Lifestyle
Apa Itu Peter Pan Sindrom? Begini Ciri-cirinya!
Sindrom Peter Pan adalah istilah psikologis untuk menggambarkan orang dewasa yang kesulitan bersikap dewasa dan bertanggung jawab.
MPN Indonesia 1 Februari 2026 - Sindrom Peter Pan merupakan istilah psikologis yang digunakan untuk menggambarkan orang dewasa, terutama pria, yang menunjukkan perilaku kekanak-kanakan dan tidak bersikap sesuai dengan usia serta tuntutan kedewasaan.
Kondisi ini kerap dibahas dalam berbagai referensi kesehatan dan psikologi sebagai kumpulan pola perilaku, bukan diagnosis medis formal.
Sindrom ini dapat memengaruhi hubungan sosial, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari karena penderitanya cenderung menghindari tanggung jawab dan komitmen.
Melansir dari Hello Sehat, Istilah Sindrom Peter Pan pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Dan Kiley melalui bukunya yang terbit pada 1983 berjudul The Peter Pan Syndrome: Men Who Have Never Grown Up.
Konsep ini pada awalnya merujuk pada pria dewasa, namun dalam perkembangannya juga dapat diterapkan pada wanita.
Nama sindrom tersebut diambil dari tokoh fiksi Peter Pan yang digambarkan sebagai anak laki-laki yang tidak pernah tumbuh dewasa.
Sindrom Peter Pan tidak termasuk gangguan kejiwaan yang tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), seperti depresi, gangguan bipolar, atau gangguan obsesif kompulsif.
Meskipun demikian, perilaku yang muncul dapat berdampak pada relasi personal, profesional, serta kondisi kesehatan mental individu maupun orang di sekitarnya.
Oleh karena itu, pemahaman mengenai ciri-ciri, faktor penyebab, dan dampaknya menjadi penting untuk mengenali kondisi ini secara objektif.
Faktor yang Memengaruhi Sindrom Peter Pan
Penyebab pasti sindrom Peter Pan tidak dapat ditentukan secara tunggal. Namun, beberapa faktor disebut berperan dalam membentuk perilaku tersebut.
Melansir dari Alodokter, pola asuh orang tua menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh.
Pola asuh permisif, di mana anak diberikan kebebasan berlebihan dan orang tua cenderung menyelesaikan kesalahan anak, dapat membuat anak tidak terbiasa belajar bertanggung jawab.
Kondisi ini berpotensi membentuk sikap narsistik, suka memberontak, serta kurang menghargai orang lain saat dewasa.
Selain itu, pola asuh yang terlalu protektif juga disebut dapat memicu sindrom Peter Pan.
Anak yang dibesarkan dengan kontrol berlebihan cenderung takut mengambil keputusan sendiri, kurang percaya diri, dan merasa cemas menghadapi kehidupan orang dewasa.
Ketika memasuki usia dewasa, kondisi ini dapat berkembang menjadi keengganan untuk memikul tanggung jawab dan membangun komitmen.
Masalah ekonomi juga disebut sebagai salah satu pemicu, terutama pada individu yang baru memasuki dunia kerja.
Upah yang rendah, terbatasnya jenjang karier, serta tekanan finansial seperti tagihan dan cicilan dapat menurunkan motivasi.
Situasi tersebut membuat sebagian orang memandang kehidupan dewasa sebagai beban, sehingga memicu munculnya perilaku sindrom Peter Pan.
Dampak dalam Kehidupan Sehari-Hari
Individu dengan sindrom Peter Pan umumnya menunjukkan kesulitan dalam berkomitmen dan bertanggung jawab.
Dalam lingkungan kerja maupun sosial, perilaku yang sering muncul antara lain menyalahkan orang lain atas kegagalan, mendahulukan kepentingan pribadi, takut menerima kritik, sering terlambat menyelesaikan pekerjaan, tidak memiliki tujuan jangka panjang, serta mengelola keuangan secara tidak bijaksana.
Selain itu, individu dengan kondisi ini cenderung bergantung pada orang lain dan menghindari konflik tanpa upaya mencari solusi.
Dampak sindrom Peter Pan dapat dirasakan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari hubungan interpersonal yang tidak stabil, terhambatnya perkembangan karier, hingga munculnya masalah keuangan.
Kondisi ini juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko kecemasan dan tekanan emosional, meskipun tidak termasuk gangguan mental yang terdiagnosis secara resmi.
Cara Menangani Sindrom Peter Pan
Karena berpotensi memengaruhi individu dan lingkungan sekitarnya, sindrom Peter Pan perlu dikenali dan ditangani secara tepat.
Melansir dari Halodoc, sejumlah referensi menyebutkan bahwa terapi psikologis, seperti terapi perilaku kognitif atau pendekatan psikodinamik, dapat membantu individu memahami pola pikir dan perilaku yang kurang adaptif.
Dukungan keluarga dan lingkungan juga dinilai berperan penting, terutama dalam mendorong kemandirian serta tanggung jawab tanpa mengambil alih sepenuhnya.
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
