Internasional
Protes Antipemerintah di Kenya Berujung Ricuh, 11 Orang Tewas dan 567 Orang Ditangkap
Aksi demo antipemerintah yang berlangsung di Kenya pada Senin (7/7) berujung ricuh hingga menewaskan 11 orang dan 567 demonstran ditangkap.
MPN Indonesia 11 Juli 2025 - Aksi demo antipemerintah yang berlangsung di Kenya pada Senin (7/7) berujung ricuh hingga menewaskan 11 orang dan 567 demonstran ditangkap, menurut keterangan resmi kepolisian.
Demo di Kenya yang berlangsung di berbagai wilayah ini memicu bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan. Menurut laporan yang beredar, aksi ini diperparah lewat penggunaan peluru tajam oleh polisi terhadap para peserta aksi.
Insiden penembakan terjadi di berbagai titik, salah satunya di Ol Kalou, tempat satu orang dilaporkan tewas dan satu lainnya luka akibat tembakan.
Petugas medis dari Eagle Nursing Home, Aron Sikuku melaporkan kepada BBC bahwa dua jenazah korban tembakan telah dibawa ke fasilitasnya.
Aksi massa yang sebagian besar diorganisir oleh kelompok Gen-Z ini menuntut tata kelola pemerintahan yang lebih baik, akuntabilitas, dan keadilan bagi korban kekerasan aparat.
Menurut Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Kenya (KHRC), aparat menggunakan kekuatan berlebihan, termasuk beroperasi tanpa seragam resmi dan bekerja sama dengan kelompok bersenjata di beberapa wilayah seperti Nairobi, Kajiado, Nakuru, Kiambu, dan Eldoret.
Laporan tersebut juga menyebut adanya penculikan terhadap dua orang, 29 korban luka, dan 37 orang ditangkap di sejumlah kota.
“Polisi mengenakan pakaian biasa dan kendaraan tidak bertanda,” ungkap laporan KHRC, dikutip MPN Indonesia dari BBC, Jumat (11/7).
Sebaran Aksi di 17 Wilayah dan Respons Aparat
Menurut Nation, media asal Kenya, aksi demonstrasi ini meluas ke 17 dari 47 kabupaten di Kenya, termasuk wilayah Meru dan Kamukunji.
Di Meru, pusat perbelanjaan di kota Makutano terbakar dan asap hitam pekat terlihat membumbung.
Sementara di Kamukunji, tempat bersejarah bagi gerakan Saba Saba, kelompok demonstran membakar ban dan berhadapan langsung dengan polisi.
Jalan-jalan utama menuju kantor-kantor pemerintahan seperti State House dan parlemen dibarikade menggunakan kawat berduri, sementara beberapa sekolah menyarankan siswa untuk tetap di rumah.
Dalam pernyataan pada Kamis (8/7), kepolisian Kenya menyebut telah menunjukkan pengendalian diri dan profesionalisme luar biasa dalam menghadapi kekerasan dan provokasi yang terus-menerus.
Polisi juga melaporkan bahwa 52 anggota mereka dan 11 warga sipil mengalami luka-luka dalam bentrokan tersebut. Sebelumnya, KHRC menyebutkan sedikitnya 10 orang tewas, namun jumlah tersebut kemudian dikonfirmasi bertambah oleh kepolisian.
Dampak terhadap Aktivitas Publik dan Transportasi
Dampak dari aksi ini juga dirasakan oleh masyarakat umum. Sejak pagi hari, ratusan penumpang dan pelancong malam hari terjebak di pos pemeriksaan yang dipasang polisi, dengan beberapa titik berjarak lebih dari 10 kilometer dari pusat kota Nairobi.
Bus jarak jauh bahkan terhenti di Kabete, sekitar 13 kilometer dari pusat kota, dengan penumpang yang tidak mampu membayar biaya ojek terpaksa menunggu tanpa kepastian.
Seorang sopir bus, Humphrey Gumbishi, mengatakan mereka memulai perjalanan pada malam sebelumnya.
“Kami mulai berangkat pukul 20.30 malam tadi. Kami ingin pemerintah berdialog dengan Gen-Z agar semua ini bisa berakhir,” ujarnya kepada BBC.
Serangan terhadap LSM dan Pembatalan Agenda Tokoh Politik
Pada Minggu (6/7), markas besar KHRC di Nairobi diserang oleh geng bersenjata saat konferensi pers oleh sekelompok perempuan berlangsung.
Ernest Cornel, juru bicara KHRC, menyebut bahwa sekitar 25 orang bersenjata dengan motor menyerbu lokasi sambil meneriakkan, “Tidak akan ada protes hari ini.”
Mereka merampas laptop, telepon, dan barang-barang milik jurnalis yang berada di lokasi.
Rencana kehadiran Mantan Perdana Menteri Raila Odinga di Kamukunji batal, dengan alasan akses jalan yang diblokir membuat banyak orang kesulitan untuk hadir.
Meski demikian, Odinga tetap menyampaikan kritik terhadap aparat keamanan. Ia menyebut polisi Kenya sebagai “pasukan nakal yang menembak warga dengan sewenang-wenang, warisan dari penjajah,” sambil menyerukan dialog nasional untuk reformasi kepolisian.
Kilas Balik Saba Saba dan Gelombang Protes Sebelumnya
Berdasarkan laporan yang beredar, peristiwa kericuhan ini bertepatan dengan peringatan 35 tahun demonstrasi bersejarah Saba Saba yang berarti ‘tujuh-tujuh’, yang menjadi simbol perjuangan demokrasi di negara tersebut.
Saba Saba merupakan tonggak sejarah perlawanan rakyat Kenya terhadap pemerintahan satu partai di era Presiden Daniel arap Moi.
Aksi pada 7 Juli 1990 itu berujung pada penangkapan banyak demonstran dan setidaknya 20 orang dilaporkan tewas. Momentum ini kemudian menjadi simbol perlawanan sipil dan perjuangan demokrasi di Kenya.
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
