Connect with us

Berita

15 Ribu Lebih Pengungsi di Sumut Terpapar Penyakit Kulit Pascabanjir

Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Utara mencatat sebanyak 15.687 pengungsi terdampak bencana alam di Sumatra Utara mengalami penyakit kulit.

Logompn

Published

on

15 ribu lebih pengungsi di sumut terpapar penyakit kulit pascabanjir
15 Ribu Lebih Pengungsi di Sumut Terpapar Penyakit Kulit Pascabanjir | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 24 Desember 2025 - Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Utara (Dinkes Sumut) mencatat sebanyak 15.687 pengungsi terdampak bencana alam di Sumatra Utara mengalami penyakit kulit.

Angka tersebut dicatat berdasarkan laporan dari lokasi pengungsian di sejumlah kabupaten dan kota yang terdampak banjir bandang dan longsor di wilayah Sumatra.

Dari angka tersebut, kasus penyakit kulit paling banyak ditemukan di Kabupaten Langkat, Tapanuli Tengah, Deliserdang, Batubara, Tebingtinggi, dan Mandailing Natal.

“Ini perlu menjadi fokus perhatian, terutama terkait faktor risiko seperti paparan air kotor, sanitasi lingkungan yang belum optimal, keterbatasan air bersih, serta kepadatan pengungsian memperbesar risiko gangguan kesehatan kulit,” kata Tenaga Sanitasi Lingkungan Ahli Muda Dinkes Sumut, Dedi Lubis, dalam keterangannya pada Selasa (23/12).

Kondisi Kesehatan Pengungsi Pascabanjir di Sumut

Selain penyakit kulit, Dinkes Sumut juga mencatat lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sebanyak 12.693 kasus, dengan sebaran kasus tertinggi ada di Kabupaten Tapanuli Tengah, Langkat, Deliserdang, Kota Medan, dan Tapanuli Selatan.

Menurut Dedi Lubis, peningkatan ISPA di Tapanuli Tengah terjadi seiring kondisi wilayah yang mulai mengering setelah banjir surut.

“Sekarang Tapanuli Tengah mulai kering, sehingga keluhan ISPA meningkat,” ujarnya.

Adapun penyakit lain yang turut dilaporkan, ialah 2.424 kasus diare, 991 kasus influenza like illness (ILI), serta 636 kasus suspek demam tifoid.

Selain itu, Dinkes Sumut juga melaporkan kasus malaria dan laporan suspek dengue. Dedi menjelaskan bahwa fase setelah banjir surut tetap menjadi periode rawan karena sisa genangan air berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk.

“Sementara itu, terdapat 266 kasus malaria dan 12 laporan suspek dengue. Kami meminta kewaspadaan tetap ditingkatkan mengingat potensi peningkatan tempat perindukan nyamuk biasanya muncul setelah air surut,” jelasnya.

Baca Juga:  Remaja SMP di Medan Nekat Bunuh Ibu Kandungnya Sendiri

Persoalan Lain di Pengungsian

Kondisi pengungsian pascabanjir di Kabupaten Tapanuli Tengah juga masih menyisakan persoalan nonmedis yang berpotensi berdampak pada kesehatan masyarakat.

Salah satu temuan adalah minimnya ruang privat bagi pengungsi, khususnya pasangan suami istri, di lokasi pengungsian GOR Tapanuli Tengah.

“Temuan tersebut muncul dari hasil diskusi tim kesehatan jiwa Dinkes Sumut bersama Kementerian Kesehatan, serta pengamatan lapangan tim kesehatan reproduksi dan psikologi. Jadi di GOR Tapteng tidak ada ruang mesra untuk suami istri,” kata Dedi.

Ia menambahkan bahwa meskipun persoalan tersebut bukan kewenangan langsung sektor kesehatan, dampaknya dapat berujung pada masalah kesehatan fisik dan mental para pengungsi.

Dedi menyebut, permintaan terkait ruang privat tersebut disampaikan langsung oleh para pengungsi melalui hasil wawancara tim kesehatan reproduksi dan psikologi.

“Hasil wawancara dari tim kesehatan reproduksi dan psikologi, itu permintaan langsung dari pengungsi. Kalau dari Dinkes, ini bukan leading kami, biasanya menjadi ranah dinas sosial. Tapi dampaknya bisa ke kami,” ujarnya.

(AKM/NID/RAD)

Trending