Connect with us

Lifestyle

Belum Tua! Peneliti Sebut Usia 32 Tahun Masih Bisa Disebut Remaja

Sejumlah peneliti dalam sebuah studi menyebut bahwa masa remaja tidak berhenti di usia belasan atau awal 20-an, melainkan dapat berlanjut hingga usia 32 tahun.

Logompn

Published

on

Peneliti klaim usia 32 tahun masih bisa disebut remaja
Peneliti Klaim Usia 32 Tahun Masih Bisa Disebut Remaja | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 30 Desember 2025 - Sejumlah peneliti menyampaikan gagasan baru mengenai batas usia remaja berdasarkan perkembangan otak manusia.

Dalam penelitian terbaru, para peneliti menyebut bahwa masa remaja tidak berhenti di usia belasan atau awal 20-an, melainkan dapat berlanjut hingga usia 32 tahun.

Setelah melewati usia tersebut, barulah seseorang dinilai memasuki fase dewasa dari sudut pandang perkembangan otak.

Gagasan ini disampaikan melalui penelitian berjudul “Topological turning points across the human lifespan” yang ditulis oleh Alexa Mousley dan rekan-rekannya dan dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications pada 25 November 2025.

Penelitian ini menganalisis hampir 4.000 pemindaian otak dari partisipan dengan rentang usia anak-anak hingga 90 tahun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan otak manusia tidak berlangsung secara linear, melainkan melalui beberapa fase dengan titik balik tertentu.

Lima Fase Perkembangan Otak

Berdasarkan analisis pemindaian otak, para peneliti memetakan perkembangan otak manusia ke dalam lima fase utama sepanjang rentang kehidupan, yaitu:

  • Fase anak-anak: sejak lahir hingga usia sekitar 9 tahun
  • Fase remaja: usia 9 tahun hingga 32 tahun
  • Fase dewasa: usia 32 hingga 66 tahun
  • Fase penuaan awal: usia 66 hingga 83 tahun
  • Fase penuaan akhir: usia di atas 83 tahun.

Titik-titik ini menandai perubahan signifikan dalam struktur dan konektivitas otak seiring pertumbuhan, pematangan, dan penuaan.

Para peneliti menjelaskan bahwa selama dua fase awal kehidupan, otak mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Pada masa anak-anak, materi abu-abu yang dan materi putih di otak tumbuh dengan cepat.

Materi abu-abu berfungsi memproses dan menafsirkan informasi, sementara materi putih berperan mengirimkan informasi ke bagian lain dari sistem saraf.

Baca Juga:  Apa Itu Self-Compassion? Cara Berdamai dengan Diri saat Gagal

Periode ini juga ditandai dengan konsolidasi dan eliminasi sinapsis, yaitu titik pertemuan antarneuron yang saling berkompetisi.

Masa Remaja Berlangsung Lebih Panjang

Peralihan dari masa kanak-kanak ke masa remaja terjadi sekitar usia sembilan tahun, bertepatan dengan dimulainya pubertas.

Menurut para peneliti, pubertas biasanya dimulai antara usia delapan hingga 13 tahun pada perempuan, serta sembilan hingga 14 tahun pada laki-laki. Fase ini menandai perubahan besar dalam ekspresi hormon dan perubahan neurologis yang kuat.

Penelitian ini juga menemukan bahwa masa remaja merupakan periode dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan mental, kognitif, dan perilaku yang berkaitan dengan perubahan hormonal dan pergeseran neurobiologis secara signifikan.

Dalam fase ini, jaringan neuron otak justru bekerja dengan efisiensi yang sangat tinggi dibandingkan fase lainnya.

Sebelumnya, pandangan umum menyebut bahwa masa remaja dimulai dengan pubertas dan berakhir sebelum usia 20 tahun. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mendefinisikan remaja sebagai individu berusia 10 hingga 19 tahun.

Namun, penelitian dari Universitas Cambridge ini menemukan bahwa meskipun masa remaja dimulai dengan pubertas, titik akhirnya tidak memiliki batas biologis yang tegas.

Para peneliti menyatakan bahwa transisi menuju kedewasaan dipengaruhi oleh faktor budaya, sejarah, dan sosial, sehingga tidak semata-mata ditentukan oleh perubahan biologis.

Dalam temuannya, mereka menuliskan bahwa di negara-negara Barat seperti Inggris Raya dan Amerika Serikat, perkembangan topologi otak yang dikaitkan dengan fase remaja berlanjut hingga sekitar usia 32 tahun, sebelum otak memasuki lintasan perkembangan yang baru.

Masa Dewasa di Usia 32-60 Tahun

Pada usia 32 tahun, penelitian ini mencatat adanya perubahan arah perkembangan otak yang paling signifikan dibandingkan titik balik lainnya.

Pada fase ini, keutuhan dan volume materi putih di otak meningkat secara pesat. Perubahan ini bertepatan dengan kondisi stabil dalam kecerdasan dan kepribadian manusia.

Baca Juga:  Ini Tanda-Tanda Orang Mau Bunuh Diri yang Harus Diwaspadai!

Meskipun demikian, para penulis studi tidak menjelaskan secara rinci mengapa pola ini terlihat jelas di negara-negara Barat dan belum memberikan gambaran mengenai bagaimana pola perkembangan serupa terjadi di wilayah lain.

Mereka juga mencatat bahwa setelah fase remaja berakhir, otak memasuki periode dewasa yang relatif stabil hingga usia 60-an, meskipun perkembangan berlangsung lebih lambat.

Memasuki awal usia 60-an, penelitian ini mencatat adanya pergeseran penting dalam kesehatan dan fungsi kognitif.

Pada fase ini, sejumlah kondisi seperti demensia dan tekanan darah tinggi mulai banyak muncul dan dapat mempercepat penuaan otak.

Pola koneksi antarsel saraf berubah seiring menurunnya integritas materi putih, sehingga otak bekerja lebih terpisah antarwilayah.

Direktur pusat ilmu otak penemuan di Universitas Edinburgh, Profesor Tara Spires-Jones, yang tidak terlibat dalam makalah penelitian ini, menyebut bahwa penelitian yang dilakukan Mousley dan rekan-rekannya sebagai studi yang menarik.

“Ini adalah studi yang sangat menarik yang menyoroti seberapa besar otak kita berubah sepanjang hidup kita,” katanya.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending