Connect with us

Selebriti

Kak Seto Buka Suara soal Kasus Child Grooming usai Dituding Abaikan Laporan Aurelie Moeremans

Kak Seto memberikan klarifikasi terkait tudingan lama saat menjabat Ketua Komnas PA, menyusul viralnya memoar Broken Strings.

Logompn

Published

on

Kak seto buka suara soal kasus child grooming usai dituding abaikan laporan aurelie moeremans
Kak Seto Buka Suara soal Kasus Child Grooming usai Dituding Abaikan Laporan Aurelie Moeremans. Gambar: Instagram/@kaksetosahabatanak

MPN Indonesia 15 Januari 2026 - Seto Mulyadi atau Kak Seto memberikan klarifikasi atas tudingan publik yang kembali mencuat terkait peran masa lalunya saat menjabat sebagai Ketua Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA).

Isu tersebut mencuat seiring viralnya memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans yang mengungkap pengalaman grooming saat remaja.

Klarifikasi disampaikan Kak Seto melalui unggahan Instagram Story @kaksetosahabatanak pada Rabu (14/1).

Kak Seto menegaskan sikap tegasnya terhadap praktik manipulasi dalam relasi yang tidak setara dengan anak, serta mengecam praktik child grooming dalam bentuk apa pun.

“Kami mengecam segala bentuk manipulasi, relasi tidak setara, dan praktik child grooming. Anak tidak pernah berada dalam posisi setara untuk dimintai pertanggungjawaban atas relasi yang dibangun melalui tekanan, bujuk rayu, atau ketimpangan kuasa,” tulis Kak Seto, dikutip MPN Indonesia, Kamis (15/1).

Kasus ini kembali mencuat setelah publik menyoroti ulang laporan Jean Marc Moeremans, ayah Aurelie, yang diajukan ke Komnas PA pada 2010.

Kak Seto: Standar Perlindungan Anak Kini Jauh Lebih Ketat

Dalam klarifikasinya, Kak Seto menyatakan bahwa pemahaman tentang perlindungan anak kini telah berubah signifikan dibandingkan satu dekade lalu.

“Perlu kami sampaikan bahwa praktik pendampingan anak dan cara pandang terhadap relasi kuasa, kerentanan remaja, serta dampak psikologis jangka panjang telah mengalami perkembangan yang sangat signifikan dalam lebih dari satu dekade terakhir,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa tindakan pendampingan yang dilakukan saat itu berlandaskan pengetahuan dan kewenangan yang berlaku pada masanya.

“Pada masanya, setiap pendampingan dan pernyataan disampaikan berdasarkan pengetahuan, kewenangan, serta kerangka pemahaman yang berlaku saat itu,” sambung Kak Seto.

Baca Juga:  Denny Sumargo Tolak Ajakan Duel di Ring Tinju dengan Farhat Abbas

Lebih lanjut, ia mengakui bahwa saat ini standar perlindungan anak telah menjadi lebih ketat dan menuntut kepekaan lebih tinggi terhadap manipulasi, tekanan emosional, dan ketimpangan kuasa.

“Namun kami menyadari bahwa standar perlindungan anak hari ini menuntut kepekaan, kehati-hatian, dan perspektif yang jauh lebih kuat terhadap potensi manipulasi, tekanan emosional, dan ketimpangan kuasa dalam relasi yang melibatkan anak dan remaja,” lanjutnya.

Kak Seto Apresiasi Bagi Siapa pun yang Berani Bersuara

Kak Seto juga menyampaikan penghormatan kepada siapa pun yang berani bersuara mengenai pengalaman masa lalunya.

“Kami memandang suara tersebut sebagai pengingat penting agar sistem perlindungan anak terus diperbaiki, diperkuat, dan semakin berpihak pada kepentingan terbaik anak,” tulisnya.

Ia mengajak seluruh pihak untuk menyikapi isu ini dengan empati serta kebijaksanaan, tanpa melupakan tujuan utama perlindungan anak.

“Kami mengajak seluruh pihak untuk menyikapi isu ini dengan empati, kebijaksanaan, dan fokus pada tujuan bersama: menciptakan ruang yang aman bagi anak-anak Indonesia hari ini dan di masa depan,” tambahnya.

Polemik ini bermula dari memoar Broken Strings yang dirilis Aurelie Moeremans pada akhir 2025.

Buku tersebut mengungkap pengalaman masa lalunya dalam relasi manipulatif dengan seorang pria dewasa saat ia berusia 15 tahun.

Aurelie menulis buku tersebut bukan untuk menyerang siapa pun, tetapi sebagai media penyembuhan diri dan membuka dialog publik tentang kekerasan dalam relasi yang kerap tersembunyi.

Sejak diluncurkan, buku ini menarik perhatian luas, diakses puluhan ribu kali dalam beberapa minggu, dan mendapat dukungan dari masyarakat yang memiliki pengalaman serupa.

Aurelie juga mengaku menerima intimidasi dan fitnah usai merilis buku tersebut, yang sebagian juga ditujukan kepada orang-orang yang mendukungnya.

Baca Juga:  Akui Tinggal dengan Ibunya, Kini Ria Ricis Bangun Rumah untuk Moana

(ELG/NID/RAD)

Trending