Connect with us

Teknologi

FBI Wanti-Wanti Pengguna Android dan iPhone jika Terima Pesan Ini

FBI mengungkap modus penipuan siber terbaru dengan suara hasil AI dan pesan tagihan tol palsu. Pengguna Android dan iPhone diminta waspada.

Logompn

Published

on

Fbi wanti wanti pengguna android dan iphone jika terima pesan ini
Ilustrasi Pesan Teks. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 7 Agustus 2025 - FBI mengeluarkan peringatan kepada pengguna Android dan iPhone terkait meningkatnya kejahatan cyber yang menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Penipuan dilakukan melalui pesan teks dan panggilan suara palsu yang tampak seolah berasal dari sumber resmi.

Menurut FBI, pelaku memanfaatkan AI untuk meniru suara dan pesan dari tokoh penting, termasuk pejabat tinggi Amerika Serikat.

“Jika Anda menerima pesan yang mengaku berasal dari pejabat senior AS, jangan berasumsi bahwa itu asli,” tegas FBI dalam keterangannya, dikutip MPN Indonesia dari laman The Economic Times, Kamis (7/8).

Suara AI Digunakan untuk Serangan Rekayasa Sosial

FBI menjelaskan bahwa pelaku kejahatan menggunakan AI untuk membuat pesan suara yang terdengar seperti suara anggota keluarga atau pejabat resmi.

Suara ini dibuat sedemikian rupa agar terdengar meyakinkan dan emosional.

Teknik ini tergolong sebagai rekayasa sosial, yang bertujuan mengelabui korban agar memberikan informasi sensitif seperti kredensial bank, data kartu kredit, atau dokumen pribadi.

FBI menyatakan bahwa sejak Desember 2024, telah ditemukan penyalahgunaan suara hasil kloning dalam situasi yang menyasar kondisi darurat keluarga.

Modus Tagihan Tol Palsu dari Tiongkok

FBI juga mendeteksi skema phishing berupa pesan tagihan tol palsu yang dikirim oleh pelaku dari Tiongkok.

Pesan ini menyasar pengguna Android dan iPhone secara acak, termasuk yang tidak pernah menggunakan jalan tol.

Dalam keterangannya kepada Forbes, FBI menyampaikan, “Pesan tersebut mengklaim bahwa penerima memiliki tunggakan biaya tol dan menggunakan bahasa yang hampir sama. Tautan dalam pesan tersebut dirancang menyerupai nama layanan tol negara bagian.”

Baca Juga:  Israel Ancam Tunda Gencatan Senjata jika Hamas Tak Segera Berikan Nama Sandera yang Dibebaskan

Ciri-ciri pesan tersebut antara lain:

  • Meniru layanan seperti E-ZPass.
  • Tautan menggunakan domain asing seperti .TOP, .CYOU, .XIN.
  • Nomor pengirim berbeda-beda tergantung wilayah.
  • Menggunakan ribuan domain palsu menyerupai lembaga resmi.

Serangan ini termasuk dalam upaya merusak infrastruktur komunikasi ponsel, karena pesan serupa juga muncul dengan tema pengiriman paket dan notifikasi palsu lainnya.

Ciri-Ciri Pesan dan Suara Palsu Berbasis AI

FBI mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap tanda-tanda berikut:

  • Gambar atau video yang tampak rusak.
  • Ekspresi wajah tidak alami saat video call.
  • Suara dengan nada atau jeda bicara yang janggal.
  • Tata bahasa yang tidak umum atau aneh.
  • Tautan atau kontak dengan kesalahan ejaan.
  • Adanya watermark atau gambar buram.

Langkah Pencegahan yang Disarankan FBI

Untuk mencegah kejahatan siber berbasis AI, FBI menyarankan langkah berikut:

  • Jangan langsung percaya pada panggilan atau pesan yang terdengar familiar.
  • Selalu verifikasi tautan, nomor, dan identitas pengirim.
  • Gunakan aplikasi pesan terenkripsi seperti WhatsApp, Signal, atau Telegram.
  • Hindari berbagi data pribadi tanpa konfirmasi identitas pengirim.
  • Aktifkan autentikasi dua faktor di semua akun digital.
  • Laporkan pesan mencurigakan ke Internet Crime Complaint Center (IC3.gov).

Jeff Greene, Direktur Eksekutif bidang siber di Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA), menambahkan, “Gunakan komunikasi terenkripsi jika tersedia. Bahkan jika data berhasil disadap, jika terenkripsi, maka tidak dapat dibaca oleh pelaku.”

Ancaman Nyata terhadap Sistem Komunikasi

Menurut laporan Anti-Phishing Working Group (APWG), skala serangan melalui pesan teks (smishing) telah mencapai tingkat yang disebut “astronomical”.

FBI juga sebelumnya telah menyarankan agar warga AS tidak lagi menggunakan pesan teks biasa, terutama karena tidak adanya enkripsi dalam komunikasi lintas sistem seperti iPhone ke Android.

Baca Juga:  Santri di Sukoharjo Diduga Jadi Korban Bullying Gegara Masalah Rokok

Serangan ini menunjukkan bagaimana teknologi AI dimanfaatkan dalam modus kejahatan siber, yang berdampak langsung terhadap keamanan komunikasi dan data pribadi pengguna smartphone di seluruh dunia.

(AKM/NID/RAD)

Trending