Ekonomi
Ini Kata Bos BCA soal Sahamnya Anjlok usai Dijual Investor Asing
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menyatakan bahwa fluktuasi saham BBCA merupakan hal yang wajar.
MPN Indonesia 29 Januari 2026 - Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami penurunan signifikan seiring aksi jual investor asing yang terus berlanjut sepanjang tahun 2026.
Berdasarkan data CNBC yang dikutip MPN Indonesia dari laman IndoPremier, total nilai net sell asing pada saham BBCA periode 19-27 Januari mencapai Rp5,86 triliun.
Menanggapi hal itu, Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menyatakan bahwa fluktuasi saham BBCA merupakan hal yang wajar, mengingat sekitar 70% hingga 80% dari porsi saham free float BBCA dimiliki oleh investor asing.
Ia menegaskan bahwa kondisi global dan sentimen pasar menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan saham perseroan.
“Kalau harga saham memang normal kalau saham itu naik turun, karena 70% sampai 80% itu investor asing, porsi yang free float ya, ini memang tergantung situasi di global dan situasi investor juga,” ujar Hendra dalam konferensi pers virtual, Selasa (27/1).
Hendra menambahkan, pihaknya tidak dapat memastikan apakah saat ini merupakan waktu yang tepat bagi investor untuk membeli saham BBCA.
“Agak sulit untuk dijawab apakah ini saatnya beli atau tidak. Karena ini tergantung bagaimana para investor asing melihat prospek ekonomi Indonesia ke depannya,” imbuhnya.
Kinerja Keuangan BCA Tahun 2025
Meski harga saham mengalami tekanan, BCA mencatatkan kinerja positif selama tahun buku 2025.
Laba bersih perusahaan meningkat 4,9% year on year (yoy) menjadi Rp 57,5 triliun.
Pertumbuhan laba ini didukung oleh kenaikan pendapatan operasional sebesar 5,4% yoy serta perbaikan pada rasio biaya terhadap pendapatan (cost-to-income ratio/CIR).
Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 10,2% yoy hingga mencapai Rp1.249 triliun. Sementara itu, penyaluran kredit tumbuh 7,7% yoy menjadi Rp993 triliun hingga Desember 2025.
Dana giro dan tabungan (CASA) juga mencatat pertumbuhan 13,1% yoy menjadi Rp1.045 triliun.
Kualitas kredit BCA pun menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah (NPL) tercatat di angka 1,7%, sedangkan rasio loan at risk (LAR) berada di level 4,8%, turun dari 5,3% pada tahun sebelumnya. Cadangan NPL mencapai 183,8%, dan LAR berada di level 71,6%.
Secara rata-rata, pertumbuhan kredit BCA selama 2025 mencapai 10,8%. Penyaluran kredit tersebar ke berbagai sektor seperti manufaktur, perdagangan, restoran, hotel, dan rumah tangga.
Hendra menyampaikan bahwa pencapaian tersebut turut ditopang oleh dukungan pemerintah dan otoritas.
Ia juga menyebut bahwa BCA menyelenggarakan berbagai kegiatan sepanjang tahun seperti dua kali perhelatan expo, BCA UMKM Fest, BCA Wealth Summit, dan Gebyar Hadiah BCA.
“Berbagai kegiatan itu berdampak positif terhadap kinerja BCA, dan menjadi wujud komitmen kami untuk terus hadir serta memenuhi berbagai kebutuhan nasabah dan masyarakat Indonesia,” ungkapnya.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
