Connect with us

Lifestyle

Dijuluki Negara Fatherless, Ini Dampak Pengasuhan Anak Tanpa Ayah Menurut Psikolog!

Simak, ini dampak dari fenomena fatherless dari sisi psikolog!

Logompn

Published

on

Dampak pengasuhan anak tanpa ayah menurut psikolog
Dampak Pengasuhan Anak Tanpa Ayah Menurut Psikolog | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 12 November 2025 - Fenomena fatherless atau ketidakhadiran figur ayah, baik secara fisik maupun emosional, kini menjadi sorotan dalam konteks perkembangan psikologis anak di Indonesia.

Mengutip informasi dari laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), sebanyak 15,9 juta anak di Indonesia berpotensi tumbuh tanpa keterlibatan peran ayah.

Dari jumlah tersebut, 4,4 juta anak tinggal di keluarga tanpa ayah, sementara 11,5 juta anak lainnya hidup bersama ayah yang bekerja lebih dari 60 jam per minggu atau lebih dari 12 jam per hari.

Menurut Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, ketidakhadiran ayah bukan hanya berdampak secara fisik, tetapi juga emosional.

“Banyak keluarga masa sekarang yang mengalami ketidakhadiran ayah karena faktor pekerjaan yang menuntut mobilitas tinggi. Namun, kehadiran ayah tetap dibutuhkan untuk mendukung perkembangan emosional dan sosial anak,” ungkapnya sebagaimana dikutip MPN Indonesia pada Rabu (12/11).

Tiga Pola Pembelajaran yang Terdampak Fenomena Fatherless

Rahmat menjelaskan bahwa proses tumbuh kembang anak mencakup tiga pola pembelajaran utama, yakni observasional, behavioral, dan kognitif yang memerlukan peran ayah sebagai role model.

Pada pembelajaran observasional, anak belajar dengan mengamati dan menirukan perilaku orang dewasa.

Ketidakhadiran ayah menyebabkan anak kehilangan model perilaku dalam hal pengendalian diri, disiplin, interaksi sosial, dan tanggung jawab.

Pada pembelajaran behavioral, anak memerlukan sosok otoritatif yang memberi penghargaan atau koreksi terhadap perilaku. Pola ini berfungsi dalam pembentukan perilaku melalui kebiasaan dan konsekuensi.

“Sosok ayah dalam hal ini memberikan penghargaan ketika anak bertindak dan berperilaku baik, sebaliknya ayah akan memberikan koreksi ketika anak melanggar suatu aturan,” jelas Rahmat.

Baca Juga:  Mengenal Fatherless, Ini Dampaknya terhadap Kesiapan Perempuan Membangun Hubungan

Sedangkan pembelajaran kognitif berfokus pada interaksi verbal yang membentuk nilai moral dan cara berpikir.

Dalam konteks ini, peran ayah sebagai pengarah berpikir menjadi penting untuk membentuk penalaran dan pemahaman anak terhadap dunia sosial.

“Kalau kita ringkas ke dalam tiga elemen belajar ini, maka ketiganya membutuhkan figur yang komplit. Tidak adanya sosok ayah jelas menghilangkan satu model peran yang memperkaya proses belajar anak,” ujar Rahmat.

Dampak Psikologis Fatherless pada Anak

Anak yang tumbuh dalam kondisi fatherless rentan mengalami gangguan psikologis seperti harga diri rendah, rasa takut berlebihan, dan ketergantungan terhadap orang lain.

Gangguan ini dikenal sebagai attachment disorder atau sering disebut sebagai daddy issue. Kondisi ini muncul karena tidak adanya panutan laki-laki dewasa dalam kehidupan mereka.

Kesejahteraan psikologis anak juga terpengaruh. Beberapa di antaranya menjadi impulsif dan kesulitan membuat keputusan secara mandiri.

Dalam jangka panjang, anak yang kehilangan kedekatan emosional dengan ayah cenderung mencari kelekatan di luar keluarga.

Hal ini berpotensi membuat mereka terlibat dalam kelompok sosial yang menyimpang jika tidak mendapatkan pengganti figur ayah yang tepat.

Menambal Kekosongan Peran Ayah

Rahmat menyebutkan bahwa figur pengganti seperti ibu, guru, atau anggota keluarga besar dapat mengambil peran ayah secara terbatas.

Dalam beberapa kasus, anak tetap bisa merasa bangga terhadap ayahnya meski ayah bekerja jauh dari rumah, selama hubungan emosional tetap terjaga.

“Anak bisa merasa bangga ketika ayahnya bekerja di luar kota atau bahkan di luar negeri, selama komunikasi dan hubungan keduanya tetap hangat,” ujarnya.

Rahmat juga menekankan perlunya peran pemerintah dalam dua hal utama, yakni edukasi pranikah dan pemerataan lapangan pekerjaan.

Edukasi pranikah yang komprehensif dibutuhkan agar calon pasangan memahami nilai dan tanggung jawab sebagai orangtua sebelum membangun keluarga.

Baca Juga:  Profil Lita Gading, Psikolog yang Mendadak Bahas Rumah Tangga BCL dan Tiko Aryawardhana

Ia menyatakan bahwa pendekatan sistemik terhadap program pranikah harus lebih dari sekadar formalitas administratif.

“Edukasi peran dalam menghadapi pernikahan harus menjadi bagian penting sebelum membangun komitmen berkeluarga,” katanya.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending