Connect with us

Lifestyle

Mau Hidup Tentram? Ini Tips Mencegah Anak Supaya Gak Tantrum

Jennifer Coppen menerapkan pola tanpa gula tambahan dan real food untuk Kamari. Simak tips agar anak tidak mudah tantrum.

Logompn

Published

on

Mau Hidup Tentram Ini Tips Mencegah Anak Supaya Gak Tantrum
Mau Hidup Tentram? Ini Tips Mencegah Anak Supaya Gak Tantrum. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 18 Juni 2026 - Tantrum, terutama pada usia balita usia 1–4 tahun, menjadi salah satu tantangan yang sering dihadapi orang tua dalam proses tumbuh kembang anak.

Tantrum merupakan bentuk ledakan emosi yang ditunjukkan anak melalui menangis, melempar barang, atau menendang, yang umumnya dipicu oleh rasa frustrasi, marah, atau ketidaknyamanan.

Kondisi ini terjadi karena kemampuan komunikasi balita belum berkembang optimal sehingga mereka kesulitan mengekspresikan perasaan.

Tips Jennifer Coppen agar Anak Tidak Mudah Tantrum

Kemampuan anak dalam mengelola emosi sering menjadi perhatian orang tua.

Salah satu contoh yang menarik yang tengah menjadi perbincangan hangat publik adalah Kamari, anak Jennifer Coppen, yang terlihat tenang dan nyaman selama acara pernikahan orang tuanya.

Di tengah suasana ramai, Kamari terlihat mengikuti prosesi tanpa menunjukkan tanda tantrum.

Hal ini memicu perhatian mengenai faktor yang dapat membantu anak lebih tenang dan stabil secara emosional.

Ahli Gizi Syifa Nur Aziza menjelaskan terdapat dua hal yang diterapkan Jennifer Coppen kepada Kamari, yaitu:

1. Mematasi Gula Tambahan Sebelum Usia 2 Tahun

Syifa menyebut Jennifer menerapkan pola tanpa gula tambahan untuk Kamari sebelum usia 2 tahun.

Menurutnya, salah satu faktor yang dapat memengaruhi kestabilan emosi anak adalah kebiasaan konsumsi gula dan jenis makanan yang diberikan sejak dini.

Baca Juga:  Joget Bareng hingga Goda Cucu, Momen Lucu Bunda Corla dan Yaya Jadi Sorotan

“Anak kecil yang keseringan mengonsumsi gula buatan rentan mengalami lonjakan energi instan (sugar rush) yang disusul oleh fase sugar crash (lemas drastis),” tulisnya, dikutip MPN Indonesia melalui akun Instagram @syifaanuraz pada Kamis (18/6).

“Siklus ini memicu fluktuasi emosi yang bikin balita gampang tantrum, super reaktif, dan susah fokus,” lanjutnya.

2. Mengutamakan Makanan Asli atau Real Food

Selain membatasi gula, Kamari juga dibiasakan mengonsumsi makanan asli atau real food.

Makanan utuh dinilai lebih baik dibanding makanan instan kemasan karena dapat membantu menjaga kesehatan pencernaan.

Kondisi usus yang sehat berperan dalam mendukung suasana hati anak agar lebih tenang dan mudah diarahkan.

Tips Mencegah Anak Tidak Mudah Tantrum

Selain tips dari Jennifer Coppen, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan orang tua saat menghadapi anak tantrum, dikutip MPN Indonesia melalui laman Hand in Hand Parenting.

Kenali Penyebab Tantrum Anak

Langkah pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah mengenali pemicu tantrum pada anak.

Tantrum tidak selalu muncul tanpa sebab. Anak bisa tantrum karena lapar, mengantuk, lelah, terlalu banyak stimulasi, merasa tidak diperhatikan, atau kesulitan menyampaikan keinginannya.

Dengan memahami pemicunya, orang tua dapat mencegah tantrum sebelum emosi anak semakin memuncak.

Misalnya, memastikan anak cukup tidur, makan tepat waktu, dan tidak berada terlalu lama dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman.

Validasi Perasaan Anak

Saat anak tantrum, orang tua perlu membantu anak memahami bahwa semua perasaan boleh dirasakan.

Sedih, marah, kecewa, dan takut adalah emosi yang sama validnya dengan bahagia atau senang.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung melarang anak menangis atau memintanya berhenti marah.

Bantu Anak Mengenali Emosinya

Tantrum bisa menjadi momen bagi anak untuk belajar mengenali apa yang sedang ia rasakan.

Baca Juga:  Momen Jennifer Coppen Dilamar Justin Hubner, Langsung Disaksikan oleh Kamari

Orang tua dapat membantu anak memberi nama pada emosinya, seperti marah, sedih, kecewa, takut, atau lelah.

Anak juga bisa diajak memahami bagaimana emosi itu terasa di tubuhnya, misalnya dada terasa sesak, tangan ingin memukul, atau ingin menangis.

Kemampuan mengenali emosi ini penting agar anak perlahan belajar mengatur responsnya.

Tetap Tenang dan Dekat dengan Anak

Saat anak tantrum, orang tua sebaiknya berusaha tetap tenang dan berada di dekat anak.

Kehadiran orang tua yang tenang menunjukkan bahwa anak tidak sendirian dalam menghadapi emosinya.

Anak juga belajar bahwa orang tua tetap ada untuknya, baik saat ia sedang tenang maupun saat emosinya meledak.

Hal ini dapat membangun rasa aman dan memperkuat hubungan antara orang tua dan anak.

Tunjukkan Empati dan Penerimaan

Anak perlu merasa bahwa dirinya diterima, termasuk saat ia sedang marah atau sedih.

Orang tua dapat menunjukkan empati dengan mendengarkan tanpa langsung menghakimi.

Sikap ini membantu anak memahami bahwa emosi bukan sesuatu yang harus ditakuti atau disembunyikan.

Ketika anak terbiasa diperlakukan dengan empati, ia juga akan belajar memperlakukan dirinya sendiri dan orang lain dengan cara yang sama.

Ajarkan Anak Cara Menenangkan Diri

Setelah emosi anak mulai mereda, orang tua dapat mengajarkan cara sederhana untuk menenangkan diri.

Misalnya, menarik napas pelan-pelan, memeluk boneka, minum air, duduk sebentar, atau mengatakan apa yang ia rasakan dengan kata-kata.

Latihan ini membantu anak belajar bahwa emosi bisa dikelola, bukan harus selalu diluapkan dengan berteriak, menangis keras, atau melempar barang.

Bangun Ketahanan Emosi Anak

Ketika orang tua tetap sabar dan tenang saat anak tantrum, anak belajar bahwa emosi tidak akan berlangsung selamanya.

Baca Juga:  Terekam Video, Balita di Gresik Tewas Tertimpa Alat Olahraga Fasilitas Umum

Ia akan memahami bahwa rasa marah, kecewa, atau sedih bisa datang, tetapi juga bisa berlalu. Pengalaman ini membantu membangun ketahanan emosi anak.

Anak yang terbiasa didampingi dengan empati akan lebih siap menghadapi rasa tidak nyaman dan lebih mampu bangkit setelah mengalami emosi yang berat.

Dengan validasi, empati, dan pendampingan yang tenang, tantrum tidak hanya menjadi ledakan emosi, tetapi juga kesempatan bagi anak untuk belajar mengelola perasaannya dengan lebih baik.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending