Connect with us

Lifestyle

Hati-hati Salah Paham! Ini 12 Jenis Percakapan yang Sebaiknya Tak Disampaikan lewat Chat

Terlalu sering pakai chat? Ini 12 jenis percakapan yang sebaiknya tidak dilakukan lewat pesan teks agar terhindar dari salah paham.

Logompn

Published

on

Hati hati salah paham! ini 12 jenis percakapan yang sebaiknya tak disampaikan lewat chat
Ilustrasi pesan teks. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 3 Januari 2026 - Pesan teks menjadi sarana komunikasi yang paling penting, terutama di kalangan generasi muda. Namun, tidak semua jenis percakapan cocok dilakukan lewat teks.

Menurut Gabrielle (Morse) Sanderson, LMHC, saat ini orang lebih bergantung pada pesan teks. Bahkan, banyak yang merasa cemas saat menerima panggilan telepon.

Padahal, untuk beberapa situasi yang penting, penggunaan pesan teks justru dapat menimbulkan kesalahpahaman dan efek negatif.

“Berkomunikasi lewat pesan singkat bermanfaat untuk urusan logistik, respons cepat, dan memberi seseorang ruang untuk memproses informasi sebelum percakapan yang lebih serius,” jelas Evon Inyang, LAMFT, pendiri ForwardUs Counseling, dikutip MPN Indonesia dari laman Verywell Mind, Sabtu (3/1).

Namun, ia menegaskan pentingnya menyadari kapan sebuah pesan bisa menjadi jembatan komunikasi dan kapan justru menjadi penghalang.

Ketidakhadiran nada suara, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh dalam pesan teks kerap kali menyebabkan miskomunikasi.

Dengan risiko tersebut, para ahli menyarankan agar pengguna berhati-hati dalam memilih medium komunikasi yang sesuai dengan jenis pesannya.

Dikutip MPN Indonesia dari laman Reader’s Digest, berikut 12 jenis percakapan yang sebaiknya tidak dilakukan lewat pesan teks.

1. Mengakhiri Hubungan

Julia Spira, pakar kencan online, menegaskan bahwa memutuskan hubungan lewat teks adalah tindakan yang tidak pantas dan menyakitkan.

“Jika kamu cukup dekat untuk berhubungan intim bersama seseorang dan membicarakan masa depan, bersikaplah sopan dengan menelepon atau bertemu langsung,” ujarnya.

2. Membatalkan Kencan

Membatalkan rencana kencan melalui pesan dapat disalahartikan sebagai ketidaktertarikan. “Kecuali jika kamu benar-benar berniat menjadwalkan ulang maka Anda dapat mengatakan, ‘Ada sesuatu yang terjadi, tetapi saya sangat ingin menjadwalkan ulang. Bagaimana kalau Selasa atau Sabtu?’ Dengan begitu, mereka tahu bahwa mereka belum dihapus,” jelas Spira.

3. Menyampaikan Kabar Buruk

Courtney Geter, terapis pernikahan dan keluarga, mengingatkan bahwa kabar buruk sebaiknya disampaikan secara langsung atau lewat telepon.

“Orang lain tidak bisa melihat sinyal nonverbalmu, dan nada pesanmu bisa ditafsirkan berbeda dari perasaanmu yang sebenarnya,” katanya.

4. Menyampaikan Kabar Baik

Kabar bahagia seperti pertunangan atau kehamilan lebih baik disampaikan secara personal.

Mengandalkan teks untuk kabar besar dapat mengurangi keintiman dalam komunikasi.

5. Mengirim Informasi Sensitif dan Pribadi

Geter mengingatkan agar tidak mengirim informasi pribadi, sensitif, atau finansial lewat teks.

“Sebelum mengirim pesan pribadi atau gambar melalui teks atau email, tanyakan pada diri Anda konsekuensi jika orang lain selain penerima melihat informasi tersebut. Jika Anda menemukan setidaknya satu konsekuensi negatif, pertimbangkan kembali untuk mengirim informasi tersebut,” ujarnya.

6. Mengangkat Masalah Serius

Nikki Martinez, PsyD, menegaskan bahwa pesan teks rawan salah paham.

“Jangan pernah melakukan percakapan penting dan mendalam lewat pesan teks karena masalah nada,” jelas Nikki.

7. Meluapkan Emosi Negatif

Menurut Dawn Michael, PhD, pesan emosional saat marah cenderung melampiaskan perasaan tanpa membuka ruang dialog.

Ini dapat menyebabkan penyesalan karena pesan tidak bisa ditarik kembali.

8. Menyebarkan Gosip

Michael menambahkan bahwa “apa pun yang tidak ingin kamu lihat oleh orang lain bisa saja muncul lewat pesan teks.”

Risiko penyebaran tangkapan layar membuat pesan menjadi tidak lagi privat.

9. Mengeluh tentang Pekerjaan

Keluhan soal pekerjaan, apalagi kepada rekan kerja, sebaiknya tidak disampaikan lewat teks.

Ini dapat merusak hubungan profesional dan menimbulkan kesan negatif yang berkelanjutan.

10. Melanjutkan Pertengkaran

Sarah Mandel, LCSW, menyarankan untuk menghindari memperpanjang konflik lewat teks.

“Melihat wajah pasangan dan mendengar nada suaranya memicu hormon ‘feel-good’ di otak yang membuat tubuh lebih rileks,” jelas Sarah.

11. Mengirim Pesan Panjang

Membanjiri seseorang dengan pesan beruntun tanpa memberi waktu respons dapat menciptakan kesan putus asa.

“Beri mereka ruang dan jangan membombardir ponsel mereka dengan pesan berlebihan,” kata Mandel.

12. Meminta Maaf

Permintaan maaf yang tulus tidak efektif jika hanya disampaikan lewat teks.

Nada dan emosi sulit ditangkap, dan bisa terdengar tidak tulus atau bahkan menyakitkan.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Continue Reading

Trending