Connect with us

Otomotif

12+ Kekurangan dan Kelebihan Mobil Listrik, Wajib Tau sebelum Beli!

Mobil listrik makin diminati di Indonesia. Ketahui plus minus EV sebelum membeli agar sesuai kebutuhan mobilitas harian.

Logompn

Published

on

12+ Kekurangan dan Kelebihan Mobil Listrik, Wajib Tau sebelum Beli!
12+ Kekurangan dan Kelebihan Mobil Listrik, Wajib Tau sebelum Beli! Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 30 Juni 2026 - Tren pembelian kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.

GAIKINDO mencatat penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) di Indonesia pada kuartal I-2026 melonjak 95,9 persen menjadi 33.150 unit.

Kontribusi pasarnya juga naik dari 8,2 persen menjadi 15,9 persen, menandakan adopsi kendaraan listrik semakin pesat.

Peningkatan ini didorong oleh berbagai inisiatif pemerintah dalam mempromosikan energi bersih serta hadirnya beragam model teknologi mutakhir dari produsen otomotif dengan harga yang kian kompetitif.

Meski popularitasnya melejit, calon konsumen diingatkan untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan pembelian.

Pemahaman yang komprehensif mengenai keunggulan teknis maupun tantangan operasional mobil listrik di Indonesia sangat krusial agar konsumen tidak salah memilih kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan mobilitas harian mereka.

Berikut adalah ulasan mendalam mengenai kelebihan dan kekurangan mobil listrik yang wajib Anda ketahui sebelum datang ke dealer.

Kelebihan Mobil Listrik

1. Ramah Lingkungan dan Bebas Emisi Knalpot

Mobil listrik tidak memproduksi emisi gas buang melalui knalpot (zero tailpipe emissions).

Baca Juga:  6 Tanda Busi Mobil Harus Diganti

Keunggulan ini berkontribusi signifikan dalam mengurangi tingkat polusi udara serta memperbaiki kualitas udara, terutama di kawasan perkotaan yang padat penduduk.

Bahkan, tingkat emisi totalnya dinilai 50% lebih rendah per 10 kilometer dibandingkan kendaraan konvensional.

2. Efisiensi Energi yang Tinggi

Kendaraan listrik terbukti jauh lebih efisien dalam mengolah energi.

Sistem penggerak mobil listrik mampu mengonversi sekitar 80% hingga 90% energi listrik menjadi energi mekanik untuk menggerakkan roda.

Angka ini jauh mengungguli mobil konvensional yang hanya mampu mengubah kurang dari sepertiga (atau sekitar 30%) bahan bakar fosil menjadi tenaga penggerak.

3. Hemat Biaya Pengisian Daya (Bahan Bakar)

Mengisi daya baterai mobil listrik jauh lebih murah daripada membeli Bahan Bakar Minyak (BBM).

Dikutip MPN Indonesia dari laman resmi Astra, sebagai ilustrasi, pengisian daya baterai untuk menempuh jarak sekitar 350 km hanya membutuhkan biaya berkisar antara Rp130.000 hingga Rp150.000.

Sementara itu, mobil konvensional memerlukan dana setidaknya Rp500.000 untuk menjelajahi jarak geografis yang sama.

4. Kemudahan Pengisian Daya di Rumah

Pemilik mobil listrik tidak perlu mengantre di stasiun pengisian umum untuk kebutuhan harian.

Proses pengisian energi baterai dapat dilakukan secara fleksibel di rumah, misalnya dengan memanfaatkan waktu istirahat atau dilakukan dalam semalam.

5. Biaya Perawatan Lebih Murah dan Praktis

Mekanikal mobil listrik jauh lebih sederhana karena memiliki komponen bergerak (moving parts) yang lebih sedikit serta tidak memerlukan penggantian oli mesin secara berkala.

Perawatan rutin umumnya hanya berfokus pada komponen habis pakai (fast-moving) seperti kampas rem demi menjaga aspek keselamatan.

6. Performa Responsif dan Torsi Instan

Karakteristik utama motor listrik adalah kemampuannya menyalurkan torsi secara instan begitu pedal akselerasi ditekan.

Baca Juga:  IIMS 2026 jadi Ajang Peluncuran Produk Baru dari Berbagai Brand dan Aftermarket

Hal ini membuat akselerasi mobil terasa lincah, cekatan, dan sangat responsif, terutama dalam kondisi lalu lintas yang dinamis atau macet (stop-and-go).

7. Mesin Halus dan Minim Kebisingan

Selain unggul dalam aspek respons tenaga, operasional mesin mobil listrik bergerak secara halus dan tidak berisik.

Keheningan kabin ini meningkatkan kenyamanan berkendara dibandingkan mobil bermesin bakar yang cenderung menghasilkan getaran dan suara bising.

8. Bebas Aturan Ganjil Genap di Jakarta

Bagi pengguna jalan di DKI Jakarta, mobil listrik menawarkan privilese berupa pembebasan penuh dari aturan pembatasan lalu lintas ganjil genap.

Regulasi ini telah berkekuatan hukum tetap melalui Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 88 Tahun 2019 serta perubahan atas Peraturan Gubernur No. 155 Tahun 2018.

9. Tarif Pajak yang Rendah

Pemerintah memberikan stimulus berupa keringanan pajak daerah yang sangat atraktif bagi pemilik EV.

Di wilayah DKI Jakarta, kendaraan listrik berbasis baterai mendapatkan fasilitas pembebasan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB).

Kekurangan Mobil Listrik

1. Jangkauan Tempuh Masih Terbatas

Faktor range anxiety atau kecemasan akan jarak tempuh masih membayangi pengguna.

Mobil listrik yang beredar memiliki jangkauan berkisar 150 km hingga 500 km dalam sekali pengisian penuh.

Kapasitas operasional ini masih berada di bawah performa mobil konvensional yang sanggup menempuh jarak hingga 800 km saat tangki bahan bakar terisi penuh.

2. Durasi Pengisian Baterai Relatif Lama

Berbeda dengan pengisian bensin yang hanya memakan waktu 10 hingga 15 menit, pengisian daya baterai membutuhkan manajemen waktu yang ketat.

Menggunakan pengisi daya dinding (wall charger) standar di rumah memerlukan durasi sekitar 5 hingga 8 jam.

Baca Juga:  Menyesal Andalkan AI, Ford Rekrut Lagi Ratusan Karyawan

Bahkan, stasiun pengisian cepat (fast charging) masih membutuhkan durasi sekitar 30 menit hingga 2 jam untuk menyuplai daya hingga kapasitas 80%.

3. Infrastruktur Pengisian Umum (SPKLU) Belum Merata

Ketersediaan stasiun pengisian daya publik di Indonesia masih tergolong terbatas.

Hingga Oktober 2025, tercatat baru ada 4.400 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di seluruh Indonesia, baik yang dikelola PLN maupun swasta.

Jumlah ini terpaut jauh jika dibandingkan dengan sektor hilir migas yang memiliki 15.917 unit SPBU per September 2025.

4. Harga Beli Baru yang Cenderung Tinggi

Secara agregat, harga pasar mobil listrik di Indonesia dinilai masih mahal bagi mayoritas konsumen luas.

Varian paling ekonomis dipasarkan pada rentang Rp150 juta hingga Rp200 juta, di mana porsi tersebut umumnya menyasar segmen komersial.

Sementara model populer seperti Hyundai Kona dipatok mulai dari Rp600 jutaan.

5. Biaya Penggantian Baterai yang Mahal

Baterai merupakan komponen tunggal paling krusial sekaligus termahal pada struktur mobil listrik.

Walaupun pabrikan membekali jaminan garansi yang panjang, rata-rata hingga 8 tahun atau 160.000 km, penurunan performa baterai seiring usia pakai tidak dapat dihindari.

Sebagai gambaran finansial, harga komponen baterai pengganti untuk unit seperti Hyundai Ioniq 5 berkisar antara Rp300 juta hingga Rp400 juta.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending