Connect with us

Berita

Benarkah Monas dan Gedung DPR Simbolkan Lingga-Yoni? Ini Faktanya!

Benarkah bangunan Monas dan Gedung DPR RI masing-masing melambangkan alat kelamin laki-laki dan perempuan? Simak ulasannya berikut ini.

Logompn

Published

on

Benarkah monas dan gedung dpr simbolkan lingga yoni ini faktanya!
Benarkah Monas dan Gedung DPR Simbolkan Lingga-Yoni? Ini Faktanya! | Gambar: Wikipedia/Sakurai Midori, Dok. MPR RI

MPN Indonesia 31 Agustus 2025 - Sejumlah konten di media sosial menyebarkan narasi bahwa Monumen Nasional (Monas) dan Gedung DPR RI menyimbolkan lingga dan yoni, yang dalam kultur Hindu merupakan simbol kesuburan dan keseimbangan alam semesta.

Monas disebut melambangkan lingga atau alat kelamin laki-laki, sedangkan Gedung DPR disebut mewakili yoni atau alat kelamin perempuan.

Narasi ini dikaitkan dengan gagasan Presiden Soekarno yang dikenal sebagai penggagas sejumlah proyek mercusuar di Jakarta pada masa pemerintahannya.

Lantas apakah anggapan itu benar? Simak ulasannya di bawah ini.

Sejarah Pembangunan Monas

Pembangunan Monas dimulai pada 1961 dan baru selesai pada masa Orde Baru. Kemudian diresmikan oleh Soeharto pada 12 Juli 1975.

Mengacu pada jurnal Monumen Nasional and Sukarno’s Political Intention on Jakarta Historical City (2007) oleh Tutin Aryanti, ide pembangunan Monas berasal dari Soekarno.

Bangunan ini terdiri dari dua elemen utama, yaitu tugu dan pelataran cawan. Tugu merepresentasikan lingga, sedangkan pelataran cawan mewakili yoni.

Proses pembangunan Monas memakan waktu 14 tahun dan melibatkan dua arsitek, yakni Soedarsono dan Frederich Silaban. Namun, rancangan Soedarsono yang dipilih Soekarno.

Monas memiliki tinggi 132 meter dan bagian puncaknya dihiasi tugu lidah api yang dilapisi emas seberat 38 kilogram.

Sebanyak 28 kilogram emas disumbangkan oleh saudagar asal Aceh, Teuku Markam. Kemudian pada 1995, berat emas ditambah menjadi 50 kilogram.

Awalnya, panitia pembangunan hanya ingin membangun tugu setinggi 45 meter untuk menyimpan bendera pusaka.

Namun, Soekarno menginginkan tugu setinggi lebih dari 100 meter dengan museum berukir di dalamnya dan lift menuju puncak. Bagian atas juga harus terbuat dari emas murni.

Baca Juga:  Belum Tepat Sasaran, Purbaya-DPR-Danantara Bakal Ubah Skema Subsidi BBM dan Listrik 2026

Sejarah Pembangunan Gedung DPR RI

Gedung DPR RI awalnya dirancang sebagai tempat penyelenggaraan Conference of the New Emerging Forces (Conefo).

Pembangunannya dimulai pada 8 Maret 1965, namun terhenti akibat peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Pembangunan dilanjutkan pada 9 November 1966, dan dialihfungsikan menjadi gedung DPR. Gedung ini kemudian diresmikan pada 1 Februari 1983.

Ciri khas Gedung DPR adalah atap hijau berbentuk dua kubah besar yang dirancang oleh arsitek Soejoedi Wirjoatmodjo dengan bantuan Ir Sutami.

Dua kubah tersebut dipisahkan oleh dua balok plengkung yang bertemu di puncaknya, menggambarkan kepakan sayap burung Garuda.

Namun, gedung ini kemudian dijuluki “Gedung Kura-Kura” karena bentuk atapnya yang menyerupai tempurung kura-kura.

Jadi, isu yang mengatakan Monas merupakan representasi alat kelamin laki-laki dan Gedung DPR RI melambangkan alat kelamin perempuan tidaklah benar.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending