Connect with us

Berita

Penyebab Subsiden Tanah di Perkotaan

Fenomena subsiden tanah jadi persoalan serius di sejumlah kota besar di Indonesia.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 05 01t140727.766
Fenomena sinkhole yang kerap diangga mirip dengan subsiden | Gambar: Jon White/CGS.

MPN Indonesia 1 Mei 2025 - Fenomena subsiden tanah atau penurunan permukaan tanah menjadi persoalan serius di sejumlah kota besar di Indonesia, terutama yang berada di wilayah pesisir seperti Jakarta, Semarang, dan Pekalongan.

Deputi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa meskipun penyebab utama subsiden berkaitan dengan pengambilan air tanah yang berlebihan dan kondisi geologi, tapi faktor cuaca ekstrem juga turut memperparah dampaknya.

“Dari perspektif klimatologis dan meteorologis, hujan berintensitas tinggi dan perubahan pola curah hujan akibat perubahan iklim global memberikan kontribusi signifikan terhadap dampak subsiden,” ujar Guswanto kepada MPN Indonesia, Rabu (30/4).

Temuan BMKG

BMKG mencatat peningkatan kejadian hujan ekstrem di Indonesia, bahkan di luar musim hujan.

Hujan lebat dalam waktu singkat menyebabkan tanah menjadi jenuh air sehingga mempercepat proses pemadatan dan penurunan permukaan tanah, terutama di wilayah dengan karakter tanah lempung lunak atau aluvial.

“Hujan yang sangat lebat dalam waktu singkat dapat membuat tanah cepat jenuh oleh air, sehingga tanah menjadi lebih mudah padat dan turun,” kata Guswanto.

Tak hanya itu, curah hujan ekstrem yang terjadi terus-menerus juga bisa membebani sistem drainase dan memperparah risiko banjir.

Genangan air yang berkepanjangan membuat tanah kehilangan daya dukungnya, mempercepat proses subsiden di kawasan padat penduduk.

Kolaborasi Lintas Lembaga

Meski bukan lembaga teknis utama dalam pengukuran deformasi tanah, BMKG berperan penting dalam memberikan data cuaca dan iklim yang relevan.

BMKG telah menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga, termasuk Badan Informasi Geospasial (BIG), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), BNPB, dan pemerintah daerah.

“Kami menekankan bahwa penanganan subsiden membutuhkan pendekatan multidisiplin. Data iklim adalah salah satu dasar penting untuk perencanaan pembangunan wilayah pesisir yang adaptif dan berkelanjutan,” kata Guswanto.

Baca Juga:  Pesan UAH untuk Elite Politik terkait Bencana Sumatra: Setop Dulu Atraksinya, Fokus Kemanusiaan

(AKM/NID/RAD)

Trending