Connect with us

Berita

HR Ini Sebut Rekruter Tak Boleh Membuat Pelamar Kerja Nunggu Giliran Interview Lebih dari 15 Menit

Dalam dunia rekrutmen, proses interview sering kali dianggap sebagai tahap paling menegangkan bagi kandidat.

Logompn

Published

on

Hr ini sebut rekruter tak boleh membuat pelamar kerja nunggu giliran interview lebih dari 15 menit
HR Profesional Rizki Rahmanto | Gambar: Ig/@mentors_id

MPN Indonesia 3 Desember 2025 - Dalam dunia rekrutmen, proses interview sering kali dianggap sebagai tahap paling menegangkan bagi kandidat.

Bahkan menurut Rizki Rahmanto, seorang HR dengan pengalaman lebih dari 25 tahun di lebih dari 10 industri, interview tak jarang justru seolah berubah menjadi momen mengintimidasi.

Dalam sebuah konten yang diunggah oleh akun Instagram Mentors Indonesia, Rizki membagikan pandangan yang jarang dibahas tetapi sangat penting.

Ia menilai rekruter tidak boleh membuat kandidat menunggu lebih dari 15 menit untuk mengikuti sesi interview.

Aturannya terdengar sederhana, tapi alasan di baliknya sangat krusial.

Bisa jadi Momen Intimidatif

Menurut Rizki, banyak kandidat menganggap interview sebagai momen intimidatif. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan buruk sejumlah perusahaan yang membiarkan pelamar menunggu lama saat sesi interview.

Ia menyebutkan bahwa beberapa perusahaan bahkan membuat kandidat menunggu berjam-jam.

“Banyak perusahaan yang kadang-kadang membiarkan (kandidat) nunggu tuh sampai 2 jam, 3 jam, sampai ngantri tuh kadang-kadang,” kata Rizki, dikutip MPN Indonesia dari Instagram @mentors_id, Rabu (3/12).

Menurutnya, pola ini bukan hanya tidak profesional, tetapi juga merugikan perusahaan.

“Ketika orang sudah nunggu 2 jam, kira-kira pas diwawancarain dia ada rasa kesalnya kan,” jelas dia.

Menurut Rizki, rasa kesal itu bukan sekadar perasaan, tetapi bisa memengaruhi kualitas jawaban kandidat selama interview.

Memengaruhi Jawaban Kandidat

Rizki menegaskan bahwa emosi kandidat sangat berpengaruh pada objektivitas saat menjawab pertanyaan.

Jika kandidat sudah kesal, lelah, atau tegang akibat menunggu terlalu lama, itu bisa membuat mereka sulit fokus, tidak maksimal mengekspresikan diri, dan akhirnya tidak menunjukkan kemampuan sebenarnya.

Baca Juga:  Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto Dikabarkan jadi Tersangka KPK

“Ketika rasa kesal akhirnya jadi enggak objektif ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan interview,” jelas Rizki.

Artinya, perusahaan bisa kehilangan potensi kandidat terbaik hanya karena proses yang tidak profesional.

Rekruter Harus Memikirkan ‘Traffic’

Dalam kontennya, Rizki juga memberikan masukan penting bagi para rekruter dan perusahaan. Ia menyarankan agar rekruter selalu memikirkan traffic atau alur jadwal kandidat.

Jika sedang mass recruitment yang biasanya melibatkan banyak pelamar, hal ini justru semakin penting.

Jangan sampai manajemen waktu yang buruk membuat kandidat menunggu berjam-jam hanya untuk giliran wawancara.

Menurutnya, rekruter dan interviewer harus mengelola jadwal dengan baik agar kandidat merasa dihargai, proses penilaian berjalan lebih objektif, dan perusahaan tetap menjaga citra profesional.

Memperlakukan kandidat dengan baik pun akan memberikan citra positif bagi perusahaan di mata pelamar dan publik.

“Segala sesuatunya sebenarnya bisa di-improve, dari sisi point of view kandidat maupun interviewer,” jelas Rizki.

(AKM/NID/RAD)

Trending