Connect with us

Berita

Mengapa Orang Terjebak Judi Online? Pengamat Bongkar Faktanya

Pengamat menilai maraknya judi online di desa bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan krisis sosial dan ideologi.

Logompn

Published

on

Mengapa orang terjebak judi online pengamat bongkar faktanya
Ilustrasi Judi Online. Gambar : Unsplash/Niek Doup

MPN Indonesia 10 Juli 2025 - Fenomena meningkatnya praktik judi online di masyarakat desa tidak dapat dijelaskan hanya dari sisi ekonomi.

Menurut Dr. Andi Achdian, M.Si., Ketua Program Studi Sosiologi Universitas Nasional, akar persoalannya jauh lebih dalam dan kompleks.

“Ada kombinasi antara keterjepitan dan keterbukaan,” ujar Dr. Andi saat dihubungi MPN Indonesia, Rabu (9/7).

Ia menjelaskan bahwa tekanan ekonomi pasca pandemi, dikombinasikan dengan kemudahan akses internet dan smartphone, membuat masyarakat desa rentan terhadap judi daring.

Namun, menurutnya, faktor ekonomi bukan satu-satunya penjelas.

“Ada kehampaan ideologis yang membentuk horizon harapan. Tak ada gerakan politik yang memberi imajinasi kolektif tentang masa depan. Dalam ruang kosong itulah, algoritma dan platform judi mengambil alih nalar publik,” jelasnya.

Pergeseran Budaya, dari Gotong Royong ke Budaya Instan

Dr. Andi menilai bahwa masuknya budaya judi digital menyebabkan pergeseran struktur sosial di desa.

Tradisi dan norma yang dulu menjadi fondasi masyarakat kini mulai digantikan oleh nilai-nilai instan.

“Orang mulai bicara soal ‘cuan’ dan ‘diamond’, bukan lagi hasil panen atau gotong royong,” katanya.

Perubahan ini, menurutnya, mengikis solidaritas dan melemahkan kepercayaan sosial antarwarga.

Dampak Psikologis dan Sosial

Lebih dari sekadar kerugian finansial, dampak sosial dan psikologis dari judi online di desa juga signifikan.

Dr. Andi menyebut bahwa kasus-kasus seperti korupsi dana desa untuk membeli item digital hanyalah puncak gunung es.

“Trust adalah fondasi penting kehidupan bermasyarakat. Kemiskinan tidak lagi sekadar kurang uang, tapi kehilangan orientasi hidup,” ungkapnya.

Dalam komunitas desa, kekalahan dalam judi online bisa menjadi aib. Pelaku kerap merasa malu, terasing, bahkan dikucilkan secara moral.

Baca Juga:  Terlilit Utang Judol, Pria di Bandung Nekat Habisi Penjaga Konter hingga Tewas

“Dalam beberapa kasus, muncul siklus dari euforia menang, keterpurukan saat kalah, lalu kembali ke layar sebagai pelarian. Ini semacam siklus pasrah yang menyerupai bentuk baru penjajahan digital,” tambahnya.

Pentingnya Infrastruktur sebagai Tameng

Dr. Andi menekankan bahwa memberantas aplikasi judi online saja tidak cukup.

Menurutnya, kita perlu memperkuat fondasi budaya dan sosial masyarakat agar bisa jadi benteng terakhir menghadapi ancaman ini.

“Warga memang bisa jadi garda terakhir, tapi mereka nggak bisa dibiarkan jalan sendiri. Kita perlu pendekatan baru dalam membangun desa—bukan cuma soal jalan dan bangunan, tapi juga ruang-ruang anak muda, taman baca, tempat diskusi bareng,” ujarnya.

Ia melihat maraknya judi online di desa sebagai tanda bahwa banyak orang kehilangan gambaran tentang masa depan.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending