Connect with us

Internasional

Puluhan Warga Gaza Nikah Massal di Tengah Reruntuhan Bangunan

Sebanyak 54 pasangan di Gaza melangsungkan pernikahan massal di Kota Khan Younis di tengah reruntuhan akibat perang.

Logompn

Published

on

Puluhan warga gaza nikah massal di tengah reruntuhan bangunan
Puluhan Warga Gaza Nikah Massal di Tengah Reruntuhan Bangunan. Gambar : AP Photo/Abdel Kareem Hana

MPN Indonesia 4 Desember 2025 - Sebanyak 54 pasangan di Gaza melangsungkan pernikahan massal pada Selasa (2/12) di Kota Khan Younis, Palestina, tepat di tengah puing reruntuhan bangunan akibat konflik berkepanjangan.

Acara tersebut digelar di lokasi yang masih menyimpan jejak kehancuran perang dan menjadi simbol keteguhan masyarakat Palestina untuk terus bertahan.

Pasangan Eman Hassan dan Hikmat Lawwa, keduanya berusia 27 tahun, termasuk di antara para mempelai.

Mereka berjalan berdampingan dengan busana tradisional Palestina dan setelan jas sederhana.

“Terlepas dari semua yang telah terjadi, kami akan memulai hidup baru. Insya Allah, ini akan menjadi akhir dari perang,” ujar Hikmat Lawwa dalam keterangannya, dikutip MPN Indonesia dari Times of Israel, Kamis (4/12).

Tradisi nikah massal kembali terlaksana setelah dua tahun nyaris tidak dapat digelar akibat konflik.

Acara ini dipandang sebagai bentuk perlawanan budaya yang menegaskan bahwa harapan tetap tumbuh meski kehidupan masyarakat Gaza masih berada dalam tekanan berat.

Upaya Kolektif Masyarakat Palestina Bangkit dari Kehancuran

Dalam budaya Palestina, pernikahan merupakan perayaan yang sarat makna, melambangkan kesinambungan keluarga dan identitas.

Konflik yang berkepanjangan telah membuat banyak keluarga kehilangan kesempatan merayakan momen tersebut secara layak.

Namun, pernikahan massal ini menunjukkan tekad warga Gaza untuk tetap bergerak maju meski berada dalam situasi yang serba terbatas.

Sepanjang prosesi, musik dan tarian tradisional mengiringi para pengantin.

Warga turut mengibarkan bendera Palestina, menciptakan suasana perayaan di tengah reruntuhan kota.

Meski demikian, kondisi krisis tetap membayangi kehidupan sehari-hari.

Jutaan warga masih berstatus pengungsi, infrastruktur hancur, dan distribusi bantuan kemanusiaan sering terhambat karena kondisi keamanan.

Baca Juga:  Truk Tangki Isi BBM Meledak di Nigeria, Puluhan Orang Tewas dan Luka-luka

Pasangan Eman dan Hikmat, yang sebelumnya mengungsi ke Deir al-Balah, masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar seperti air bersih, makanan, dan tempat tinggal.

“Saya dulu bermimpi punya rumah, pekerjaan, hidup seperti orang lain. Sekarang impian saya hanyalah menemukan tenda untuk ditinggali,” kata Hikmat.

Dukungan Donatur dan Makna Sosial yang Menguat

Acara pernikahan massal ini terselenggara dengan bantuan lembaga kemanusiaan Al Fares Al Shahim yang mendapat dukungan dari Uni Emirat Arab.

Setiap pasangan tidak hanya berkesempatan menikah, tetapi juga menerima bantuan berupa uang tunai dan perlengkapan rumah tangga untuk memulai kehidupan baru.

Menurut Randa Serhan, profesor sosiologi dari Barnard College, pernikahan bagi masyarakat Palestina memainkan peran penting sebagai ritual sosial yang menjaga memori kolektif.

“Setiap pernikahan berarti kelahiran anak-anak baru, dan itu memastikan kenangan dan garis keturunan tidak akan mati,” ucapnya.

Iring-iringan mobil membawa para mempelai melewati jalanan kota yang rusak.

Keluarga dan kerabat menari mengikuti alunan musik, mencoba menghadirkan kebahagiaan di tengah kesedihan yang masih melekat.

Eman mengenakan gaun pengantin adat berwarna putih, merah, dan hijau.

Di balik senyum tipisnya, ia menyimpan duka mendalam atas kehilangan ayah, ibu, dan beberapa kerabat dalam konflik.

“Insya Allah, kami akan bangkit dan membangun kembali, batu demi batu. Pernikahan ini adalah janji untuk masa depan,” pungkas Eman, menggambarkan tekad mereka untuk melanjutkan kehidupan di tengah reruntuhan masa lalu.

(ADN/NID/RAD)

Trending