Connect with us

Internasional

Kesepakatan Damai Iran-AS Segera Tercapai, Selat Hormuz Berpotensi Dibuka

Negosiasi Iran-Amerika Serikat yang dimediasi Pakistan memasuki tahap akhir, tetapi sejumlah detail kesepakatan belum final.

Logompn

Published

on

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei. Gambar: Yeni Safak

MPN Indonesia 14 Juni 2026 - Iran dan Amerika Serikat (AS) memberi sinyal kuat bahwa kesepakatan damai akan segera tercapai, Sabtu (13/6).

Negosiasi yang dimediasi Pakistan tersebut mencakup penghentian permusuhan, pembukaan kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas maritim, serta pembahasan lanjutan mengenai program nuklir Iran.

Pejabat dari kedua pihak menyatakan sebagian besar isi kesepakatan telah disepakati dan kini memasuki tahap finalisasi sebelum penandatanganan dalam beberapa hari ke depan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan bahwa proses negosiasi telah mencapai tahap akhir peninjauan internal dengan sebagian besar isu telah disepakati bersama Amerika Serikat.

“Saat ini, kesepahaman telah tercapai pada sebagian besar isu, dan kami berada di tahap akhir peninjauan internal,” ujarnya, dikutip MPN Indonesia melalui Yeni Safak pada Minggu (13/6).

Pernyataan tersebut menegaskan posisi Teheran yang tengah menyelesaikan proses internal sebelum menyepakati dokumen akhir dengan AS.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menegaskan bahwa kesepakatan tersebut hampir rampung dan menyebut situasi saat ini sebagai momentum paling dekat menuju perdamaian.

“Nota Kesepahaman Islamabad semakin dekat dengan penyelesaiannya,” tulisnya, dikutip MPN Indonesia melalui akun X @araghchi.

Ia juga meminta publik dan media untuk tidak berspekulasi hingga proses resmi selesai.

Proses Negosiasi dan Isi Kesepakatan

Negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat berlangsung intensif dalam beberapa pekan terakhir dengan melibatkan berbagai lembaga terkait dari kedua negara.

Baghaei menjelaskan bahwa pertemuan internal di Teheran terus dilakukan guna menentukan posisi akhir sebelum persetujuan resmi diberikan.

Ia juga menuding pihak AS sempat memperlambat proses dengan perubahan sikap dan tuntutan baru dalam pembahasan.

Baca Juga:  Jaga-Jaga Diserang Israel, Presiden Iran Tegaskan Siap jika Harus Perang Lagi

Dari sisi Amerika Serikat, seorang pejabat senior menyebut bahwa teks kesepakatan awal telah disepakati dan penandatanganan dapat dilakukan dalam waktu dekat.

Ia mengatakan bahwa kesepakatan tersebut menempatkan negosiasi pada posisi yang sangat, sangat baik.

Presiden Donald Trump juga mengisyaratkan hal serupa dengan menyebut adanya kesepakatan hebat yang kemungkinan segera ditandatangani.

Kesepakatan tersebut mencakup beberapa poin utama, antara lain pencabutan blokade ekonomi oleh AS terhadap Iran, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta pelepasan aset Iran yang dibekukan.

Sebagai imbalannya, Iran akan membuka jalur pelayaran strategis tersebut yang sebelumnya ditutup akibat konflik.

Selain itu, pembahasan terkait program nuklir Iran akan dilanjutkan dalam periode negosiasi lanjutan selama 60 hari.

Araghchi menegaskan bahwa pembukaan Selat Hormuz akan dilakukan segera setelah kesepakatan disahkan.

Sementara itu, pejabat AS menekankan bahwa manfaat ekonomi bagi Iran akan bergantung pada kepatuhan terhadap isi perjanjian.

“Uang mereka tidak akan dicairkan sampai mereka memenuhi kewajibannya. Selat Hormuz akan dibuka. Iran tidak akan mendanai kelompok teroris,” bunyi pernyataan tersebut.

Posisi Para Pihak dan Dampak Kesepakatan

Dalam perkembangan terbaru, kedua pihak tetap menunjukkan perbedaan dalam beberapa detail kesepakatan, terutama terkait program nuklir Iran.

Araghchi menyatakan bahwa negaranya tidak akan membongkar program nuklir sepenuhnya dan lebih memilih pendekatan pengurangan kadar uranium.

“Bagi Teheran, satu-satunya solusi yang disukai untuk persediaan uranium yang sangat diperkaya adalah dengan mengurangi kadar uranium tersebut,” ujarnya.

Selain itu, terdapat pula perbedaan pandangan terkait beberapa poin lain yang dilaporkan dalam draf kesepakatan, termasuk kemungkinan ganti rugi perang dan pembatasan program rudal.

Pejabat Amerika Serikat membantah sejumlah laporan tersebut dan menegaskan bahwa isi kesepakatan harus berbasis kepatuhan.

Baca Juga:  AS Kerahkan Kapal Induk ke Timur Tengah usai Rudal Iran Kenai Kedubes di Israel

Israel, yang terlibat dalam serangan awal terhadap Iran, tidak menjadi bagian dalam negosiasi damai ini.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa negaranya tidak akan menjadi pihak dalam perjanjian tersebut, sementara pejabat Israel menegaskan akan tetap mempertahankan kebebasan bertindak di kawasan.

Meski demikian, sinyal positif dari kedua pihak menunjukkan bahwa konflik Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat berpotensi mereda dalam waktu dekat, seiring dengan finalisasi kesepakatan damai yang kini berada di tahap akhir.

(ADN/NID/RAD)

Trending