Connect with us

Internasional

Presiden Tertua di Dunia Akan Menjabat untuk Ke-8 Kalinya usai Menang lagi dalam Pemilu Kamerun

Presiden Kamerun, Paul Biya, kembali memenangkan pemilu dengan 53,7% suara di usia 92 tahun.

Logompn

Published

on

Presiden tertua di dunia akan menjabat untuk ke 8 kalinya usai menang lagi dalam pemilu kamerun
Presiden Kamerun, Paul Biya. Gambar: Dok. Anadolu Ajansi

MPN Indonesia 28 Oktober 2025 - Presiden Kamerun, Paul Biya, kembali memenangkan pemilu yang digelar pada Minggu (12/10) dan akan menjabat untuk masa jabatan kedelapan.

Dikutip dari AFP dan Reuters, Biya, yang kini berusia 92 tahun, menjadi kepala negara tertua di dunia yang masih aktif menjabat.

Menurut hasil resmi yang diumumkan oleh Dewan Konstitusi pada Senin (27/10), Biya meraih 53,7% suara.

Rival utamanya, Issa Tchiroma Bakary, memperoleh 35,2%. Ketua Dewan Konstitusi, Clement Atangana, menyatakan secara resmi bahwa Biya adalah presiden terpilih.

Pemilu ini berlangsung di tengah ketegangan politik dan kekerasan. Sepuluh kandidat ikut bertarung, termasuk mantan perdana menteri Bello Bouba Maigari, dengan partisipasi pemilih tercatat 58%.

Setidaknya sepuluh petisi terkait dugaan kecurangan ditolak oleh Dewan Konstitusi.

Kericuhan Pascapemilu

Situasi keamanan memburuk usai pemungutan suara. Kerusuhan pecah di berbagai wilayah.

Pada Minggu (26/10), empat orang dilaporkan tewas dalam bentrokan di Douala, ibu kota ekonomi Kamerun.

Gubernur wilayah tersebut, Samuel Dieudonné Diboua, melaporkan adanya serangan terhadap beberapa pos polisi, yang dibalas oleh pasukan keamanan.

Pada Selasa (28/10), kekerasan berlanjut di kota Garoua, dekat kediaman Tchiroma Bakary.

Seorang jurnalis lokal menyebut sejumlah warga sipil tertembak. Dalam pernyataan di media sosial, Tchiroma mengklaim tembakan dilepaskan ke arah massa di luar rumahnya, dan menyebut adanya penempatan penembak jitu di seberang jalan.

Di ibu kota Yaoundé, ketegangan menyebabkan penutupan hampir seluruh toko dan sekolah.

Banyak pegawai negeri dan pekerja kantoran memilih tinggal di rumah.

Pendukung Tchiroma menuding partai berkuasa, Gerakan Demokratik Rakyat Kamerun (CPDM), mencurangi hasil pemilu untuk memastikan kemenangan Biya.

Baca Juga:  Titiek Soeharto Ikut Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Tampil Anggun Gunakan Kebaya Hitam

Perjalanan Politik Paul Biya

Paul Biya telah menjabat sebagai presiden sejak 1982. Pada 2008, ia menghapus batas masa jabatan dari konstitusi, memungkinkan dirinya mencalonkan kembali tanpa batas waktu.

Biya dikenal jarang tampil di hadapan publik dan lebih sering berada di luar negeri, terutama di Swiss.

Ketidakhadirannya yang berkepanjangan kerap memicu spekulasi soal kondisi kesehatannya.

Selama kepemimpinannya, Biya dikenal memperluas fasilitas pendidikan seperti sekolah dan universitas negeri, serta menyelesaikan sengketa wilayah Bakassi dengan Nigeria.

Namun, pemerintahannya juga kerap dituduh mengekang kebebasan berbicara dan menekan oposisi politik.

Situasi Sosial-Politik Terkini

Kamerun tengah menghadapi sejumlah tantangan besar, termasuk:

  • Pemberontakan separatis di wilayah barat berbahasa Inggris yang telah berlangsung hampir satu dekade.
  • Tingkat pengangguran yang tinggi, mencapai 40% di kalangan usia di bawah 35 tahun.
  • Kondisi infrastruktur seperti jalan dan rumah sakit yang memprihatinkan.
  • Kebebasan sipil yang dinilai makin terbatas oleh kebijakan pemerintah.

Tokoh masyarakat dan warga sipil memberikan reaksi beragam atas hasil pemilu.

Seorang warga Yaoundé, Amungwa Nicodemus, menyebut bahwa “kita berada di awal mimpi buruk lainnya.”

Warga lain, Abolo Denis, mengimbau agar masyarakat menerima hasil pemilu demi menjaga perdamaian.

(ADN/NID/RAD)

Trending