Connect with us

Ekonomi

Korea Selatan Siap Tambah Investasi di Indonesia, Bisakah Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi?

Korea Selatan investasi Rp30 T di Indonesia untuk sektor strategis. Diharapkan dorong ekonomi, serap tenaga kerja, dan perkuat industri hijau nasional.

Logompn

Published

on

Korea selatan siap tambah investasi di indonesia, bisakah dongkrak pertumbuhan ekonomi
Korea Selatan Siap Tambah Investasi di Indonesia, Bisakah Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi? Gambar: Instagram/@sekretariat.kabinet

MPN Indonesia 2 Mei 2025 - Indonesia kembali menarik perhatian internasional setelah Korea Selatan menyatakan komitmen investasi senilai USD 1,7 miliar pada sektor-sektor strategis seperti petrokimia, baja, nikel, dan pertahanan.

Investasi ini diumumkan di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu dan diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat industri dalam negeri, pada Rabu (30/4).

Menurut peneliti bidang Ekonomi CELIOS, Jaya Darmawan, peningkatan foreign direct investment dari Korea Selatan yang mencapai Rp30 triliun memberikan sinyal positif bagi perekonomian nasional Indonesia.

“Secara umum, peningkatan foreign direct investment dari Korea Selatan yang mencapai Rp30 T ini memang positif untuk perekonomian nasional, terutama dalam menggerakkan industri, pertumbuhan ekonomi, dan penyerapan tenaga kerja,” ujar Jaya Darmawan kepada MPN Indonesia dalam pesan singkat, pada Kamis (1/5).

Namun, ia juga mengingatkan bahwa investasi asing membawa potensi risiko jika tidak dikelola dengan baik.

“Perlu dilihat dengan cermat bidang dan bagaimana investasi ini akan dieksekusi, karena investasi asing bukan tidak tanpa risiko atau eksternalitas negatif kalau melihat track record yang ada,” tambahnya.

Sektor Strategis dan Kebutuhan Jangka Panjang

Investasi Korea Selatan ini mencakup sektor-sektor yang dianggap sangat strategis bagi Indonesia.

Jaya Darmawan menilai bahwa sektor petrokimia, baja, nikel, dan pertahanan sesuai dengan kebutuhan jangka panjang Indonesia, terutama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dalam sektor baja, Jaya menekankan pentingnya transisi menuju produksi baja hijau menggunakan teknologi Electric Arc Furnace (EAF) yang memanfaatkan energi terbarukan.

Baca Juga:  Gagal Piala Dunia, Timnas Korea Selatan dan Eks Pelatih Disambut Cemoohan saat Kembali ke Negaranya

“Investasi yang mengarah pada baja hijau adalah langkah positif, tetapi itu semua tergantung pada bagaimana teknologi itu diimplementasikan dan bagaimana pemerintah memberikan dukungan melalui regulasi yang mendorong industri hijau,” jelasnya.

Jaya juga menyoroti potensi kerja sama dengan POSCO sebagai rekanan Krakatau Steel dalam pengembangan baja hijau.

“Fokus ke baja hijau ini akan semakin membuka potensi pasar Indonesia ke Eropa yang memiliki kebijakan CBAM atau negara maju lain yang memiliki kebijakan serupa,” lanjutnya.

Untuk sektor nikel, khususnya produksi katoda oleh Ecopro, Jaya menyatakan bahwa komitmen penggunaan energi terbarukan, seperti panel surya dan laut, patut didukung.

Namun, ia juga menegaskan perlunya pembenahan di sisi hulu industri nikel yang masih mengandalkan batu bara, memiliki masalah pembuangan limbah tailing, serta persoalan kesejahteraan dan keselamatan tenaga kerja.

Tantangan Realisasi dan Kepastian Regulasi

Meski komitmen investasi ini besar, realisasi di lapangan seringkali menghadapi berbagai hambatan.

Jaya mengingatkan bahwa kepastian hukum dan regulasi menjadi faktor krusial untuk menarik dan mempertahankan investasi asing.

“Pemerintah perlu memberikan jaminan kepastian regulasi dan peraturan yang jelas sehingga memberikan kepastian hukum yang jelas bagi investor asing,” ungkapnya.

Selain itu, Jaya menyarankan agar pemerintah memberikan dukungan berupa regulasi industri hijau yang lebih pasti dan insentif untuk setiap komitmen industri berkelanjutan.

Contohnya termasuk insentif perpajakan atau bantuan pemetaan wilayah potensial melalui dashboard ekonomi restoratif/industri restoratif (berkelanjutan).

Menjaga Keberlanjutan dan Mengelola Risiko

Jaya Darmawan juga mengingatkan bahwa pengalaman dari investasi sebelumnya, seperti di sektor pertambangan nikel yang dikelola oleh China di Morowali dan Maluku Utara, menunjukkan bahwa risiko lingkungan dan sosial tidak boleh diabaikan.

“Investasi asing memang memberikan potensi besar bagi ekonomi Indonesia, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa ada risiko yang menyertainya, seperti dampak lingkungan dan sosial yang bisa timbul jika tidak diawasi dengan ketat,” tegasnya.

Baca Juga:  Sugiono ke India Hadiri Pertemuan BRICS, Bahas Gaza hingga Ekonomi Digital

Selain itu, sektor lain yang menjadi bagian dari investasi Korea Selatan harus memastikan penggunaan energi terbarukan yang sesungguhnya, bukan solusi palsu seperti panas bumi, cofiring biomassa, atau gas.

Teknologi pengelolaan limbah (waste management) dan aspek sosial, termasuk kesejahteraan tenaga kerja, juga harus menjadi prioritas agar investasi ini memberikan manfaat berkelanjutan.

Diplomasi dan Hubungan Internasional sebagai Fondasi Kerja Sama

Keputusan Korea Selatan untuk meningkatkan investasi di Indonesia juga mencerminkan penguatan diplomasi dan hubungan internasional kedua negara.

Kerja sama ini diharapkan tidak hanya menciptakan keuntungan ekonomi, tetapi juga mempererat hubungan strategis yang saling menguntungkan di bidang teknologi, industri hijau, dan pengembangan sumber daya manusia.

Langkah ini merupakan bagian dari kerja sama bilateral yang lebih luas, menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra utama Korea Selatan di kawasan Asia Tenggara dalam bidang investasi dan inovasi industri.

(AKM/NID/RAD)

Trending