Connect with us

Politik

Kritik Prabowo soal Klaim Pengangguran Terendah, Anies Baswedan: Tapi Kenapa Kedengeran Malah Sebaliknya?

Anies Baswedan mengkritik klaim Presiden Prabowo Subianto soal angka pengangguran terendah sejak 1998. Ia menilai data statistik tak mencerminkan kondisi riil di lapangan.

Logompn

Published

on

Kritik prabowo soal klaim pengangguran terendah, anies baswedan tapi kenapa kedengeran malah sebaliknya
Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Gambar : Kolase Tangkapan Layar X/@aniesbaswedan

MPN Indonesia 27 Oktober 2025 - Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengkritik pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut angka pengangguran di Indonesia kini menjadi yang terendah sejak krisis 1998.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam pidato kenegaraan di Gedung MPR-DPR RI pada 15 Agustus lalu.

Melalui akun X pribadinya pada Jumat (24/10), Anies mempertanyakan kebenaran data tersebut dan membandingkannya dengan kondisi nyata masyarakat saat ini.

“Setahun sudah pemerintahan baru ini berjalan. Pak Presiden baru saja bilang bahwa angka pengangguran terendah sejak tahun 1998. Bagus dong kalau begitu. Tapi kenapa obrolan sehari-hari kedengarannya malah sebaliknya? Susah cari kerja, lowongan seret, PHK di mana-mana,” ujar Anies dalam unggahannya, dikutip MPN Indonesia pada Senin (27/10).

Statistik Tak Cerminkan Kondisi Nyata

Anies menilai satu angka statistik tidak bisa mewakili kompleksitas situasi ketenagakerjaan nasional.

Menurutnya, meski persentase pengangguran menurun, jumlah absolut pengangguran justru meningkat karena jumlah angkatan kerja terus bertambah.

“Persentasenya memang turun, tapi jumlah orangnya tambah karena angkatan kerjanya membesar. Nah, kita kejar-kejaran di situ,” jelasnya.

Pekerja Paruh Waktu Meningkat

Anies juga menyoroti penurunan kualitas pekerjaan di Indonesia. Ia menyebut jumlah pekerja paruh waktu (part time) meningkat, sementara pekerjaan penuh waktu (full time) berkurang.

“Pekerjaan part time jumlahnya tambah, sementara yang full time berkurang. Banyak yang disebut bukan pengangguran padahal upahnya tidak layak,” katanya.

Sektor Informal Masih Dominan

Masalah lain yang diangkat Anies adalah dominasi sektor informal dalam struktur ketenagakerjaan nasional.

Menurutnya, sekitar 60 persen tenaga kerja Indonesia berada di sektor informal yang minim perlindungan sosial dan hukum.

Baca Juga:  Profil Awhin Sanjaya, Pembalap yang Tewas Kecelakaan di SCP 2025

“Kalau informal itu artinya apa? Upahnya cenderung rendah, tidak punya perlindungan sosial, tidak punya perlindungan hukum yang cukup,” ungkap Anies.

Pengangguran Muda Masih Tinggi

Anies juga menyoroti tingginya tingkat pengangguran di kalangan anak muda.

“Anak muda itu paling semangat, tapi paling sulit masuk ke tempat kerja,” ucapnya.

Selain itu, ia menyebut kenaikan upah yang tidak sebanding dengan inflasi membuat daya beli masyarakat menurun.

“Upah kita naiknya cuma 1,8 persen. Jadi masih kalah sama inflasi. Apalagi inflasi makanan malah makin tinggi,” tegasnya.

Pentingnya Transparansi Data

Anies menegaskan pentingnya keterbukaan data pemerintah agar publik memahami kondisi ekonomi yang sebenarnya.

“Kalau data dibuka dengan jujur, dengan lengkap, publik juga bisa dukung langkah pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja formal dan melindungi pekerja informal agar bisa naik kelas,” tuturnya.

Menutup pernyataannya, Anies menyinggung perlunya transparansi penuh dari pemerintah.

“Kalau data ditampilkan hanya setengah-setengah, publik juga bingung mau dukung ke mana, atau jangan-jangan presiden juga tidak diberi data yang lengkap ya?” pungkasnya.

(AKM/NID/RAD)

Trending