Teknologi
Sejarah Roblox, Game Andalan Anak-Anak yang Kini Dilarang Mendikdasmen
Mendikdasmen Abdul Mu’ti melarang murid memainkan Roblox karena mengandung kekerasan dan konten tak pantas. Simak perkembangan dan kontroversinya di sini.
MPN Indonesia 8 Agustus 2025 - Popularitas game simulasi Roblox di kalangan anak-anak kembali menjadi sorotan, namun kali ini bukan karena prestasi atau inovasi teknologinya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, secara tegas menyatakan larangan bagi murid sekolah dasar (SD) untuk memainkan game daring tersebut.
Menurutnya, Roblox tidak aman bagi perkembangan psikologis anak karena mengandung konten kekerasan hingga kata-kata yang tidak pantas.
Pernyataan tersebut disampaikan Mu’ti saat meninjau program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di SDN Cideng 2, Jakarta Pusat, pada Senin (4/8).
Ia menyoroti bahaya dari game yang bisa diakses anak-anak tanpa pengawasan orang tua maupun guru.
“Kalau main HP tidak boleh menonton kekerasan, yang di situ ada berantemnya, di situ ada kata-kata yang jelek-jelek… yang main blok-blok (Roblox) tadi itu jangan main yang itu ya karena itu tidak baik ya,” ujar Abdul Mu’ti kepada wartawan di Jakarta Pusat, Senin (4/8).
Mu’ti menjelaskan bahwa pada usia anak-anak, mereka belum mampu membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya simulasi.
Oleh karena itu, paparan terhadap konten kekerasan atau interaksi dengan pengguna asing bisa berdampak negatif terhadap cara berpikir dan perkembangan emosional anak.
Potensi Bahaya dalam Roblox
Meski dirancang sebagai platform kreatif untuk membuat dan memainkan game interaktif, Roblox juga kerap dikritik karena minimnya kontrol atas konten yang muncul di dalamnya.
Salah satu isu paling serius adalah kemudahan anak-anak untuk berinteraksi dengan pengguna dewasa secara anonim dan tanpa pengawasan.
Penelitian menunjukkan bahwa pengguna muda di Roblox dapat mengakses konten tidak pantas, termasuk simulasi seksual, kekerasan ekstrem, hingga ajakan berkomunikasi dengan orang asing yang bisa berpotensi menjadi pelaku kejahatan siber.
Sejarah dan Perkembangan Roblox
Roblox dikembangkan oleh Roblox Corporation dan didirikan oleh David Baszucki dan Erik Cassel pada 2004, sebelum dirilis ke publik dua tahun kemudian.
Berkantor pusat di San Mateo, California, Roblox awalnya dikenal sebagai DynaBlocks sebelum berganti nama menjadi Roblox pada 2005.
Baszucki sebelumnya sudah berpengalaman dalam menciptakan software simulasi pendidikan.
Pada 2006, mereka merilis Roblox Studio, fitur yang memungkinkan pengguna membuat game sendiri. Saat itu, sambutan komunitas sangat besar.
“Itu jauh lebih baik daripada apa pun yang bisa kami bayangkan,” kata Baszucki tentang antusiasme pengguna.
Di tahun yang sama, dua pegawai pertama mereka, Matt Dusek dan John Shedletsky mulai membangun sistem komunikasi dan fondasi teknis platform.
Sejak 2008, Roblox berhenti mengembangkan game sendiri dan menyerahkan kreativitas sepenuhnya kepada komunitas kreator, yang kini menggunakan bahasa pemrograman Lua.
Popularitas yang Diiringi Kontroversi
Hingga Februari 2025, Roblox mencatat lebih dari 85,3 juta pengguna aktif harian, dengan 40 persen di antaranya berusia di bawah 13 tahun.
Bahkan, setengah dari seluruh anak-anak di Amerika Serikat di bawah 16 tahun tercatat sebagai pengguna Roblox.
Tak hanya bermain game, mereka juga menggunakan platform ini untuk menghadiri konser virtual, mengikuti lomba, dan bermain advergame dari brand ternama.
Namun, popularitas ini juga membawa konsekuensi. Kekhawatiran orang tua terus meningkat, terutama setelah muncul beberapa kasus yang dialami anak-anak:
- Seorang anak perempuan 9 tahun mengalami serangan panik usai melihat konten seksual.
- Seorang anak laki-laki 10 tahun dilaporkan didekati oleh pengguna dewasa yang mencoba merayunya.
Platform ini memang menyediakan fitur keamanan seperti filter obrolan dan pengawasan akun orang tua, tetapi banyak pihak menilai hal tersebut belum cukup.
“Fitur keamanan baru yang diumumkan Roblox tidak cukup memadai… dengan jutaan hal yang seringkali dengan deskripsi dan peringkat tidak akurat, bagaimana orang tua diharapkan memoderasi?” kata Damon De Ionno, direktur riset di Revealing Reality.
Roblox sendiri mengaku terus meningkatkan sistem keamanannya dan mendorong kolaborasi dengan pemerintah serta pelaku industri digital.
Namun, pernyataan Mendikdasmen Abdul Mu’ti menjadi pengingat bahwa orang tua, guru, dan pemerintah memiliki peran penting dalam mengawasi aktivitas digital anak-anak, terutama dalam memilih game yang aman dan mendidik.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
