Lifestyle
Mengulik Sejarah dan Makna Sungkeman saat Hari Raya Idulfitri
Ketahui sejarah dan makna tradisi sungkeman saat Idulfitri dalam budaya Jawa serta penjelasan ulama mengenai hukumnya dalam Islam.
MPN Indonesia 21 Maret 2026 - Tradisi sungkem menjadi salah satu kebiasaan yang sangat lekat dengan perayaan Idulfitri di Indonesia, terutama dalam keluarga-keluarga Jawa.
Biasanya, sungkem dilakukan oleh anak atau orang yang lebih muda kepada orang tua maupun orang yang dituakan sebagai bentuk hormat, terima kasih, dan permohonan maaf.
Saat Lebaran, sungkeman umumnya dilakukan dengan posisi merendahkan badan atau jongkok, lalu mencium tangan orang tua.
Gestur ini bukan sekadar formalitas, melainkan simbol bakti dan penghormatan kepada mereka yang lebih tua.
Dikutip MPN Indonesia melalui Merdeka.com, budayawan Umar Kayam menyebut tradisi sungkeman sebagai bentuk akulturasi budaya Jawa dan ajaran Islam.
Tradisi ini dipercaya telah dikenal sejak masa Mangkunegara I atau Pangeran Sambernyawa, yang memerintah Kadipaten Mangkunegaran pada 1757–1795.
Pada masa itu, para punggawa dan prajurit disebut melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri saat Idulfitri.
Seiring waktu, tradisi ini kemudian meluas di tengah masyarakat sebagai bagian dari silaturahmi dan saling memaafkan setelah Ramadan.
Sungkeman dalam Tradisi dan Pandangan Islam
Dari sudut pandang Islam, sungkeman pada dasarnya tidak bertentangan dengan syariat selama dimaknai sebagai bentuk penghormatan, bukan penghambaan.
Dikutip MPN Indonesia dari laman NU Online, Imam al-Nawawi dalam Raudlah al-Thalibin menjelaskan bahwa mencium tangan seseorang karena keilmuan, kezuhudan, atau usia yang lebih tua tidak termasuk perbuatan yang makruh.
وَلا يُكْرَهُ تَقْبِيلُ الْيَدِ لِزُهْدٍ وَعِلْمٍ وَكِبَرِ سِنٍّ
“Tidak makruh mencium tangan karena kezuhudan, keilmuan, dan faktor usia yang lebih tua.”
(juz 10, halaman 233)
Selain itu, Syekh Zainuddin al-Malibari dalam Fath al-Mu’in juga menjelaskan bahwa berdiri untuk menghormati orang yang memiliki keutamaan, seperti orang tua atau orang alim, hukumnya sunnah.
Lebih jauh, Syekh al-Qalyubi menyebut bahwa memuliakan orang tua, orang alim, atau orang yang memiliki kedudukan terhormat termasuk perbuatan yang dianjurkan.
Bahkan, dalam konteks tertentu, sebagian ulama menilai hal itu sangat penting untuk menjaga silaturahmi.
قوله: ويسن القيام لمن فيه فضيلة ظاهرة) أي إكراما وبرا وإحتراما له لا رياء. (وقوله: أو ولادة) أي ويسن القيام لمن له ولادة: كأب أو أم. (وقوله: أو ولاية) أي ولاية حكم: كأمير وقاض.
“Sebagian ulama berpendapat wajibnya berdiri (untuk memuliakan) pada masa sekarang, karena meninggalkannya dapat dianggap sebagai bentuk memutus tali silaturahmi.”
(Hasyiyah al-Qalyubi ‘ala al-Mahalli, juz 3, halaman 214)
Dari sisi budaya, sungkem juga merupakan warisan etika yang kuat. Dalam KBBI, sungkem dimaknai sebagai sikap merendahkan diri atau sujud sebagai tanda bakti dan hormat.
Dalam budaya Jawa, sungkem bukan hanya soal sopan santun, tetapi juga menjadi cara untuk menyampaikan permohonan maaf dan penghormatan kepada orang yang lebih tua.
Karena itu, meski meminta maaf bisa dilakukan oleh siapa saja, dalam praktiknya sungkem lebih sering dilakukan oleh pihak yang lebih muda kepada yang lebih tua sebagai bagian dari tata krama.
Makna Sungkeman saat Lebaran
Sungkeman saat Lebaran tidak hanya bermakna simbolis, tetapi juga punya nilai sosial dan batin yang kuat.
Dalam jurnal Pendidikan Karakter Melalui Tradisi Sungkeman Adat Jawa karya Nurpeni Priyatiningsih, tradisi sungkem disebut mengandung sejumlah nilai penting, seperti penghormatan kepada orang tua, upaya menjaga kerukunan antargenerasi, latihan mengendalikan diri, serta pembiasaan untuk bersikap rendah hati dan bertanggung jawab.
Dalam budaya Jawa, gerakan merendahkan badan saat sungkem juga dimaknai sebagai bentuk kerendahan hati.
Di situ ada pengakuan bahwa orang tua atau yang dituakan memiliki peran penting dalam membimbing dan membesarkan generasi yang lebih muda.
Tradisi ini juga sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya akhlak mulia dalam hubungan sosial. Nabi Muhammad SAW bersabda:
اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.”
(HR. Al-Tirmidzi)
Sejalan dengan itu, Sayyidina Ali juga pernah menyampaikan pentingnya menjaga etika selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.
هُوَ مُوَافَقَةُ النَّاسِ فِيْ كُلِّ شَيْئٍ مَا عَدَا الْمَعَاصِيْ
“Beretika yang baik adalah mengikuti tradisi dalam segala hal selama bukan kemaksiatan.”
(Syekh Nawawi al-Bantani, Syarh Sullam al-Taufiq, halaman 61)
Pada akhirnya, sungkeman saat Lebaran bukan hanya simbol penghormatan kepada orang tua, tetapi juga bentuk pelestarian budaya yang tetap selaras dengan nilai-nilai Islam.
Di dalamnya ada rasa hormat, kasih sayang, permohonan maaf, dan upaya menjaga hubungan baik dalam keluarga.
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
