Connect with us

Politik

Sahroni Muncul ke Publik Curhat soal Penjarahan: Orang-orang yang Teriak Itu Boro-boro Bayar Pajak

Ahmad Sahroni buka suara soal penjarahan rumahnya di Tanjung Priok. Ia ceritakan momen saat bersembunyi dari amukan massa.

Logompn

Published

on

Sahroni muncul ke publik curhat soal penjarahan orang orang yang teriak itu boro boro bayar pajak
Sahroni muncul ke publik ceritakan momen penjarahan rumahnya. Gambar: Kolase Tangkapan Layar TikTok/@KOMINFO EMAK EMAK

MPN Indonesia 4 November 2025 - Ahmad Sahroni, kembali tampil di hadapan publik pascainsiden penjarahan yang terjadi di rumahnya, Jalan Swasembada, Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara pada Sabtu (30/8).

Dalam pertemuan dengan warga pada Minggu (2/11), Sahroni menyampaikan pengalamannya bersembunyi dari amukan massa yang menjarah rumahnya.

Dalam video yang beredar pada Senin (3/11), Sahroni mengaku tidak bisa melarikan diri saat rumahnya dilempari batu dan dijarah ratusan orang.

Ia bahkan menyebut peristiwa tersebut seperti adegan film.

“Akhirnya plafon itu saya hancurkan sekalian, tapi pintu kamar mandi saya buka. Kalau Bapak Ibu tahu, rasanya seperti main film, dramanya luar biasa,” ujar Sahroni, seperti dilihat MPN Indonesia dari akun TikTok @KOMINFO EMAK EMAK yang diunggah pada Minggu (2/11).

Saat berbicara di hadapan warga, Sahroni mengungkapkan rasa tertekannya atas peristiwa tersebut.

“Semua orang membenci saya, semua orang mencari saya. Bapak Ibu, saya alhamdulillah tidak korupsi,” ucapnya.

Sahroni Ceritakan Kronologi Penjarahan dan Pengalamannya

Penjarahan di rumah Sahroni berlangsung sejak pukul 15.00 WIB. Massa berkumpul dan mulai melempar batu ke rumahnya.

Sebelum kejadian, Sahroni sempat menerima kunjungan pemuka agama di rumahnya.

Ia menyebut Pak Imam, Ibu Dini, dan pembantunya kemudian mengungsi ke rumah tetangga.

“Satu jam pertama sebelum kejadian, sekitar pukul 12.00–15.00, saya sempat bertemu dengan perwakilan dari tokoh agama. Terima kasih kepada Pak Haji Rusdi dan istrinya yang telah menerima Pak Imam, istri, dan pembantu saya di rumah sebelah,” jelasnya.

Sahroni sempat bersembunyi di atas plafon rumah, namun akhirnya jatuh ke kamar mandi karena plafon jebol.

Baca Juga:  OCI Bantah Siksa Pemain Sirkus: Hewan Saja Kita Sayang, apalagi Manusia

“Sebelumnya, saya sempat bersembunyi di atas plafon, tapi plafonnya tidak kuat dan saya jatuh. Ada tiga orang melihat saya, dan bertanya. Waktu itu, wajah saya sudah saya beri debu,” kata Sahroni.

Ia juga mencoba kabur lewat genteng ke rumah tetangga, namun rencana itu batal karena genteng berbunyi saat diinjak.

“Saya mau lewat tangga di sana, ternyata itu rumah Pak Haji. Kebetulan malam itu, saat saya menginjak gentengnya, bunyi. Jadi saya urungkan niat, lalu kembali ke rumah Pak Haji Dhani,” tambahnya.

Tanggapan Soal Penjarahan dan Pengembalian Barang

Ahmad Sahroni menilai penjarahan terhadap rumahnya berkaitan dengan ketegangan sosial dan politik. Ia mengatakan sebagian massa menilai rumahnya berasal dari uang rakyat.

“Saya yakin tuh, orang-orang yang teriak itu boro-boro bayar pajak. Pasti nunggu sembako juga,” ujarnya.

Ia juga menyayangkan hilangnya barang-barang pribadi yang dianggap tidak bernilai ekonomi, termasuk foto keluarga.

“Pertanyaannya buat apa coba, oke lah barang lain diambil silakan. Foto keluarga diambil. Itu buat apa gitu,” ucap Sahroni.

Proses Etik di MKD

Ahmad Sahroni saat ini sedang menjalani proses sidang dugaan pelanggaran etik di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD).

Proses ini merupakan buntut dari pernyataannya yang dianggap tidak empatik dalam menanggapi gelombang demonstrasi pada 25–31 Agustus 2025.

MKD hingga kini belum menjadwalkan pemanggilan langsung terhadap Sahroni.

Empat nama lainnya yang juga menjalani proses etik bersama Sahroni adalah Nafa Urbach, Eko Patrio, Uya Kuya, dan Adies Kadir.

(AKM/NID/RAD)

Trending