Ekonomi
Lonjakan Judi Online Ungkap Lemahnya Regulasi Keuangan Digital
CORE Indonesia soroti celah regulasi keuangan dan risiko perlindungan konsumen dari pemblokiran 17.026 rekening judi online oleh OJK.
MPN Indonesia 14 Juli 2025 - Lonjakan kasus transaksi judi online dan pemblokiran 17.026 rekening oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti masih lemahnya sistem regulasi keuangan dalam menghadapi kejahatan digital.
CORE Indonesia menyatakan, kebijakan pemblokiran masif ini menimbulkan sejumlah risiko baik terhadap perlindungan konsumen maupun stabilitas sistem perbankan.
Risiko Perlindungan Konsumen Akibat Blokir Massal
Direktur Riset CORE Indonesia, Etika Karyani, menilai pemblokiran rekening tanpa proses due diligence yang memadai merupakan langkah yang gegabah dan berisiko tinggi terhadap hak konsumen.
“Tanpa verifikasi jelas, konsumen yang tidak bersalah bisa ikut terblokir, dan ini jelas mencederai prinsip perlindungan konsumen,” ujar Etika kepada MPN Indonesia melalui pesan singkat, Kamis (10/7).
Etika menambahkan, jika kesalahan blokir terjadi secara luas, hal ini dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap sistem perbankan.
Efektivitas Jangka Panjang Diragukan
Terkait dengan tujuan kebijakan ini, Etika menilai bahwa efek jera hanya bersifat sementara.
Ia menyebut para pelaku judi online bisa saja beralih menggunakan jalur transaksi di luar sistem perbankan formal.
“Kebijakan ini mungkin memberi efek kejut atau jera sesaat, namun efektivitas jangka panjangnya patut dipertanyakan. Alih-alih benar-benar kapok, para pelaku judol bisa saja berpindah ke jalur transaksi di luar perbankan formal untuk menghindari deteksi,” jelasnya.
Waspada Risiko Sistemik dan Gugatan Hukum
CORE Indonesia juga mengingatkan bahwa langkah pemblokiran yang tidak tepat sasaran bisa memicu risiko sistemik dalam dunia perbankan.
Bank dinilai harus memastikan setiap tindakan memiliki dasar hukum dan prosedur yang jelas agar tidak berujung pada gugatan hukum.
“Jika terjadi salah blokir secara meluas, kepercayaan nasabah terhadap perbankan bisa anjlok dan hal itu dapat berdampak pada stabilitas sistem keuangan,” ungkapnya.
Ia menekankan pentingnya mekanisme banding bagi nasabah yang dirugikan agar proses pemblokiran tidak merugikan pihak yang tidak bersalah.
“Bank juga perlu menyediakan mekanisme banding bagi nasabah yang merasa tidak bersalah, agar jika terjadi salah blokir bisa segera dikoreksi sebelum berlanjut ke gugatan hukum,” tambahnya.
Regulasi Masih Longgar, Praktik Jual-Beli Rekening Jadi Celah
Menurut CORE Indonesia, salah satu penyebab utama lemahnya deteksi transaksi judi online adalah masih adanya celah dalam regulasi keuangan, terutama terkait praktik jual-beli rekening yang marak digunakan untuk menyamarkan aliran dana.
“Masih terdapat celah regulasi dalam deteksi transaksi judi online yang perlu segera ditutup – misalnya hingga kini belum ada aturan spesifik soal praktik jual-beli rekening atau aliran dana judi online,” tegas Etika.
Praktik jual-beli rekening ini membuat pelacakan dana hasil kejahatan semakin sulit karena sering kali menggunakan identitas fiktif atau rekening pihak ketiga.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
