Connect with us

Politik

Prabowo Kumpulkan 1.200 Rektor dan Guru se-Indonesia di Istana Hari Ini, Bahas Apa?

Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan 1.200 rektor–guru besar di Istana untuk membahas pendidikan, SDM, dan Indonesia Emas 2045.

Logompn

Published

on

Prabowo kumpulkan 1.200 rektor dan guru se indonesia di istana hari ini, bahas apa
Potret Prabowo. Gambar: Instagram/@prabowo.

MPN Indonesia 15 Januari 2026 - Presiden RI Prabowo Subianto mengumpulkan 1.200 rektor, guru besar, serta dekan dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (15/1) pagi.

Pertemuan ini merupakan bagian dari agenda resmi Presiden dalam kapasitasnya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan untuk berdialog serta menyampaikan pandangan dan rencana besar terkait pendidikan dan pembangunan nasional.

Menteri Sekretaris Negara sekaligus Juru Bicara Presiden, Prasetyo Hadi, menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan update mengenai kondisi nasional, situasi geopolitik, serta arah pembangunan ke depan, terutama dalam penguatan sektor pendidikan.

“Jadi, hari ini memang betul ada agenda dari Bapak Presiden. Bukan memanggil, ya, ini bagian dari agenda Bapak Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan untuk berdiskusi, menyampaikan pandangan-pandangan beliau, update-update terhadap kondisi negara kita maupun kondisi geopolitik, dan rencana-rencana besar yang harus kita kerjakan ke depan,” ujar Prasetyo di Kompleks Istana Negara kepada wartawan pada Kamis (15/1).

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menyebut pertemuan ini sebagai momen bersejarah, mengingat ini adalah kali kedua Presiden mengumpulkan para akademisi dari berbagai universitas secara langsung.

“Ini adalah suatu yang sangat bersejarah. Ini kedua kalinya Bapak Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan rektor-rektor, guru besar, dan juga dekan. Yang pertama sudah terjadi tahun lalu dan sepanjang pengetahuan saya, sepanjang sejarah ini, tidak pernah seorang Presiden mengumpulkan para akademisi dari universitas,” ujar Stella di Istana.

Fokus Dialog dan Isu yang Dibahas

Acara dialog yang dimulai pagi hari ini berlangsung tertutup dan dikhususkan bagi akademisi dari bidang sosial dan humaniora.

Stella menjelaskan bahwa perhatian negara tidak hanya diberikan kepada bidang sains dan teknologi (STEM), tetapi juga kepada ilmu sosial dan humaniora.

Baca Juga:  Rekor Atlet Angkat Besi Indonesia Rahmat Erwin Diakui Guinness World Records

“Yang sudah hadir ini 1.200 pada hari ini. Jadi, banyak sekali yang hadir dan juga dikhususkan bagi bidang sosial humaniora. Jadi, kalau sebelumnya itu agak umum dan juga ada kekhususan, mungkin mengenai STEM, pada hari ini dikhususkan kepada bidang sosial humaniora,” kata Stella.

Prasetyo Hadi menambahkan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari fokus pemerintah terhadap sektor pendidikan sebagai fondasi pembangunan nasional, seiring dengan upaya pencapaian swasembada pangan dan energi.

“Kalau saudara-saudara perhatikan, ini bagian dari kemarin dalam satu minggu. Betul-betul kita ingin menjadikan pendidikan karena memang kita pahami pendidikan adalah salah satu pondasi dan faktor kunci,” ujarnya.

Dalam dialog tersebut, Presiden Prabowo juga menyampaikan pentingnya penguatan sumber daya manusia menuju visi Indonesia Emas 2045.

“Jadi, selain kita mengejar dan bekerja keras mencapai swasembada pangan, swasembada energi, maka salah satu pondasi utamanya adalah sumber daya manusia. Pengawakan, baik sekarang maupun ke depan, menuju Indonesia Emas 2045. Jadi, ini adalah bagian dari rangkaian kegiatan Bapak Presiden di bidang pendidikan,” jelas Prasetyo.

Isu-isu strategis yang turut dibahas dalam dialog meliputi percepatan pemenuhan kebutuhan tenaga medis, terutama dokter, yang saat ini masih kekurangan lebih dari 100.000 orang.

“Sebenarnya, diskusinya ini juga sudah dimulai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, ya. Misalnya, berkenaan dengan bagaimana kita mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter kita yang berdasarkan data, kita masih kekurangan hampir di atas 100.000. Nah, ini, kan, kita harus cari cara bagaimana untuk bisa mempercepat,” terang Prasetyo.

Selain itu, pembahasan juga menyinggung soal upaya pemerintah dalam mengurangi beban operasional perguruan tinggi negeri, agar biaya pendidikan tidak memberatkan masyarakat.

Baca Juga:  Respons Titiek Soeharto saat Prabowo Tampil di PBB: Bangga, Speechless

“Kemudian juga kualitas lembaga-lembaga pendidikan kita, universitas-universitas kita, baik dosennya, sarana prasarananya, termasuk kita sedang menghitung dan berpikir bagaimana bisa mengurangi beban operasional di setiap perguruan-perguruan tinggi negeri kita,” ujar Prasetyo.

(AKM/NID/RAD)

Trending