Connect with us

Ekonomi

Siap Terbang ke China Bahas Utang Whoosh, Purbaya: Asal Dia yang Bayar Aja ke Sananya

Menkeu Purbaya menyatakan kesiapannya untuk terbang ke China guna membahas restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh.

Logompn

Published

on

Menkeu purbaya siap terbang ke china bahas utang whoosh
Menkeu Purbaya Siap Terbang ke China Bahas Utang Whoosh | Gambar: Instagram/@menkeuri

MPN Indonesia 27 November 2025 - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kesiapannya untuk terbang ke China guna membahas restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh.

Namun, ia belum tahu apakah akan dilibatkan dalam proses negosiasi tersebut.

“Saya belum tahu dibawa apa nggak. Tapi kalau memang harus terlibat, saya mau lihat term-nya seperti apa,” ujar Purbaya saat ditemui awak media di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (26/11).

Meskipun begitu, Purbaya mengungkap bahwa CEO Danantara, Rosan Roeslani, telah mengajaknya untuk ikut dalam pembahasan tersebut.

“Katanya Rosan mau bawa saya, katanya. Oh besok mau ketemu Rosan, asal dia yang bayar saja pas ke sananya,” katanya.

Dana APBN Belum Pasti Digunakan

Proses restrukturisasi utang proyek Whoosh diketahui sedang dalam tahap negosiasi.

Utang proyek ini mencapai Rp120,38 triliun, di mana sekitar 75 persen pembiayaan berasal dari pinjaman dari China Development Bank (CDB) dengan bunga 2 persen per tahun.

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan komitmen pemerintah untuk membayar utang sebesar Rp1,2 triliun per tahun.

Saat ditanya apakah APBN akan digunakan dalam penyelesaian utang tersebut, Purbaya mengaku belum tahu dan masih menunggu negosiasi yang tengah dilakukan.

“Itu saya nggak tahu. Nanti kita lihat negosiasinya seperti apa,” jelasnya.

Skema Pembayaran Utang Whoosh

Proyek Kereta Cepat Whoosh mengalami pembengkakan biaya dari estimasi awal sebesar 6 miliar dolar AS menjadi 7,2 miliar dolar AS.

Dengan kata lain, biaya proyek Whoosh selisih 1,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp20,05 triliun dan dikategorikan sebagai cost overrun.

Pembayaran kelebihan biaya ini disepakati dengan skema 60 persen atau sekitar 720 juta dolar AS ditanggung oleh konsorsium Indonesia, sementara 40 persen atau sekitar 480 juta dolar AS ditanggung oleh konsorsium China.

Baca Juga:  Eks Kiper Timnas Indonesia, Ronny Pasla Tutup Usia

Rosan mengatakan bahwa koordinasi intensif terus dilakukan antara pihak Danantara dengan Kementerian Keuangan untuk menyiapkan proposal negosiasi yang solid.

“Kami terus berkomunikasi dengan Pak Purbaya. Kami sudah duduk bersama untuk memastikan bahwa ketika ke China nanti, proposal yang dibawa sudah matang,” ujarnya saat menghadiri Kompas100 CEO Forum di ICE BSD, Tangerang Selatan.

(AKM/NID/RAD)

Trending