Connect with us

Lifestyle

Mengapa Banyak yang Pilih Menikah di Bulan Syawal? Ini Penjelasan dari Ustaz!

Bulan Syawal kerap jadi pilihan untuk menikah. Ustaz Agan jelaskan sisi syariat, budaya, hingga mitos yang berkembang soal bulan sial dan keberkahan pernikahan.

Actress 1299250

Published

on

Mengapa banyak yang pilih menikah di bulan syawal ini penjelasan dari ulama
Ustaz menjelaskan soal pernikahan di Bulan Syawal. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 10 April 2025 - Bulan Syawal sering kali menjadi waktu favorit bagi masyarakat Muslim untuk melangsungkan pernikahan.

Menurut padangan Dosen Universitas Darunnajah, Ustaz Agan Priam Bagus, alasan utama di balik tren ini tidak semata-mata karena tuntutan agama, melainkan juga dipengaruhi budaya serta faktor kemudahan teknis seperti libur panjang dan kesempatan keluarga besar untuk berkumpul.

Ustaz Agan menjelaskan bahwa pernikahan dalam Islam merupakan ibadah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah), bahkan bisa menjadi wajib apabila menghindarkan seseorang dari perilaku maksiat.

Meski kerap dilakukan di bulan Syawal, ia menegaskan bahwa tidak ada kewajiban agama yang mewajibkan penetapan bulan tertentu untuk menikah.

“Pernikahan yang baik adalah pernikahan yang sederhana, namun tidak menghilangkan kesakralannya,” ujar Ustaz Agan kepada MPN Indonesia melalui pesan singkat pada Rabu (9/4).

Ia menambahkan, pada dasarnya semua bulan sama baiknya bagi seorang Muslim yang hendak membangun rumah tangga.

“Dalam Islam, jika seseorang sudah siap secara mental, spiritual, dan finansial, maka dianjurkan untuk menyegerakan pernikahan. Tidak ada tuntunan spesifik bahwa Syawal adalah satu-satunya waktu menikah,” ungkapnya.

Mitos Pernikahan di Bulan-bulan Tertentu

Ustaz Agan menanggapi mitos dari beberapa kalangan bahwa menikah di bulan Syawal menjadi bentuk penolakan terhadap kesialan menikah di bulan tertentu.

Sejarah mencatat, pada masa jahiliah di Arab, bulan Syawal dianggap membawa sial untuk berbagai aktivitas, termasuk pernikahan.

“Anggapan kesialan tersebut ditepis langsung oleh Nabi Muhammad SAW dengan menikahi Sayyidah Aisyah pada bulan Syawal,” tuturnya.

Dalam sebuah hadis, Aisyah RA secara tegas mengungkapkan bahwa pernikahan di bulan Syawal justru dianjurkan untuk mematahkan kepercayaan salah kaprah yang berkembang di masyarakat jahiliah.

Baca Juga:  Kemenag Luncurkan Gerakan Sadar Pencatatan Nikah di CFD Jakarta

Kepercayaan “bulan sial” dinilai tidak berdasar (batil) dan bertentangan dengan ajaran Islam yang menghapus segala bentuk takhayul dan ber-tathayyur (menganggap sial sesuatu tanpa dasar).

Tradisi Pernikahan di Indonesia

Ia juga menyinggung bahwa kepercayaan tentang bulan sial masih kerap dijumpai di berbagai budaya, termasuk di Indonesia.

Beberapa masyarakat mungkin enggan menikah pada bulan tertentu karena dianggap membawa kesialan.

“Islam tidak membenarkan pembedaan bulan baik atau buruk untuk melangsungkan pernikahan. Nabi Muhammad SAW dan para ulama Syafi’iyah sudah menekankan, semua bulan pada dasarnya baik. Jika suatu keluarga menemukan momentum terbaik di Syawal—atau bulan lain—silakan saja menikah,” jelasnya.

Namun, ia juga menegaskan bahwa faktor budaya dan adat istiadat masih kerap mewarnai pemilihan waktu pernikahan.

Salah satunya karena Syawal berdekatan dengan Idulfitri, momen mudik, dan Tunjangan Hari Raya (THR) yang memberikan keringanan biaya bagi banyak orang.

“Pada akhirnya, perkara bulan sial atau baik hanya tradisi lisan turun-temurun. Kalau sudah didukung syariat dan ditambah kemudahan berbagai pihak untuk hadir, hal itu sah-sah saja dilakukan,” pungkasnya.

Jangan Terjebak pada Mitos Baik atau Buruknya Bulan untuk Menikah

Di sisi lain, ustaz tersebut mengingatkan bahwa kesiapan dan pemahaman mendasar tentang makna pernikahan jauh lebih penting daripada sekadar memilih bulan. 

“Esensi pernikahan adalah membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Itu tidak akan berhasil semata-mata karena bulan pilihan, tetapi berkat persiapan mental, spiritual, serta tanggung jawab kedua mempelai,” ujarnya.

Sebagai penutup, ia menyarankan agar masyarakat tidak terjebak dalam perdebatan bulan “baik” atau “sial” untuk menikah.

“Selama proses pernikahan diiringi niat yang baik dan sesuai tuntunan Islam, insya Allah akan membawa berkah, di bulan apa pun itu,” tutupnya.

Baca Juga:  Sah! Anak Mahfud MD Menikahi Putri Tuan Guru Bujang dengan Mahar 20 Gram Emas

(RAD/NID)

Trending