Lifestyle
Kenapa Guru dan Pramugari Harus Pandai Mengelola Emosi?
Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali dan mengelola emosi diri sendiri, memahami perasaan orang lain, serta merespons situasi dengan tepat.
MPN Indonesia 4 Agustus 2026 - Pernahkah kamu memperhatikan bagaimana kata-kata lembut seorang guru mampu menenangkan suasana kelas?
Atau, pernahkah kamu melihat bagaimana sikap sabar seorang pramugari dapat meredakan keluhan penumpang di tengah situasi yang tidak nyaman?
Hal-hal seperti itu menunjukkan bahwa dalam pelayanan manusia, ada aspek penting yang sering tidak tertulis dalam buku pelajaran maupun prosedur kerja, yaitu kecerdasan emosional.
Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali dan mengelola emosi diri sendiri, memahami perasaan orang lain, serta merespons situasi dengan tepat.
Dalam dunia pendidikan, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga mengelola dinamika emosi siswa yang beragam.
Sementara dalam dunia penerbangan, pramugari tidak hanya memastikan keselamatan dan kenyamanan, tetapi juga dituntut untuk tetap tenang dan profesional dalam menghadapi berbagai kondisi.
Meskipun berada dalam bidang yang berbeda, guru dan pramugari memiliki kesamaan mendasar: keduanya bekerja dengan dan untuk manusia.
Oleh karena itu, kecerdasan emosional bukan sekadar keterampilan tambahan, melainkan bagian penting yang menentukan kualitas kinerja mereka.
Apa Itu Kecerdasan Emosional?
Banyak orang mengira orang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik adalah mereka yang tidak pernah marah atau selalu tersenyum. Padahal, pemahaman itu kurang tepat.
Menurut Santosa (2002), EQ yang tinggi bukan berarti seseorang mampu menekan amarahnya.
Justru sebaliknya, orang dengan EQ tinggi tahu persis kapan harus marah, kapan harus menangis, kapan harus tertawa, dan memahami sebab serta akibat dari setiap emosi yang ia rasakan.
Oleh karena itu, kecerdasan emosional bisa dikatakan sebagai kemampuan untuk mengelola emosi secara cerdas, bukan mematikannya, melainkan menggunakannya dengan tepat sesuai situasi (Aizid, 2017).
Emotional intelligence atau dikenal dengan EI atau EQ adalah fase di mana suatu individu memiliki kesadaran diri untuk mengatur emosi dan memotivasi diri sendiri, memberikan empati kepada orang sekitar, serta mempunyai keterampilan dalam bidang sosial (Moorhead dan Griffin, 2014 dalam Yudianto & Istiqomah, n.d.).
Daniel Goleman (1995), seorang psikolog, menjabarkan kecerdasan emosional ke dalam lima aspek, yaitu kesadaran diri, regulasi diri, empati, keterampilan sosial, dan motivasi.
Kelima komponen ini menjadi landasan di balik pelayanan, baik di ruang kelas maupun di kabin pesawat.
Pentingnya Kecerdasan Emosional bagi Guru
Bagi seorang guru, kecerdasan emosional sangat penting. Pasalnya, guru tidak hanya mengajar materi pelajaran, tetapi juga harus berinteraksi dengan siswa dari berbagai latar belakang, emosi, dan karakter.
Guru dengan kecerdasan emosional yang baik cenderung lebih sukses dan lebih puas dengan pekerjaan mereka.
Gkolia, Belias, dan Koustelios (2014) menemukan bahwa kecerdasan emosional memiliki korelasi positif dengan kinerja guru dan kepuasan kerja mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan mengelola emosi berdampak langsung pada kualitas kerja di kelas.
Selain itu, Chan (2006) menunjukkan bahwa kecerdasan emosional juga membantu guru mengurangi kelelahan emosional.
Guru dengan kecerdasan emosional tinggi lebih mampu mengatasi tekanan pekerjaan untuk menjaga stabilitas dalam proses mengajar.
Penelitian Brackett, Palomera, Mojsa-Kaja, Reyes, dan Salovey (2010) menemukan bahwa kecerdasan emosional berdampak pada kualitas interaksi antara pendidik dan siswa.
Guru yang mampu mengendalikan perasaan cenderung menciptakan suasana kelas yang lebih positif, nyaman, dan mendukung proses pembelajaran.
Pentingnya Kecerdasan Emosional bagi Pramugari
Pramugari perlu memahami dan mengenali perasaan orang lain di lingkungan kerja untuk menciptakan suasana yang baik bagi penumpang dan kru.
Oleh sebab itu, kecerdasan emosional pramugari sangat memengaruhi kinerja (Yudianto & Istiqomah, 2020).
Dalam dunia penerbangan, pramugari tidak hanya bertugas menjaga keselamatan dan kenyamanan penumpang, tetapi juga dituntut mampu mengelola emosi dalam situasi penuh tekanan seperti keterlambatan penerbangan, keluhan penumpang, hingga kondisi darurat.
Penelitian Lee dan Jun (2019) menunjukkan bahwa pengelolaan emotional labor yang baik dapat meningkatkan kinerja pramugari.
Individu dengan kecerdasan emosional tinggi lebih mampu melakukan deep acting, yaitu menyesuaikan emosi secara internal agar interaksi dengan penumpang tetap terlihat tulus dan profesional.
Selain itu, pelatihan kecerdasan emosional juga dapat meningkatkan kemampuan komunikasi dan pengambilan keputusan.
Artikel Karya: Marulin Hotmaida Sinaga, Hanny Astriani, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani dari Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana.
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
