Connect with us

Internasional

Media Rusia Sebut Miliarder Yahudi George Soros Diduga jadi Dalang Demo Ricuh di Indonesia

Sputnik menuding George Soros dan NED diduga terlibat dalam demonstrasi ricuh di Indonesia. Berikut laporan lengkapnya.

Logompn

Published

on

Media rusia sebut miliarder yahudi george soros diduga jadi dalang demo ricuh di indonesia
Miliarder Yahudi berkewarganegaraan Hongaria-Amerika Serikat, George Soros. Gambar : Reuters/Lisi Niesner

MPN Indonesia 2 September 2025 - Media Rusia, Sputnik melaporkan bahwa miliarder Yahudi berkewarganegaraan Hongaria-Amerika Serikat, George Soros, diduga berada di balik demonstrasi dan aksi massa yang berujung ricuh di berbagai wilayah Indonesia sejak Senin (25/8).

Laporan ini mengutip analis geopolitik Angelo Giuliano, yang menilai keterlibatan dua entitas, yaitu National Endowment for Democracy (NED) dan Open Society Foundations (OSF) milik George Soros.

Giuliano menyebut NED telah mendanai media Indonesia sejak 1990-an, sementara OSF aktif secara global dengan dana lebih dari USD 8 miliar.

“Protes meletus di Indonesia awal bulan ini, memaksa Presiden Prabowo Subianto membatalkan kunjungannya ke China dan melewatkan KTT SCO (Shanghai Cooperation Organization),” tulis laporan dalam laman Sputnik, dikutip MPN Indonesia, Selasa (2/9).

Simbol One Piece Disebut Jadi Indikasi Pengaruh Eksternal

Dalam analisisnya, Giuliano menyoroti kemunculan simbol bajak laut dari anime One Piece di lokasi demonstrasi sebagai indikasi pengaruh luar.

“Meskipun kerusuhan tersebut mencerminkan keluhan ekonomi yang nyata, simbol bendera bajak laut One Piece yang digunakan para pengunjuk rasa, yang menggemakan taktik di wilayah lain, menunjukkan pengaruh eksternal,” ujar Giuliano dikutip Sputnik.

Sputnik menyebut simbol tersebut ditemukan “di dinding, mobil, dan pintu” di berbagai lokasi.

Menurut laporan itu, pola ini mirip dengan kerusuhan di negara lain seperti Serbia.

Latar Belakang Demo dan Kerusuhan

Gelombang unjuk rasa dimulai pada 19 Agustus 2025 di Jakarta, sebagai respons atas laporan bahwa 580 anggota DPR akan menerima tunjangan perumahan sebesar Rp50 juta per bulan di luar gaji.

Baca Juga:  Koordinator Demo Pati Damai dengan Bupati Sudewo, Aksi Jilid 2 Batal Digelar?

Angka ini menuai kritik karena dianggap tidak sensitif di tengah tekanan ekonomi.

Situasi semakin memanas setelah kematian seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan (21), yang dilaporkan tewas setelah terlindas mobil taktis Brimob Polri.

Peristiwa ini memicu aksi lanjutan di berbagai kota, termasuk Medan, Solo, Yogyakarta, Magelang, Malang, Bengkulu, Pekanbaru, Manokwari, dan Makassar.

Di Makassar, massa membakar gedung DPRD, menyebabkan tiga orang tewas. Bentrokan juga terjadi di sejumlah kota sejak 23 Agustus 2025.

Komnas HAM mencatat sekitar 950 orang telah ditangkap di Jakarta selama rangkaian demonstrasi.

Analisis Geopolitik dan Dugaan Agenda G7

Selain Giuliano, Sputnik juga mengutip Jeff J. Brown, penulis The China Trilogy dan pendiri Seek Truth From Facts Foundation.

Brown menyebut pola kerusuhan di Indonesia mirip dengan revolusi warna di Serbia.

“Ini adalah strategi yang sama persis yang terjadi di Serbia. G7 menginginkan diktator lain yang didukung AS, seperti Suharto di masa lalu,” ungkap Brown.

Brown menilai Prabowo tidak sejalan dengan agenda G7 karena memperkuat kerja sama dengan China, Rusia, SCO, dan BRICS.

“Indonesia adalah negara Asia Tenggara pertama yang bergabung dengan BRICS dan telah secara terbuka bekerja sama dengan China dalam Belt and Road Initiative,” jelas Brown.

Sputnik menambahkan, posisi strategis Indonesia membuatnya menjadi target potensial.

“Dari sudut pandang imperialisme Barat, semua ini menjadi sasaran empuk bagi Indonesia, target yang sangat layak untuk diserang dengan revolusi warna yang direkayasa Barat,” tulis Sputnik, sambil menyebut Indonesia sebagai ekonomi terbesar kedelapan di dunia berdasarkan PPP, terbesar di ASEAN, dan negara berpenduduk hampir 300 juta jiwa.

Baca Juga:  Aksi Demo yang Terjadi di Indonesia jadi Sorotan Sejumlah Media Internasional

Belum Ada Konfirmasi Resmi

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari George Soros maupun pemerintah Indonesia terkait dugaan yang dimuat Sputnik. Artikel Sputnik sendiri diberi judul “Soros, NED Could Be Behind Indonesian Protests.”

(ADN/NID/RAD)

Trending