Connect with us

Berita

Tanggapi Kritik dr Tan Shot Yen soal Menu Burger & Spageti, Kepala BGN: Permintan Anak-anak

Program Makan Bergizi Gratis dikritik dr Tan Shot Yen karena menu dinilai tak mencerminkan pangan lokal. BGN merespons dengan janji evaluasi.

Logompn

Published

on

Tanggapi kritik dr tan shot yen soal menu burger & spageti, kepala bgn permintan anak anak
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana. Gambar: Instagram/@kemensetneg.ri

MPN Indonesia 27 September 2025 - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mendapat sorotan setelah ahli gizi dr Tan Shot Yen mengkritik komposisi menu yang dianggap tidak mencerminkan ketahanan pangan lokal.

Kritik itu disampaikan dalam rapat dengan Komisi IX DPR RI pada Senin (22/9).

Dalam forum tersebut, dr Tan menyoroti sajian MBG yang berisi makanan berbasis tepung terigu seperti burger, spageti, hingga bakmi instan.

Ia menilai menu tersebut tidak sesuai dengan pangan lokal Indonesia karena berbahan dasar gandum, yang tidak ditanam di Indonesia.

“Yang terjadi, dari Lhoknga (Aceh) sampai dengan Papua, yang dibagi (dalam MBG) adalah burger,” ujar dr Tan dalam rapat tersebut, dikutip MPN Indonesia dari kanal YouTube TVR Parlemen, Sabtu (27/9).

“Di mana tepung terigu tidak pernah tumbuh di bumi Indonesia, nggak ada anak muda yang tahu bahwa gandum tidak tumbuh di bumi Indonesia,” tambahnya.

Ia juga menyinggung isi burger dalam program tersebut yang disebutnya bersifat “kastanisasi”, dengan kualitas berbeda berdasarkan lokasi distribusi.

“Dibagi spageti, dibagi bakmi Gacoan, oh my god. Dan maaf, ya, itu isi burgernya itu kastanisasi juga, kalau yang dekat dengan pusat supaya kelihatan bagus dikasih chicken katsu,” ucapnya.

Selain menu utama, dr Tan turut mengkritik tingginya distribusi ultra-processed food (UPF) dalam paket MBG, seperti susu kemasan, minuman bergula, dan biskuit.

Ia khawatir konsumsi UPF berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan anak-anak, termasuk diare dan gangguan pencernaan.

Respons BGN atas Kritik

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menanggapi kritik tersebut pada Jumat (26/9).

Baca Juga:  Jelang Ramadan, Prabowo Minta Harga Kebutuhan Pokok di Daerah Bencana Terjangkau

Ia menjelaskan bahwa variasi menu seperti burger dan spageti muncul karena adanya permintaan dari anak-anak penerima MBG.

“Sering kali itu variasi atas permintaan anak-anak agar tidak bosan,” kata Dadan kepada wartawan di Jakarta, Jumat (26/9).

Ia juga menegaskan bahwa kritik dari masyarakat akan menjadi bahan evaluasi bagi BGN.

“Iya tentu (menjadi evaluasi BGN),” tegasnya.

Dorongan Pemanfaatan Pangan Lokal

Sebagai solusi, dr Tan mendorong agar minimal 80 persen bahan makanan dalam MBG berasal dari pangan lokal.

Menurutnya, bahan seperti singkong, jagung, ubi, sayuran hijau, ikan segar, dan telur lebih tepat digunakan dalam program ini.

Ia juga menekankan pentingnya mengenalkan menu khas daerah kepada anak-anak, seperti ikan kuah asam untuk anak Papua atau kapurung untuk anak Sulawesi.

Hal ini dinilai dapat memenuhi gizi tanpa bergantung pada makanan cepat saji.

“Ya, kalau (anak) request-nya cilok, mati kita!” jelasnya.

Pentingnya Evaluasi dan Literasi Gizi

Dalam kritiknya, dr Tan menekankan bahwa MBG tidak boleh berhenti hanya sebagai program distribusi makanan.

Ia menyarankan agar program makan bergizi nasional ini memiliki sistem evaluasi dan supervisi yang akuntabel untuk memastikan peningkatan literasi gizi masyarakat sekaligus menjamin program tepat sasaran.

(AKM/NID/RAD)

Trending