Connect with us

Internasional

Pemerintah Korup, Ratusan Ribu Warga Serbia Gelar Demo Besar-besaran di Jalan

Ratusan ribu warga Serbia gelar demonstrasi besar-besaran menentang korupsi pemerintahan Presiden Vucic, Sabtu (15/3).

Arthur

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 03 19t085842.751
Warga Serbia demo besar-besaran pemerintahnya yang diduga korup, Sabtu (15/3) | Gambar: Reuters

MPN Indonesia 19 Maret 2025 - Ratusan ribu warga Serbia turun ke jalan di ibu kota Beograd pada Sabtu (15/3) untuk gelar demonstrasi besar-besaran menentang korupsi dan pemerintahan Presiden Aleksandar Vucic.

Aksi massa ini menjadi puncak dari gelombang protes yang telah berlangsung selama lebih dari empat bulan.

Demonstrasi dipicu oleh insiden runtuhnya atap Stasiun Novi Sad pada November lalu, yang menewaskan 15 orang.

Tragedi tersebut memicu kecurigaan akan adanya korupsi dalam proyek infrastruktur dan lemahnya pengawasan pemerintah.

Para demonstran menuntut transparansi serta akuntabilitas penuh atas kejadian tersebut.

Dikutip MPN Indonesia dari BBC, menurut Kementerian Dalam Negeri Serbia jumlah peserta aksi mencapai sekitar 107.000 orang.

Namun, kelompok pemantau independen Arsip Majelis Publik mencatat angka yang jauh lebih besar, yakni antara 275.000 hingga 325.000 orang, menjadikan aksi ini salah satu yang terbesar dalam sejarah Serbia.

Diorganisir oleh Mahasiswa

Gelombang protes ini awalnya digerakkan oleh mahasiswa yang mengorganisir aksi di berbagai kota.

Tekanan atas Presiden Vucic yang telah berkuasa selama 11 tahun kian kuat usai beberapa pejabat tinggi, termasuk perdana menteri, mengundurkan diri dalam beberapa bulan terakhir.

Menjelang demonstrasi, Vucic mengeluarkan pernyataan yang menuding aksi ini sebagai “revolusi impor” dan memperingatkan adanya upaya penggulingan dirinya dengan kekerasan.

Meski demikian, para pengunjuk rasa tetap melanjutkan aksi dengan berbagai tuntutan, termasuk keadilan bagi korban tragedi Novi Sad serta pertanggungjawaban terhadap dugaan korupsi di pemerintahan.

Situasi di Lapangan

Demonstrasi di Beograd terbagi menjadi dua kelompok besar, yakni massa anti-pemerintah dan pendukung Vucic.

Baca Juga:  PBB Soroti Kekerasan Polisi di RI saat Demo: Ada Dugaan Pelanggaran Hukum HAM Internasional

Polisi berjaga ketat di sekitar gedung parlemen serta memisahkan kedua kelompok untuk menghindari bentrokan.

Pada sore hari, polisi meminta pengunjuk rasa yang berada di sekitar kantor penyiaran negara di pusat kota Beograd untuk berpindah, menyusul adanya ancaman serangan dari kelompok pro-pemerintah.

Kereta antarkota dibatalkan sebagai langkah pengamanan, meskipun langkah ini dianggap sebagai upaya untuk membatasi jumlah peserta aksi massa.

Selain itu, beberapa layanan transportasi publik di ibu kota juga ditangguhkan.

Sementara itu, konvoi mobil dari berbagai wilayah Serbia berdatangan ke Beograd.

Para peserta membawa bendera dan spanduk nasional sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan mahasiswa yang memimpin demonstrasi ini.

Tuntutan Demonstran

Massa yang didominasi oleh mahasiswa menuntut transparansi dan akuntabilitas dalam kasus runtuhnya atap Stasiun Novi Sad.

Mereka mendesak pemerintah untuk merilis semua dokumen terkait proyek renovasi stasiun tersebut.

Hingga kini, para demonstran menganggap dokumen yang telah dipublikasikan oleh pihak berwenang belum memadai.

Selain itu, mereka menuntut agar pihak yang bertanggung jawab atas bencana ini dihukum.

Jaksa telah mendakwa sedikitnya 16 orang, termasuk mantan Menteri Konstruksi Goran Vesic, terkait insiden tersebut.

Vucic Beri Pernyataan Menantang

Presiden Vucic merespons demonstrasi ini dengan pernyataan menantang. Sehari sebelum aksi, ia menegaskan bahwa ia tidak akan membiarkan aksi jalanan menentukan kebijakan negara.

“Saya tidak akan membiarkan jalanan menentukan aturan di negara ini,” katanya sehari sebelum aksi.

Pada puncak demonstrasi, tepat pukul 11:52 siang waktu setempat, ribuan pengunjuk rasa mengheningkan cipta selama 15 menit untuk mengenang korban tragedi Novi Sad.

Ritual ini diulang pada malam hari, ketika massa yang masih bertahan di pusat kota menyalakan lampu ponsel mereka sebagai bentuk solidaritas.

Baca Juga:  Menko Airlangga Sebut Ratifikasi Konvensi Antisuap sebagai Syarat Penting bagi Indonesia

(ADN/NID/RAD)

Trending