur, dan dievakuasi pada 4 Oktober 1965.
Proses pencarian melibatkan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), sementara proses pengangkatan jenazah juga melibatkan unsur KKO Angkatan Laut.
Sehari kemudian, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Revolusi kepada ketujuh perwira melalui Keputusan Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/KOTI Nomor 111/KOTI/1965 tanggal 5 Oktober 1965.
Mereka juga memperoleh kenaikan pangkat secara anumerta.
7 Jenderal dan Perwira Korban Tragedi G30S PKI
Tujuh tokoh militer yang menjadi korban tragedi G30S PKI memiliki latar belakang dan perjalanan karier berbeda di lingkungan Angkatan Darat, yaitu:
- Jenderal Ahmad Yani;
- Letnan Jenderal Raden Suprapto;
- Letnan Jenderal S. Parman;
- Letnan Jenderal M.T. Haryono;
- Mayor Jenderal D.I. Pandjaitan;
- Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo; dan
- Kapten Pierre Tendean.
Berikut riwayat singkat ketujuh tokoh tersebut berdasarkan perjalanan pendidikan dan karier militernya.
1. Jenderal Ahmad Yani
Ahmad Yani lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 19 Juni 1922.
Karier militernya dimulai melalui pendidikan Heiho di Magelang.
Ia juga mengikuti pendidikan Pembela Tanah Air atau PETA di Bogor.
Ahmad Yani kemudian diangkat menjadi Komandan Tentara Keamanan Rakyat di Purwokerto.
Selama perjalanan karier militernya, Ahmad Yani terlibat dalam sejumlah operasi.
Ia ikut menghadapi pasukan Inggris dalam pertempuran di Ambarawa.
Ahmad Yani juga terlibat dalam Agresi Militer Belanda I.
Selain itu, ia ikut dalam penumpasan DI/TII dan pemberontakan PRRI.
2. Letnan Jenderal Raden Suprapto
Raden Suprapto lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, pada 20 Juni 1920.
Ia pernah menempuh pendidikan militer di Akademi Militer Kerajaan Bandung.
Pada awal kemerdekaan, Suprapto ikut dalam perebutan senjata dari pasukan Jepang.
Ia kemudian menjadi ajudan Panglima Besar Jenderal Sudirman.
Suprapto pernah menjabat Deputi Kepala Staf Angkatan Darat di Sumatra.
Ia juga menjadi Kepala Staf Tentara dan Teritorium IV Diponegoro di Semarang.
Dalam perjalanan karier berikutnya, Suprapto menjabat Deputi II Menteri/Panglima Angkatan Darat.
Ia juga disebut pernah menjabat Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat.
3. Letnan Jenderal S. Parman
S. Parman memiliki nama lengkap Siswondo Parman lahir 14 Agustus 1914 di Wonosobo, Jawa Tengah.
Setelah Indonesia merdeka, ia bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Sebelumnya, Parman pernah bekerja sebagai anggota Kempetai pada masa pemerintahan Jepang.
Ia kemudian menjadi Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara di Yogyakarta.
Dalam perjalanan pendidikan militernya, Parman dikirim mengikuti Sekolah Militer di Amerika Serikat pada 1951.
Ia juga pernah dikirim ke Inggris sebagai perwakilan Kedutaan Indonesia.
Parman kemudian dipercaya menjadi Asisten I Bidang Intelijen di bawah Menteri/Panglima Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani.
4. Letnan Jenderal M.T. Haryono
Mas Tirtodarmo Haryono lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 20 Januari 1924.
Sebelum berkarier di militer, ia menempuh pendidikan kedokteran.
M.T. Haryono pernah belajar di Ika Dai Gaku di Jakarta.
Kemampuan bahasa asingnya kemudian digunakan dalam berbagai tugas perundingan Indonesia.
Ia pernah menjadi Sekretaris Delegasi Republik Indonesia dalam perundingan dengan Belanda dan Inggris.
Haryono juga menjadi Sekretaris Dewan Pertahanan Negara.
Selain itu, ia pernah menjadi Sekretaris Delegasi Militer Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar.
Namanya kemudian diabadikan sebagai nama jalan di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.
5. Mayor Jenderal D.I. Pandjaitan
Donald Isaac Pandjaitan lahir di Balige, Tapanuli, Sumatra Utara, pada 9 Juni 1925.
Ia mengikuti pelatihan militer Gyugun pada masa pendudukan Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, D.I. Pandjaitan ikut membentuk Tentara Keamanan Rakyat.
Ia kemudian diangkat sebagai komandan batalyon.
Pandjaitan pernah menjabat Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi.
Ia juga menjadi Kepala Staf Umum IV Komandan Tentara Sumatra.
Selama perjalanan kariernya, Pandjaitan pernah menjadi atase militer Indonesia di Bonn, Jerman Barat.
Ia juga pernah ditugaskan belajar di Amerika Serikat.
Pandjaitan kemudian dipercaya menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat.
Ia juga pernah menangani perbekalan perjuangan saat Agresi Militer Belanda II.
6. Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo
Sutoyo Siswomiharjo lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 28 Agustus 1922.
Setelah kemerdekaan, ia bergabung dengan TKR melalui bagian kepolisian.
Sutoyo kemudian menjadi anggota Corps Polisi Militer.
Ia juga pernah menjabat Kepala Bagian Organisasi Resimen II Polisi Tentara di Purworejo.
Pada 1946, Sutoyo menjadi ajudan Kolonel Gatot Soebroto.
Kariernya kemudian berlanjut sebagai Kepala Staf Polisi Militer pada 1954.
Sutoyo selanjutnya menjabat Inspektur Kehakiman Angkatan Darat.
Pada 1961, ia menempati posisi Inspektur Kehakiman atau Jaksa Militer Utama.
7. Kapten Pierre Tendean
Pierre Tendean lahir di Jakarta pada 21 Februari 1939. Ia lulus dari Akademi Militer pada 1962.
Setelah lulus, Pierre menjabat Komandan Peleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan di Medan.
Ia kemudian menjadi ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution.
Saat G30S PKI terjadi, Nasution menjabat Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan sekaligus Kepala Staf Angkatan Bersenjata.
Pierre berada di kediaman Nasution ketika pasukan penculik datang.
Pierre bukan sasaran utama penculikan tersebut.
Pasukan saat itu diarahkan untuk membawa Jenderal Nasution.
Dalam situasi tersebut, Pierre kemudian ditangkap dan dibawa ke Lubang Buaya.
Ia menjadi salah satu dari tujuh tokoh yang kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
