Connect with us

Otomotif

Kenapa Indonesia Pakai Setir Kanan? Ini Sejarah dan Alasannya

Pernahkah Anda terpikir mengapa kita di Indonesia menyetir mobil di sisi kanan dan melaju di lajur kiri?

Logompn

Published

on

Kenapa Indonesia Pakai Setir Kanan Ini Sejarah dan Alasannya
Kenapa Indonesia Pakai Setir Kanan? Ini Sejarah dan Alasannya. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 26 April 2026 - Pernahkah Anda terpikir mengapa kita di Indonesia menyetir mobil di sisi kanan dan melaju di lajur kiri?

Padahal, kalau kita melihat film-film Hollywood atau berkunjung ke Amerika, para pengemudinya duduk di sebelah kiri dan melaju di sisi kanan jalan.

Perbedaan posisi setir ini ternyata bukan sekadar masalah teknis atau kenyamanan semata.

Ada kisah sejarah panjang yang melibatkan kolonialisme hingga pengaruh negara tetangga di baliknya.

Warisan Zaman Feodalisme Inggris

Dikutip MPN Indonesia dari World Standards, sejarah setir kanan dan berjalan di lajur kiri dimulai dari masa feodalisme Inggris.

Kala itu, alat transportasi utama adalah kuda dan orang-orang terbiasa membawa pedang ke mana pun mereka pergi.

Ada alasan praktis mengapa para pejuang di masa itu memilih melaju di sisi kiri jalan, di antaranya:

  • Keamanan: Sebagian besar orang menggunakan tangan kanan untuk memegang pedang. Dengan berjalan di sisi kiri, mereka lebih mudah mencabut pedang dan menyerang lawan yang mendekat dari arah berlawanan.
  • Menghindari Gesekan: Sarung pedang biasanya menggantung di pinggang sebelah kiri. Berjalan di sisi kiri jalan mencegah sarung pedang tersebut menabrak milik orang lain yang berpapasan.
  • Kemudahan Naik Kuda: Orang yang tidak kidal lebih mudah naik ke punggung kuda dari sebelah kiri. Hal ini akan sangat sulit dilakukan dari sebelah kanan jika ada sarung pedang di pinggang kiri mereka.

Mengapa Indonesia Mengikutinya?

Meski Inggris yang mempopulerkan sistem ini, pengaruh awal di Indonesia justru datang dari Belanda yang pernah menjajah Indonesia.

Saat pertama kali datang ke Indonesia, bangsa Belanda menganut sistem lajur kiri. Namun negara itu akhirnya berubah haluan.

Baca Juga:  Kia Mulai Produksi Mobil Listrik EV2, Ini Bocorannya

Saat Napoleon Bonaparte menaklukkan Belanda, ia mewajibkan aturan berjalan di sisi kanan jalan dan setir kiri di wilayah kekuasaannya.

Namun, perubahan aturan di tanah kelahiran Belanda tersebut tidak serta-merta diikuti oleh wilayah jajahannya.

Indonesia tetap setia dengan sistem setir kanan dan lajur kiri, sama seperti Suriname.

Selain itu, faktor integrasi regional juga memperkuat posisi ini. Negara-negara tetangga kita seperti Malaysia, Singapura, dan India sejak awal sudah menerapkan sistem setir kanan.

Hal ini memudahkan mobilitas dan perdagangan antarwilayah di kawasan Asia Tenggara.

Konsistensi RI

Setelah merdeka, Indonesia memilih untuk mempertahankan sistem ini sebagai standar nasional.

Mengapa tidak ikut berubah seperti Amerika Serikat yang sengaja beralih ke setir kiri untuk lepas dari pengaruh Inggris?

Jawabannya adalah efisiensi. Mengubah sistem lalu lintas nasional bukan perkara mudah.

Dibutuhkan biaya fantastis dan waktu yang lama untuk merombak total infrastruktur jalan, posisi rambu, hingga mengubah perilaku jutaan pengendara.

Selain itu, industri otomotif kita sudah sangat mapan dengan sistem ini. Mayoritas kendaraan yang masuk ke pasar Indonesia berasal dari negara-negara yang juga menggunakan setir kanan, seperti Jepang, Thailand, dan Australia.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending