Connect with us

Internasional

Tidur Hanya 2-4 Jam Setiap Malam, PM Jepang Sanae Takaichi: Saya Merasa Itu Buruk untuk Kulit Saya

PM Jepang Sanae Takaichi menuai kritik setelah menggelar rapat pukul 03.00 dini hari, memicu kekhawatiran soal budaya kerja ekstrem dan rencana revisi lembur di Jepang.

Logompn

Published

on

Tidur hanya 2 4 jam setiap malam, pm jepang sanae takaichi saya merasa itu buruk untuk kulit saya
Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi. Gambar : Reuters/Issei Kato

MPN Indonesia 19 November 2025 - Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi menjadi sorotan publik setelah diketahui menggelar rapat staf pada pukul 03.00 dini hari sebagai bagian dari persiapan sidang parlemen.

Keputusan tersebut memicu kritik luas karena dinilai memperkuat budaya kerja berlebihan yang selama ini menjadi masalah serius di Jepang.

Dalam rapat komite legislatif pada Kamis (13/11), Takaichi mengungkapkan bahwa dirinya hanya tidur dua hingga empat jam setiap malam.

“Saya tidur sekitar dua jam sekarang, paling lama empat jam. Saya merasa itu buruk untuk kulit saya,” ujar Sanae seperti dikutip MPN Indonesia dari AFP dan The Straits Times, pada Rabu (19/11).

Ia merupakan perdana menteri perempuan pertama Jepang sejak menjabat pada Oktober 2025.

Kritik terhadap Takaichi meningkat di tengah upaya pemerintah Jepang mengurangi jam kerja panjang dan menanggulangi budaya kerja ekstrem, yang dikenal dengan istilah karoshi atau kematian akibat bekerja berlebihan.

Rencana Revisi Batas Lembur dan Perlindungan Pekerja

Dalam kesempatan yang sama, Takaichi menanggapi pertanyaan terkait rencana pemerintah memperpanjang batas atas kerja lembur sebagai bagian dari strategi pertumbuhan ekonomi.

Ia menilai kebutuhan pekerja dan pengusaha berbeda-beda, dan hal tersebut menjadi tantangan dalam merumuskan kebijakan.

“Beberapa orang memilih bekerja dua pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup, sedangkan perusahaan memberlakukan batasan ketat pada lembur,” jelas Takaichi.

Ia menegaskan bahwa perubahan regulasi tetap harus mempertimbangkan perlindungan terhadap kesehatan pekerja.

Menurutnya, tujuan pemerintah adalah menciptakan kondisi di mana masyarakat dapat menyeimbangkan pekerjaan, pengasuhan anak, menikmati waktu luang, dan beristirahat.

“Memang, jika kita dapat menciptakan situasi ketika orang dapat menyeimbangkan tanggung jawab pengasuhan anak dan keluarga dengan pekerjaan, menikmati waktu luang, dan bersantai, itu akan menjadi hal yang ideal,” katanya.

Baca Juga:  Belum Pulih dari Sakit, Dokter Sebut Paus Fransiskus Punya Ketahanan Luar Biasa

Jadwal Kerja Padat dan Komitmen Pribadi

Sejak dilantik pada Oktober 2025 setelah terpilih sebagai Ketua Partai Demokrat Liberal (LDP), Takaichi menjalani jadwal kerja yang sangat padat.

Ia melakukan berbagai pertemuan regional dan bilateral, termasuk dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden China Xi Jinping, dan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung.

Saat pertama kali menjabat, Takaichi menegaskan komitmennya untuk fokus penuh pada pekerjaan, tanpa mengutamakan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan tugas kenegaraan.

“Saya akan menyingkirkan istilah ‘keseimbangan kerja dan hidup’ untuk diri saya sendiri. Saya akan bekerja, bekerja, bekerja, bekerja, dan bekerja,” pungkasnya kala itu.

Fenomena ini kembali memunculkan kritik terhadap budaya kerja Jepang yang dikenal keras.

Istilah karoshi telah lama menjadi perhatian nasional, sementara pemerintah terus berupaya mendorong kebijakan yang seharusnya menyeimbangkan kehidupan kerja dan pribadi bagi warganya. Namun, tekanan kerja di berbagai sektor masih tetap tinggi.

(ADN/NID/RAD)

Trending