Connect with us

Olahraga

Direkrut PSSI, Wasit Jepang Siap Belajar Bahasa Indonesia untuk Pahami Umpatan Pemain

PSSI merekrut wasit asal Jepang, Yudai Yamamoto, sebagai wasit asing permanen untuk memimpin pertandingan Super League musim 2025/2026.

Logompn

Published

on

Wasit asal jepang, yudai yamamoto yang direkrut pssi
Wasit Asal Jepang, Yudai Yamamoto yang Direkrut PSSI | Gambar: YouTube/iLeague TV

MPN Indonesia 30 Desember 2025 - Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) merekrut wasit asal Jepang, Yudai Yamamoto, sebagai wasit asing permanen untuk memimpin pertandingan Super League musim 2025/2026.

Penunjukan ini menjadikan Yamamoto sebagai wasit asing pertama yang dikontrak full-time untuk kompetisi sepak bola Indonesia, dengan masa kerja selama 1,5 musim hingga paruh Super League 2026/2027.

Salah satu tugasnya adalah menjaga ketertiban pertandingan, termasuk memahami bahasa kasar atau umpatan yang kerap muncul di lapangan.

Yamamoto pun menyatakan kesiapannya untuk mempelajari Bahasa Indonesia, termasuk kosakata yang tergolong kasar, sebagai bagian dari tanggung jawabnya sebagai pengadil pertandingan.

“Sebagai wasit tentu jika mendapatkan kata-kata yang tidak pantas berpotensi mendapat hukuman,” katanya dalam konferensi pers di kantor I.League, Jakarta, Senin (22/12).

Menurut wasit berusia 42 tahun kelahiran Kyoto tersebut, belajar Bahasa Indonesia bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan demi menegakkan peraturan sepak bola.

“Dari saya sendiri, sebuah keharusan belajar bahasa Indonesia untuk menjaga ketertiban pertandingan,” ujarnya.

Belum Keluarkan Kartu Merah

Yudai Yamamoto diperkenalkan sebagai wasit asing permanen mulai putaran kedua Super League 2025/2026 dan diprediksi akan bertugas hingga paruh musim Super League 2026/2027.

Wasit yang mengantongi lisensi FIFA sejak 2011 ini tercatat telah mengeluarkan total 22 kartu kuning dan belum ada kartu merah yang ia keluarkan kepada pemain.

Yamamoto menyebut hal tersebut bukan disengaja karena setiap keputusan diambil secara objektif berdasarkan situasi di lapangan.

“Saya orang yang lembut, tapi di atas lapangan tentu harus ada garis batas antara wasit dan pemain. Saya harus mampu mengeluarkan keputusan yang tepat. Kebetulan saja tidak ada kartu merah (dari enam laga Super League 2025/2026). Itu hanya kebetulan,” katanya.

Baca Juga:  Kata-Kata Messi Jelang Final Piala Dunia: Kami akan Memberi yang Terbaik

Dalam pengamatannya, Yamamoto menyebut bahwa karakter pertandingan sepak bola Indonesia memiliki perbedaan dibandingkan dengan kompetisi di Jepang maupun negara lain yang pernah ia tangani.

Ia menilai tempo permainan di liga Jepang cenderung lebih konsisten, sementara di Indonesia aspek tersebut bisa berubah-ubah dalam satu pertandingan.

“Permainan di Liga Jepang lebih konsisten soal ‘pace’ atau tempo pertandingan. Sedangkan di Indonesia, aspek tersebut cenderung tidak konsisten,” jelasnya.

(AKM/NID/RAD)

Trending