Lifestyle
Studi Ungkap Wanita Tidak Lebih Emosional Dibandingkan Pria
Riset membantah anggapan wanita lebih emosional dari pria. Peneliti menegaskan stereotip ini keliru dan berdampak buruk bagi kesehatan mental dan sosial.
MPN Indonesia 14 Agustus 2025 - Selama bertahun-tahun, masyarakat dibentuk oleh pandangan bahwa wanita lebih emosional dibandingkan pria.
Umumnya, stereotip ini hadir dalam percakapan sehari-hari. Wanita yang mengekspresikan emosi kerap dianggap “tidak rasional,” sementara pria yang bersikap dingin dipuji sebagai “kuat” dan “dewasa.”
Pandangan ini tidak hanya keliru, tetapi juga berpotensi merugikan kesehatan mental dan hubungan sosial.
Faktanya, kemampuan merasakan dan mengekspresikan emosi adalah bagian alami dari kemanusiaan, tanpa batas gender.
Peneliti Buktikan Emosi Tidak Ditentukan Gender
Riset yang dipublikasikan di Scientific Reports pada 2021 melibatkan 142 partisipan laki-laki dan perempuan.
Mereka diamati secara rutin terkait variasi emosi yang dialami. Hasilnya menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara kedua kelompok.
Dr. Catherine McKinley, Associate Professor di Tulane University School of Social Work, menegaskan, anggapan wanita lebih emosional adalah pandangan yang tidak benar sama sekali.
“Setiap manusia selalu memiliki emosi, terlepas apakah mereka menyadarinya atau tidak,” jelas McKinley dalam keterangannya, dikutip MPN Indonesia dari verywellmind.com, Kamis (14/8).
Menurutnya, peran gender tradisional yang dibentuk masyarakat patriarki telah menempatkan pria sebagai sosok “tidak emosional” dan wanita sebagai “emosional,” sehingga karakteristik feminin sering dianggap kurang bernilai.
Dampak Negatif Stereotip Emosi
Stereotip bahwa wanita lebih emosional dapat membatasi perkembangan individu dan memengaruhi peluang yang mereka dapatkan.
- Pada wanita: stereotip ini bisa mengurangi akses terhadap kekuasaan dan kesempatan.
- Pada pria: tekanan untuk tidak menunjukkan emosi dapat membatasi ekspresi perasaan sehat dan kedalaman hubungan.
Liz Coleclough, PhD, LICSW, pekerja sosial spesialis trauma, mengatakan, “Tidak ada orang yang benar-benar sesuai kotak stereotip itu. Semua orang memiliki emosi dan membutuhkan koneksi.”
Coleclough menambahkan, meski wanita “diperbolehkan” mengekspresikan emosi, ada batasan jenis dan intensitasnya. Menangis dianggap wajar, tetapi marah sering kali tidak.
Menurutnya, pembatasan ekspresi ini, jika dikaitkan dengan norma patriarki, dapat memicu kekerasan.
Data dari National Coalition Against Domestic Violence menunjukkan 1 dari 3 wanita akan mengalami kekerasan oleh pasangan sepanjang hidupnya.
Coleclough juga menyoroti bahwa korban kekerasan kerap harus memenuhi gambaran “feminin” agar diakui sebagai korban sah, dan tanggung jawab sering dialihkan pada mereka yang dianggap melanggar peran gender.
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
